Jakarta – Pengembangan budi daya udang di Waingapu, Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan dibagi dalam tiga zona yang terintegrasi. Proyek skala besar tersebut perlu melibatkan investor swasta agar berkelanjutan dan menopang ekonomi lokal.
Informasi yang diperoleh KatongNTT.com, Minggu (6/8/2023), menyebutkan kawasan udang terintegrasi itu dibagi dalam tiga zona. Adapun tiga zona tersebut adalah zona hulu terdiri yang terdiri dari hatchery dan pabrik pakan, kemudian zona on farm untuk produksi, lalu zona hilir yang mendukung proses pengolahan.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dikabarkan terus mendorong agar proses pembangunan budi daya udang tersebut terus berjalan. Pada Juni lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan kegiatan diatas lahan seluas 1.800 hektare (ha) itu sudah memasuki proses tender.
“Jadi rencananya adalah Waingapu ini akan kami buat dalam tahun ini juga kami mulai,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono saat ditemui di Kebumen, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Baca : Minta Tambah APBN, Tambak Udang Sumba Timur yang Disinggung Jokowi Tersendat?
Pemilihan Desa Palakahembi, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur sebagai lokasi proyek karena berdasarkan audit tim KKP didapati kandungan air yang bagus untuk budidaya. Selain itu, jauh dari permukiman dan industri sehingga udang dapat berkembang baik dan optimal.
Sebelumnya Presiden Joko Widodo mengatakan, setelah proyek percontohan tambak budidaya udang berbasis kawasan (BUBK) di Kebumen, Jawa Tengah, diresmikan, selanjutnya model atau desain ini akan diterapkan di Kota Waingapu, Nusa Tenggara Timur.
“Sebentar lagi kita akan mulai 1.800 hektare di Waingapu, NTT. Desain perencanaan sudah selesai dan ini (tambak BUBK Kebumen) di-copy dibuat di sana,” ujar Jokowi pada Maret lalu.
Baca : Warga Segera Dapat Ganti Rugi Lahan Tambak Udang di Sumba Timur
Selain meningkatkan produksi, pemerintah juga terus mendorong ekspor udang untuk menghasilkan devisa. Hal ini terus dikumandangkan oleh sejumlah jajaran pemerintah saat ini dan diharapkan tambak Sumba Timur bisa menopang target tersebut.
Wakil Presiden Ma’ruf Amin juga meminta peluang peningkatan pangsa pasar udang dioptimalkan agar target ekspor komoditas udang 4,3 miliar dolar AS (sekitar Rp 65 triliun) tahun 2024 tercapai.
“Peluang besar peningkatan pangsa pasar dalam industri ini sepatutnya mampu kita optimalkan,” kata Wapres dalam sambutannya pada acara panen perdana udang vaname di Kebumen, Jawa Tengah, akhir Juni lalu.
Wapres menyampaikan Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga terbesar dalam ekspor udang global setelah Ekuador dan India. Namun, pangsa pasar udang Indonesia masih cukup kecil yaitu sekitar 6 persen.
“Budi daya udang menawarkan nilai ekonomi yang potensial. Ekspor udang selama kurun waktu Januari sampai dengan April 2023 misalnya, telah berkontribusi signifikan dengan porsi 32,5 persen dari total ekspor produk perikanan Indonesia,” katanya. [Anto]




