• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Minggu, April 19, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Pekerja Migran & Perdagangan Orang

Kades Maubesi Vinsentius Berkeliling Dusun Demi Warganya Tak Terkena Jaring Perdagangan Orang

Tim Redaksi by Tim Redaksi
3 tahun ago
in Pekerja Migran & Perdagangan Orang
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Vinsentius Fomeni, Kepala Desa Maubesi saat menunjukkan rute kunjungannya ke lima dusun di desanya (Ruth Botha - KatongNTT)

Vinsentius Fomeni, Kepala Desa Maubesi saat menunjukkan rute kunjungannya ke lima dusun di desanya (Ruth Botha - KatongNTT)

0
SHARES
215
VIEWS

Maubesi – Kepala Desa Maubesi, Kabupaten Timor Tengah Utara, Vinsentius Fomeni berinisiatif mensosialisasikan ke warganya agar mematuhi jalur prosedural untuk bekerja di luar desa, bahkan ke luar negeri.

Vinsentius kepada KatongNTT saat ditemui di Kantor Desa Maubesi menuturkan, sosialisasi dilakukan di lima dusun. Jarak dusun yang relatif jauh tidak membuat Vinsentius surut langkah.

BacaJuga

Rumput laut milik nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

8 Januari 2026
Penjara Kluang, Johor, Malaysia tempat PMI NTT tak berdokumen menjalani hukuman sebelum dideportasi pulang. (icrc.uthm.edu)

PMI NTT Ungkap Penjara dan Detensi Imigrasi Malaysia Tidak Manusiawi

27 Desember 2025

Setiap sosialiasi yang berlangsung malam hari, dia meminta warganya mengikuti prosedur dalam mencari kerja.

Menurut Vinsentius, banyak warganya yang sudah bertahun-tahun bahkan hingga kini memilih bekerja di luar negeri dengan tidak mengikuti prosedur yang berlaku.

“Saya tidak larang kalau mau kerja di luar. Silahkan. Asal sesuai prosedur yang berlaku. Karena sudah terlalu banyak korban,” ujar Vinsentius kepada KatongNTT di ruang kerjanya pada Selasa, 12 September 2023.

Alhasil mereka mendapat kekerasan dan gaji yang dipotong atau tidak dibayar sama sekali.

Baca Juga: Kisah Tiga Pria Warga Desa Maubesi Jadi Korban Perdagangan Saudara Sendiri

Yohanes Haki, pria berusia 65 tahun menuturkan dia pernah bekerja di Malaysia secara nonprosedural.

Gaji yang tak dibayar, ditambah kekerasan fisik dan psikis yang diterimanya semasa bekerja jadi pengalaman pahit yang tak mau diulanginya lagi.

Hal senada pun dialami banyak PMI yang pulang kembali ke kampung halaman.

Begitu banyak cerita pilu warga NTT yang sudah lebih dulu bekerja di luar kota atau luar negeri tak menyurutksn minat warga Maubesi untuk bekerja di luar.

Data desa Maubesi hingga 2023 terdaftar dari 3.021 jiwa, ada 332 warganya yang masih merantau di luar provinsi maupun luar negeri.

“Ada yang sudah 30an tahun di luar. Kebanyakan mereka itu nonprosedural. Jadi jalan tidak kasih tahu orang tua, apalagi kami pemerintah,” ujarnya.

Dominan mereka bekerja di Malaysia dan di Kalimantan. Satu orang diketahui bekerja di Timor Leste.

Baca Juga: NTT Terima 100 Jenazah PMI Dalam 8 Bulan 

Selain mensosialisasikan terkait TPPO, Vinsentius pun menyebut ke depannya ia akan membuat forum penyintas TPPO. Tujuannya, agar para calon PMI maupun ex PMI punya ruang sama dengan stakeholder terkait untuk saling berbagi dan saling mendukung dalam memberantas TPPO.

Yohanes Haki dalam kesempatan yang sama berujar: “Seburuk-buruknya tinggal di kampung, lebih baik kita kerja di kampung kita sendiri.” *****

Tags: #Insanatengah#KepaladesaMaubesi#Maubesi#Pekerjamigran#PerbatasanRI#Perdaganganorang#tppo#TTU
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Rumput laut milik nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

by Rita Hasugian
8 Januari 2026
0

Kupang – PT PLN sedang menelusuri dan memvalidasi informasi dari nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang bahwa aktivitas bongkar muat batubara...

Penjara Kluang, Johor, Malaysia tempat PMI NTT tak berdokumen menjalani hukuman sebelum dideportasi pulang. (icrc.uthm.edu)

PMI NTT Ungkap Penjara dan Detensi Imigrasi Malaysia Tidak Manusiawi

by Rita Hasugian
27 Desember 2025
0

Kupang – Marselinus Seke menahan rasa sakit pada kedua kakinya yang bengkak setiap kali melangkah. Kulit kakinya melepuh,  mengeluarkan cairan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati