Hari Pertama Invasi Militer Rusia, 100 Warga Ukraina Tewas

Warga Ukraina berunjuk rasa menuntut perang dengan Rusia dihentikan. (DW)

Warga Ukraina berunjuk rasa menuntut perang dengan Rusia dihentikan. (DW)

Lebih dari 100 warga Ukraina tewas di hari pertama invasi militer Rusia ke Ukraina. Jumlah yang tewas ini diklaim sebagai terbesar sejak Eropa diterjang Perang Dunia II. Lebih dari 100 ribu warga Ukraina terpaksa meninggalkan rumah mereka menurut laporan Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR).

“Serangan roket Rusia yang mengerikan di Kiev (ibukota Ukraina),” kata Dmytro Kuleba, Menteri Luar Negeri Ukraina pada hari Jumat seperti dikutip dari Euro News.

“Terakhir kali ibukota kami mengalami hal seperti ini pada 1941 ketika diserang oleh Nazi Jerman,” ujar Kuleba.

Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu, 23 Februari 2022 mengeluarkan perintah operasi militer menerobos perbatasan Ukraina. Ribuan pasukan Rusia dikerahkan untuk melakukan serangan dari arah timur, utara, dan selatan mengepung wilayah Ukraina.

Invasi ini diklaim Rusia sebagai upaya melindungi warga sipil di bagian timur Ukraina.

Pasukan Rusia kemudian bergerak dan menguasai area Reaktor nuklir Chernobyl. Dunia mengenang tragedi mengerikan pada 26 April 1986 ketika reaktor nuklir mengalami kebocoran sehingga terjadi radiasi yang menewaskan seketika sekitar 100 orang. Ini merupakan bencana nuklir terbesar di dunia di masa Ukraina di bawah kekuasaan Uni Sovyet.

Negara-negara di Eropa mengutuk keras operasi militer Rusia ini dan menegaskan tindakan Rusia sebagai pelanggaran hukum internasional. Begitu juga Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya seperti Korea Selatan dan negara-negara Arab.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui akun Twitter menyerukan agar perang dihentikan di Ukraina. “Setop perang. Perang itu menyengsarakan umat manusia dan membahayakan dunia,” ujar Presiden Jokowi, Kamis, 24 Februari 2022.

Kementerian Luar Negeri menyampaikan lima poin penting sebagai sikap Indonesia atas operasi militer Rusia ke Ukraina. Pertama, penghormatan terhadap tujuan dan prinsip piagam PBB dan hukum internasional, termasuk penghormatan terhadap integritas wilayah dan kedaulatan, penting untuk terus dijalankan.

Kedua, oleh karenanya, serangan militer di Ukraina tidak dapat diterima. Serangan juga sangat membahaykan keselamatan rakyat dan mengancam perdamaian serta stabilitas kawasan dan dunia.

Ketiga, Indonesia meminta agar situasi ini dapat segera dihentikan dan semua pihak agar menghentikan permusuhan serta mengutamakan penyelesaian secara damai melalui diplomasi.

Keempat, Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah nyata guna mencegah memburuknya situasi. Kelima, Pemerintah, melalui Kementerian Luar Negeri,telah mempersiapkan rencana evakuasi WNI. Keselamatan WNI selalu menjadi prioritas pemerintah.

Menurut data Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum, ada 72 warga Indonesia yang telah berkumpul dan menginap di Kedutaan Besar RI di Kiev.

“Mereka dalam kondisi selamat dan tetap tenang. Kami meminta mereka untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera berkumpul di KBRI. Juga membantu penjemputan bagi mereka yang kesulitan transportasi,” kata Judha Nugraha kepada wartawan.

Menurut Judha, Kemlu dan KBRI Kiev pada Rabu malam, 23 Februari 2022 mengadakan pertemuan virtual dengan para WNI yang tinggal di Ukraina untuk memonitor kondisi mereka dan menjelaskan langkah-langkah perlindungan bagi WNI. (Euro News/Reuters/DW/k-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *