Cerita Penyandang Tunanetra Terima Vaksin Covid-19 dan Kendala KTP

Bernardus-Bulu-Lede-penyandang-tunanetra-menerima-vaksin-covid-19-di-kota-kupang-NTT-Jumat-14-Agustus-2021-Ra-Katongntt.com

Bernardus-Bulu-Lede-penyandang-tunanetra-menerima-vaksin-covid-19-di-kota-kupang-NTT-Jumat-14-Agustus-2021-Ra-Katongntt.com

Bernardus Bulu Lede mengungkapkan isi hatinya sebagai penyandang tunanetra saat menerima vaksin Covid-19. Bernardus bekerja sebagai penjual jagung goreng di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk menghidupi keluarganya dan biaya sekolah anak-anaknya.

Dia datang ke gedung Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi NTT pada 14 Agustus lalu bersama sang istri, Orpha Lassa. Bernadus tiba dengan masker kain merah yang lebar dan tak dia lepaskan sedetikpun.

Penyandang tunanetra ini tanggap dengan seluruh instruksi yang disampaikan petugas mulai dari pendataan hingga beristirahat sejenak usai divaksin. Kesempatan mendapatkan dosis pertama ia selesaikan dengan lancar siang itu.

Bernardus menuturkan, dia mengetahui vaksinasi yang digelar Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi atau Garamin NTT dari temannya.

Dia sebenarnya sudah lama menginginkan divaksin terutama karena perlu menjaga diri saat berjualan jagung goreng.

“Demi keselamatan kita juga. Jadi saya dengan senang hati datang dengan istri juga,” ungkapnya kepada KatongNTT.

Penjaja jagung goreng ini dijemput oleh panitia ke lokasi vaksinasi tahap pertama.Identitas diri seperti KTP disiapkan istrinya.

Usai divaksin, Bernardus diberitahu akan kembali menjalani vaksin Covid-19 tahap dua pada 14 September 2021.

Saat beristirahat usai divaksin, Bernardus menuturkan tentang pahitnya hidup di tengah pandemi Covid-19. Dia menyambung hidup belakangan ini guna membeli pulsa internet untuk sekolah anaknya, belum lagi untuk memenuhi meja makan dengan lauk pauk.

“Saya biasanya bawa jagung goreng ke kios-kios. Ya bisnis jagung kecilan untuk hidup hari-hari apalagi anak sekolah tuntutan pulsa data, setiap hari,” kata dia.

Bernardus biasanya membeli 50 kilogram jagung untuk diolah kembali. Harga jagung Rp. 5 ribu per kilogram di pedagang langganannya. Namun sejak Covid-19 menyerang Kota Kupang, dia sering membeli 10 hingga 30 kilogram jagung saja. “Sepi pembeli,” ujarnya.

Istrinya membantu Bernardus dengan mengolah bahan menjadi jagung goreng. Kemudian dikemas dalam bungkusan kecil seharga Rp. 1.000.

Bernardus berjalan menjajakan jagung gorengn di wilayah Oesapa hingga Lasiana.

Pasangan suami istri ini bersama dua anak mereka tinggal di Kelurahan Lasiana, RT 12, RW 03. Ia bertanggungjawab memasok jualan ke kios-kios di area itu.

Namun pandemi Covid-19 membuat dagangannya sulit laku. Pembeli yang rata-rata adalah anak-anak dan mahasiswa kebanyakan pulang ke daerah asal atau sudah jarang jajan.

“Setengah mati kita jadinya,” ujar Bernardus.

Saat keluar rumah senjata yang dia andalkan adalah masker demi menangkal virus menakutkan yang didengarnya selama ini. Masker juga telah menjaga pernapasannya terhindar dari debu dan polusi di jalanan.

“Karena kita sudah umur juga, angin begini lagi, debu, yang asap-asap kendaraan itu kita susah apalagi ada virus ini kita berjumpa orang-orang,” ujarnya.

Bernardus yang sejak kecil sebagai penyandang tunanetra tidak membenarkan alasan orang yang mengalami kekurangan fisik untuk mengemis perhatian orang.

“Kita adalah sesama manusia. Tidak mengemis tetapi berusaha dan apa yang menjadi kebutuhan kita yang tidak bisa jangkau ya kita coba buka diri ke orang sehingga mungkin ada yang bisa membantu kita,” tutur Bernardus.

Dia mencontohkan anaknya yang berupaya sekolah hingga ke perguruan tinggi dengan keterbatasan ekonomi keluarga. Anak perempuan sulungnya bernama Intan sukses menjadi mahasiswa semester lima di Politeknik Negeri Kupang.

Intan mendapatkan beasiswa dan berprestasi sejak tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Anak keduanya, Matheus masih bersekolah di SMK 2 Negeri Kupang kelas akhir.

Kepada anaknya, Bernardus mengajarkan kegigihan berusaha dan mencari solusi atas masalah yang dihadapi di masyarakat dan lingkungan belajar.

“Saya tidak minta makanan. Saya mengemis ilmu untuk saya punya anak-anak karena saya sudah tidak sekolah, terbatas, tapi anak-anak harus sekolah,” pungkas Bernardus.

Saat vaksinasi digelar untuk para penyandang disabilitas di Kota Kupang pada Jumat pekan lalu, ditemukan kendala tentang persyaratan KTP.

Sejumlah penyandang disabilitas tidak memiliki KTP yang menjadi persyaratan untuk menerima vaksin Covid-19.

“Kita akhirnya memperjuangkan juga teman-teman difabel yang tidak punya NIK (Nomor Induk Keluarga), KK (Kartu Keluarga). Jadi cukup sulit. Kita harus koordinasi dengan Dinas Kesehatan,” kata Elmi Sumarni Ismau, Wakil Direktur Garamin NTT kepada KatongNTT.

Persoalan ketiadaan KTP teratasi. Bagi peserta yang tidak memiliki KTP diupayakan memiliki keterangan selain sertifikat vaksin sebagai bukti telah mengikuti vaksinasi.

“Kami melobi dengan Polresta Kupang dan dinas kesehatan yaitu melalui Puskesmas Pasir Panjang, jadi mereka boleh diikutsertakan dan bukan mendapatkan sertifikat tetapi surat keterangan dari puskesmas bahwa sudah divaksin,” ujar Elmi.

Tidak hanya masalah KTP dan Kartu Keluarga, tetapi penyandang disabilitas menemui kesulitan untuk mendaftarkan diri mengikuti vaksinasi. Pendaftaran melalui pengisian formulir ini membutuhkan pendampingan khusus.

Informasi mengenai lokasi dan kapan pelaksanaan vaksinasi pun banyak yang tidak sampai ke penyandang disabilitas di Kota Kupang. Belum semua difabel juga divaksin karena kendala seperti penyakit bawaan lainnya.

“Persoalan ketiadaan KTP penyandang disabilitas sudah lama terjadi, tidak hanya di Kota Kupang tetapi juga di Kabupaten Kupang,” pungkas Elmi saat dihubungi KatongNTT pada Sabtu, 21 Agustus 2021. (Ra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *