Gokma Tampubolon Kembangkan Bisnis Madu “Big Bolon” dari Hutan Timor

Gokma Tampubulon, memperkenalkan produk Big Bolon, madu asli dari Hutan Timor (KatongNTT)

Kupang – Gokma Tampubolon, perempuan asal Medan yang kini memilih mengembangkan bisnis madu hutan Timor, di Nusa Tenggara Timur, sejak 2016.

Baginya, kualitas madu Timor baik sehingga dicari masyarakat luar NTT. Ini menjadi kesempatan baginya untuk membantu para petani madu yang belum punya akses untuk memasarkannya ke luar kota.

“Saat itu sebenarnya sedang mempersiapkan kelahiran di Medan. Dan ada teman-teman yang bilang mau madu hutan dari NTT. Karena tahu madu hutan dari NTT itu asli. Jadi saya dan suami tahu ada peluang yang bagus. Akhirnya kita coba cari stok madu di teman-teman yang kita kenal, dan kita coba kemas dan kita kirim ke kota Medan,” jelasnya.

Madu yang dikemas ulang ini diberi nama Big Bolon, paduan kata Bahasa Inggris dan Medan yang berarti besar.

“Kebetulan marga saya Tampubulon, dan suami saya Simbolon. Sama-sama ada kata Bolon. Dan dalam Bahasa Batak itu artinya Besar. Makanya kita menyebutnya Big Bolon, harapan kita usaha ini makin besar, bukan hanya banyak yang beli, tapi makin banyak juga variasinya. Itu harapan kita ke depan,” Kata Gokma.

Perempuan yang kini tinggal di So’e, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) itu mencoba mengemas secara layak madu Timor yang biasanya dijual hanya menggunakan botol bekas minuman mineral.

“Kita tahu banyak yang jualan di pasar-pasar pakai kemasan Aqua botol. Yang itu bekas dipakai. Kita tidak tahu itu steril atau tidak. Jadi kita mulai kemas dengan baik, jadi orang percaya ini bersih, ini murni,” ujar perempuan 33 tahun itu.

Madu yang dijual adalah jenis madu tetes. Madu dipanen, diletakkan di sebuah wadah, kemudian ditunggu madunya menetes. Sehingga menghasilkan madu yang lebih jernih.

“Ada dua jenis. Ada madu peras, jadi madunya diperas. Nah ini madu tetes. Karena kualitasnya lebih bagus. Lebih jernih. Kalau madu peras kadang lebahnya ikut dan tidak disaring lagi. Biasanya sebelum kami kemas kita saring ulang lagi tiga kali supaya benar-benar bersih,” jelas Gokma.

Madu Asli dari Hutan Timor yang dikemas ulang oleh Gokma dan suami sejak 2016 (KatongNTT)

Kini madu yang diambil ialah dari petani madu di gunung Mutis. Ia menjelaskan jika konsistensi madu ditentukan juga dari masa panennya.

“Jadi kalau misalnya di musim hujan, dia agak lebih cair, karena dia di hutan ya. Kalau musim kemarau dia agak kental sedikit,” kata ibu dua anak ini.

Aroma dan rasa madu hutan pun khas, mengikuti di pohon mana ia bersarang dengan bunga apa yang sedang mekar di hutan.

“Misalnya si lebahnya bikin sarang di pohon Ampupu, itu rasanya asam. Kalau lebahnya di pohon kayu putih, itu seperti ada rasa mint-mintnya. Jadi dia mengikuti bunga apa yang ia hisap. Dan sesuai dengan bunga apa yang sedang mekar saat itu di hutan,” ungkapnya.

Kualitas dengan rasa yang khas ini membuat Gokma tergerak untuk terus menjalankan bisnis ini. Ia menyebut, bukan untuk mengejar keuntungan yang besar, tapi untuk membantu para petani madu bisa maju, sukses, dan punya penghasilan yang tetap.

Namun sayangnya, para petani awalnya sulit untuk diajak kerja sama. Kerap kali Gokma dan suami mendapat petani yang curang, mencampur madu dengan gula. Sehingga menurunkan kualitas madunya.

Ia mengatakan, jika ada campuran gula, itu tidak akan larut di madu tersebut. Jadi dilihat gula itu akan tersaring dan bisa dirasa. Lalu masukan ke lemari pembeku, madu yang asli tidak akan beku, hanya berbentuk gel.

“Kami selalu mengevaluasi setiap madu yang datang kami selalu rasa, dan kalau memang ada kejanggalan, kami pulangkan. Ini gak murni nih, ini ada tambahan nih, itu kami pulangkan. Kami cek dulu baru kami lakukan pembayaran,” tegasnya agar bisa mempertahankan kualitas yang ada.

Atau petani menaikkan harga jual dari kesepakatan awal. Sehingga menurunkan daya jual masyarakat. Terlebih dari luar kota.

“Ini perbotolnya kami jual Rp60 ribu, 250 ml. Kenapa kami tidak jual mahal? Karena kami ingin memasarkannya lebih banyak. Memasarkannya ke luar kota. Keluar kota ongkirnya sudah mahal. Pas tanya harga Rp60 ribu, ok, mau. Tapi pas dihitung sama ongkir, langsung mundur,” sebut Gokma.


Hingga kini, madu Big Bolon telah dijual lewat reseller di Medan, Waingapu, kepulauan Riau, dan Jakarta.

Sedangkan di NTT, produk Big Bolon ini dapat ditemui di Dekranasda NTT. Meskipun awalnya sempat ditolak oleh ketua Dekranasda NTT, Julie Laiskodat. Dikarenakan Gokma dan suami bukan warga asli NTT.

Namun kemudian disetujui dan kini menjadi produk madu dengan penjualan terbaik di Dekranasda.

“Di Dekra bisa dapat pesanan dua kali sebulan. Di Dekra itu waktu kami ke sana, pelayannya bilang ini yang paling laris nih kalau madu di Dekra. Mereka tidak tahu kalau saya yang punya ini. Jadi saya bilang ini punya saya mereka kaget,” cerita Gokma dengan tawa.

Bagi Gokma, yang adalah tutor prodi PAUD di Universitas Terbuka (UT) Kupang ini, yang membuat produk Big Bolon ini laris ialah kualitas, rasa, dan kemasan yang menarik. Serta khasiatnya yang disebut para pelanggannya mampu meningkatkan imun tubuh.

Gokma menjelaskan label kemasan Big Bolon yang baru, setelah sebelumnya sudah tiga kali diganti. (KatongNTT)

Untuk kemasannya sendiri, Gokma sampai mengubah desain labelnya hingga empat kali. Sampai pada kemasan yang sekarang.

“Karena kita sendiri saat berbelanja, kita akan scanning, mana nih kemasan yang menarik. Kemasan yang menarik ini akan membuat orang ingin membelinya. Jadi kami ingin desain yang sederhana, tapi orang langsung tahu ini produk nya apa, orang teredukasi,” ujarnya.

Gokma menjelaskan, seterusnya ia dan suami akan terus menjalankan usaha ini. Guna membantu masyarakat NTT, terkhususnya petani madu untuk mencapai kesejahteraanya. Walau bukan di tanah kelahirannya, namun Gokma mengaku hati dan jiwanya sudah menyatu dengan NTT sejak 2010 lalu ditugaskan di NTT.

“Dulu penempatan kerja di kabupaten Alor, waktu itu belum menikah dengan suami saya, tapi kita sama-sama ditempatkan di Alor. Lalu pindah ke Waingapu, lalu ke Kota Kupang, dan kemudian sekarang tinggal di Soe. Jadi sebenarnya hati kita ini sudah di NTT.” ujarnya. *****

 

Silakan hubungi nomor +6285275797519 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *