Kupang – Beberapa petugas kebersihan bekerja cepat membersihkan sampah yang berserakan di dalam ruang Gedung Olah Raga (GOR) Flobamora di Oepoi, Kota Kupang, Kamis pagi, 20 April 2023. Beberapa petugas menyemprotkan air.
Bau anyir menyeruak dari lantai yang digunakan untuk pertandingan futsal yang berujung pada kericuhan berdarah pada Rabu malam, 19 April 2023. Tim KatongNTT.com menemukan percikan darah di lantai area pertandingan dan juga di pintu akses ke ruang VIP.
Daniel Gebu, Kepala UPDT sarana dan prasarana Olah Raga Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Timur duduk menundukkan kepalanya. Tangannya memegang telepon seluler. Dia duduk membelakangi pagar pembatas area penonton dan area pertandingan yang patah akibat kericuhan.
Baca juga: TNI – Polri Bentuk Tim Investigasi Usut Pengrusakan Fasilitas Polisi di Kupang
Wajah Daniel lesu. Dia tak menyangka pertandingan final Futsal antara tim Dinas Pendidikan Kabupaten Timor Tengah Selatan dan tim Ranaka Polda NTT berakhir rusuh.
“Ini darah dari mereka yang rusuh kemarin,” kata Daniel dengan suara pelan.
Dia menjelaskan, final sudah hampir berakhir. Posisi skor saat itu 5-5 untuk kedua tim. Jam saat itu mendekati jam 10 malam.

Daniel menjelaskan, situasi rusuh bukan dipicu oleh keributan antar suporter seperti umumnya sering terjadi dalam berbagai pertandingan. Berawal dari keributan antara suporter tim Ranaka Polda NTT dengan petugas keamanan pertandingan yakni Polisi Militer. Dalam rekaman ricuh di dalam ruang pertandingan yang viral di media sosial, jelas terlihat satu suporter dari tim Ranaka Polda NTT menendang punggung petugas PM.
Seorang suporter tim Ranaka Polda terjatuh ke area pertandingan. Lalu dia berusaha memanjat naik ke podium, dan petugas PM memberikan peringatan dan berujung cekcok mulut hingga terjadi penendangan tersebut.
Daniel menuturkan kepada KatongNTT.com, petugas keamanan dan penonton kemudian sepakat agar pertandingan dilanjutkan. Namun beberapa saat kemudian, staf GOR kaget menyaksikan segerombolan orang datang dan memaksa masuk ke dalam ruang pertandingan.
Baca juga: Kapolda NTT Benarkan ‘Teror’ di Rumah Jabatan Pasca Pengrusakan Fasilitas Polisi
Daniel yang dalam perjalanan dari rumahnya di Oesapa menuju GOR untuk menyaksikan penutupan pertandingan kaget menerima telepon dari stafnya.
“Pak, di GOR ada ribut besar. Pak, di sini ada kerusuhan besar,” kata Daniel mengutip penjelasan stafnya.
Stafnya yang selama pertandingan hadir di GOR untuk memantau pertandingan, ujar Daniel, dilarang masuk ruang pertandingan. Orang-orang dari luar ini merangsek langsung masuk ke dalam ruang pertandingan.
“Anak buah saya tidak dapat masuk ke dalam untuk memantau langsung apa yang terjadi di dalam. Mereka diluar hanya bisa memantau saja. Baru tahu setelah itu dari video yang viral,” ujarnya.
Setiba di lokasi, Daniel menyaksikan sepeda motor polisi hancur tepat di halaman depan ruang kerjanya. Pot-pot bunga di halaman depan GOR juga berserakan dan hancur. Di area itu dia melihat kehadiran pejabat dari Polda NTT, TNI dan Brimob.
“Saat saya tiba, Direktur Propam Polda NTT, Pak Dandim, Dansat Brimob hadir. Kami sama-sama di sini memulangkan anggota polisi yang ada di sini. Mereka diantar pulang,” paparnya.
Tim Dinas Pendidikan Kabupaten TTS juga sudah pulang.
“Mereka tidak ada masalah.Mereka pulang karena keributan ini bukan karena pertandingan,” tutur Daniel.
Menurutnya, sekitar jam 1 malam situasi di GOR sudah terkendali. Namun dia kaget menerima informasi di media sosial tentang kerusuhan terjadi di beberapa tempat di Kota Kupang.
Daniel bekerja untuk mengelola GOR sejak Agustus 2019. Dia belum pernah mengalami situasi seperti ini dalam sejumlah pertandingan yang diselenggarakan di GOR.

Kericuhan pada Rabu malam telah merusak pagar pembatas area penonton dan area pertandingan sepanjang sekitar 35 meter. Selain itu, pintu masuk juga rusak. Dia memperkirakan kerugiannya sekitar belasan juta rupiah. Dia pun telah menghubungi pihak panitia penyelenggara tentang kerusakan ini.
Baca juga: Buntut Ricuh Final Futsal, Fasilitas Polda NTT Dirusak
“Tadi malam kami sudah komunikasi dengan panitia dan mereka bersedia membayarnya,” ujarnya.
Dia kecewa dan terpukul dengan peristiwa rusuh di dalam GOR yang dibangun tahun 1970-an dan direnovasi pada 2017. Dia mengimbau masyarakat NTT untuk menjaga GOR sebagai aset NTT.
“Saya hanya mengimbau masyarakat, mari kita jaga gedung ini, GOR karena ini aset kita. Satu-satunya icon olahraga NTT ada di sini. GOR Flobamora yang kita cintai,” tandasnya.
Titus Rihi Ga, 57 tahun baru saja memarkirkan sepeda motornya pada Kamis siang, 20 April 2023. Motornya parkir tepat di seberang gerai Alfamart dekat Pos Polisi LLBK di Kota Kupang.
Dia kemudian menuturkan peristiwa yang tidak pernah dialaminya selama bekerja sebagai pengojek di kawasan itu kepada tim KatongNTT.com.
Menurut Titus, sekelompok orang dengan mengendarai sepeda motor datang dari arah Jalan Soekarno menemui dirinya. Saat itu sudah sekitar jam 1 malam pada Rabu, 20 April 2023. Dia duduk dekat tiang lampu di trotoar jalan yang membelakangi pertokoan.
“Saya sedang bermain game dari handphone menunggu pulang. Rumah saya di Oebobo,” kata Titus.
Beberapa orang tanpa penutup wajah mendekatinya untuk memintanya segera pulang.
“Bapak pulang, sekarang pulang,” ujar Titus mengutip pernyataan orang-orang itu.
Tanpa bertanya lagi, Titus yang sudah 25 tahun sebagai pengonjek pangkalan di kawasan itu segea menghampiri sepeda motornya dan pergi.
“Langsung kasih naik motor, tidak lewat jalan ini tapi naik ke trotoar,” ujarnya.

Dia bahkan memutar jalan menuju rumahnya melalui kawasan Airnona. Seketika terlintas kenangan akan kerusuhan di kawasan itu tahun 1999an.
“Saya takut juga ada rusuh karena teringat rusuh tahun 1999 di Benteng,” ucapnya.
Seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan menuturkan, saat orang-orang dari luar GOR memasuki ruang pertandingan, mereka meminta warga sipil keluar segera.
“Mereka katakan yang sipil keluar segera,” ujarnya.
Semua bergegas keluar lewat pintu-pintu yang dibuka setiap ada pertandingan demi keamanan dan keselamatan penonton.
Setelah itu, terjadi aksi kejar-kejaran antara sekelompok orang dari luar dengan para anggota polisi yang ada di dalam ruang pertandingan. (Rita/Ruth)




