Ada Potensi Tsunami di NTT, Mitigasi Daerah Rawan Perlu Diperkuat

Kalak BPBD NTT, Ambrosius Kodo juga meminta kepada pemerintah daerah yang wilayahnya rawan gempa maupun tsunami untuk berperan aktif.

Ilustrasi tsunnami akibat gempa, perlu perkuat mitigasi (Unsplash.com-Todd Turner)

Ilustrasi tsunnami akibat gempa, perlu perkuat mitigasi (Unsplash.com-Todd Turner)

Kupang – Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi terjadi gempabumi dengan magnitude M 8,5 dan M 7, 4. Wilayah selatan Sumba dan utara Flores berpotensi menjadi pusat gempa.

Potensi gempa tersebut disampaikan oleh Koordinator Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono, pada Mei lalu.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Margiono meminta masyarakat tidak panik dan memperkuat mitigasi sejak dini. Upaya tersebut dapat berupa mitigasi struktural dan non struktural dengan membangun bangunan tahan gempa, melakukan tata ruang jalur evakuasi dari pantai sampai ke titik kumpul, serta membekali diri.

Baca juga : 264 Gempa Guncang NTT Selama November 2022, Terbanyak Terjadi di Laut

Margiono mengharapkan kerja sama antar masyarakat dengan saling mengedukasi tentang mitigasi bencana.

Kalak BPBD NTT, Ambrosius Kodo kepada KatongNTT, Kamis (1/12/2022) mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan rencana kontigensi gempa dan tsunami. Rencana kontingensi tersebut dibuat bersama dengan SIAP SIAGA. Menurutnya, rencana kontinjensi itu melibatkan semua stakeholder.

“Tahun depan kita mulai gladi simulasi mitigasi gempa bumi dan tsunami di daerah-daerah yang rawan,” ujar Ambrosius.

Baca juga : Badai Seroja Dorong Kaum Muda NTT Peduli Lingkungan

Ia juga meminta kepada pemerintah daerah yang wilayahnya rawan gempa maupun tsunami untuk berperan aktif. Menurutnya, pemerintah di tingkat Kabupaten juga perlu menyiapkan rencana kontinjensi dan melakukan simulasi.

Mitigasi ditingkat kabupaten, kata Ambrosius perlu diperkuat. Pemerintah perlu membangun komunikasi, menyebarluaskan informasi terkait cara-cara menyelamatkan diri saat terjadi bencana.

“Pemerintah Provinsi tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan dari kabupaten atau kota yang rawan terjadi bencana,” ujarnya.

Baca juga: Gerakan ‘Akar Rumput’ di NTT Melawan Perubahan Iklim

Ia mengatakan, simulasi bagi warga sangat dibutuhkan. Karena itu perlu juga dilakukan secara terus menerus sehingga masyarakat memahami apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana alam, termasuk gempa dan tsunami.*****

Baca juga: Masyarakat Diminta Bersiap Hadapi Kasus Covid-19 Meningkat dalam Dua Pekan Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *