Kupang – Pemilik kafe dan nelayan di pesisir Pantai Warna Oesapa, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur merugi puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Kerugian ini disebabkan terjangan gelombang pasang Bibit Siklon Tropis 98S.
Menurut para pedagang dan nelayan, gelombang pasang laut naik mencapai 4 meter pada Senin siang, 10 April 2023. Gelombang yang naik dari pukul 11.00 hingga 12.00 WITA ini merusak usaha yang mereka miliki. Keurgian ditaksir berkisar Rp 60 juta hingga Rp 300 juta.
“Baru kali ini yang parah. Biasanya itu Januari baru gelombang karena hujan lebat tapi ini kali yang parah sekali,” ujar pengelola Sunset Kafe, Yanto Nubatonis, saat ditemui lokasi.
Baca juga: BMKG Peringatkan Tinggi Gelombang Laut di NTT Hingga 2,5 Meter
Ia menuturkan sebagian properti dan barang lainnya sudah disimpan atau dijauhkan dari lokasi pantai sejak Minggu malam, 9 April 2023.
Yant0 mengaku telah menerima informasi dari pemerintah setempat adanya gelombang pasang atau banjir rob ini.
Sesuai informasi yang beredar, banjir rob ini terjadi dikarenakan aktivitas Bibit Siklon Tropis 98S yang bergerak dari Laut Arafura ke Laut Timor hingga ke wilayah Australia. Pergerakan 98S ini berlangsung dari 8 hingga 11 April 2023.
Yanto mengatakan setelah kondisi cuaca tenang kembali barulah pihaknya merenovasi kafe yang mereka jalankan itu.
“Pasti tambah pasir sekitar 3 truk, pembersihan lagi, renovasi kembali. Ini bisa Rp 60 juta kerugian. Tapi yang pastinya capek lagi untuk kerja,” papar dia.
Kafe J.20 milik Daniel Henuk juga rusak dan basah seluruhnya karena gelombang pasang. Material kayu dan sampah juga memenuhi area kafenya sepanjang 16 meter.
Baca juga: Nelayan Pesisir NTT Diabaikan, Dari Kekurangan Infrastruktur Hingga Kriminalisasi
Perahu nelayan di Pantai Warna Oesapa Kota Kupang, Provinsi NTT Rusak diterjang Gelombang Pasang pada Senin siang 10 April 2023 (Putra Bali Mula – KatongNTT.com)
“Memang di info yang kita lihat itu gelombang tinggi 2,5 meter. Malam itu belum ada gelombang tapi baru siang tadi jam jam 11 sampai jam 1 siang. Itu gelombang sampai 4 meter,” tukasnya.
Seluruh properti hingga barang-barang elektronik yang ada di kafenya itu basah kuyup. Bangunan menuju ruang masuk kafe itu amblas.
Seluruh material dari kafenya sendiri berbahan kayu dengan berbagai macam barang elektronik pendukung.
“Kerugian secara keseluruhan ini bisa sampai Rp 300 – 400 juta,” kata dia.
Ia mengakui sudah mendapatkan imbauan dari pemerintah terkait gelombang pasang atau banjir rob yang akan terjadi ini.
“Sudah kita antisipasi tapi tidak seperti apa yang kita bayangkan,” tukas Daniel.
Deretan kafe di Pantai Warna Oesapa selama ini memang dibangun di pesisir pantai.
Tobi Nggelan, salah satu nelayan mengaku sudah tidak melaut sejak diberitahukan akan terjadi gelombang tinggi akibat aktivitas sistem 98S.
Ia sudah mengikat perahu miliknya selama ini di tanggul di pesisir pantai untuk mengantisipasi gelombang tinggi tersebut.
Namun gelombang laut yang terjadi Senin siang lebih tinggi dari dugaannya. Ia lantas mendorong perahunya ke darat saat gelombang pasang mulai reda.
Gelombang tersebut membuat perahunya rusak. Baling-baling dan kemudi dari kapal kayunya hancur. Kerugian secara total belum bisa dipastikan karena kapalnya harus dibersihkan menyeluruh terlebih dahulu.

Baca juga: Potret NTT Luluh Lantak Diterjang Badai Seroja Setahun Lalu
“Kalau tadi tidak cepat kita tarik bisa hancur semua,” ungkap dia.
Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang sebelumnya merilis tentang gelombang tinggi 1,25 sampai 2,5 meter berpeluang terjadi di Perairan Utara Flores, Selat Sape Bagian Selatan, Selat Alor-Pantar, Selat Ombai. Juga dui Selat Sumba Bagian Timur, Selat Flores – Lamakera, juga Perairan Utara Kupang- Rote dan Selat Wetar.
Sedangkan tinggi gelombang 2.5 hingga 4.0 meter berpeluang terjadi di Selat Sumba Bagian Barat, Laut Sawu, Perairan Selatan Kupang – Rote, juga Samudera Hindia Selatan Kupang – Rote.
Untuk gelombang tinggi 4 meter hingga 5 meter berpeluang terjadi di Samudera Hindia Selatan Kupang – Rote.
“Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara dominan bergerak dari Barat Laut – Timur Laut dengan kecepatan angin berkisar 5 – 20 knot,” jelas Plt Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang, Agung Sudiono Abadi.
Di wilayah Indonesia bagian selatan, angin dominan bergerak dari barat daya barat laut dengan kecepatan angin berkisar 3 – 25 knot.
“Kecepatan angin tertinggi terpantau di Teluk Bone, Perairan Kepulauan Selayar, Perairan Wakatobi, Laut Flores dan Laut Banda,” ucap dia. (Putra Bali Mula)




