Kisah Ana Paji Pakai Bahasa Ibu Didik Siswa di Pedalaman Sumba

Guru Ana Paji Jiara menggunakan bahasa ibu mengajar siswa SD Inpres Wunga di Pedalaman Sumba Timur di Provinsi NTT (Alex Japalatu)

Guru Ana Paji Jiara menggunakan bahasa ibu mengajar siswa SD Inpres Wunga di Pedalaman Sumba Timur di Provinsi NTT (Alex Japalatu)

Musim hujan akhirnya sampai juga ke Tanarara, Desa Wunga, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur akhir Januari 2022. Ini kawasan paling kering di sebelah utara Sumba Timur, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Waingapu, ibukota kabupaten.

Di Haharu hujan hanya datang antara Januari hingga Maret. Selebihnya kemarau panjang selama sembilan bulan. Mayoritas warga membeli air dari truk-truk tangki yang datang dari Waingapu. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat kemarau panjang, sejauh mata memandang hanya savana gersang kecoklatan. Rumput-rumput mati. Tanaman hidup meranggas. Dan sinar matahari begitu terik membakar. Suhu rata-rata di Haharu mencapai 40 derajat celsius pada siang hari.

Ana Paji Jiara, 40 tahun, sehari-hari menjalani hidupnya dalam suhu ekstrim di Sumba Timur. Perempuan berlatar pendidikan guru mengajar di SD Inpres Wunga, salah satu dari dua sekolah dasar di kawasan Haharu sejak tahun 2004.

Sekolah yang lain adalah SD Inpres Napu yang berjarak sekitar 5 kilometer, di sisi lain kawasan ini.

“Saya tamat dari SMA Kristen Payeti di Waingapu tahun 2000. Empat tahun tinggal di rumah bertani dan pelihara babi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Ana menjelaskan keseharian hidupnya.

“Waktu itu hanya dua orang guru yang mengajar di sini. Lalu saya dan tiga teman dipanggil untuk bantu mengajar. Kami hanya diberi ‘uang sabun’ oleh kepala sekolah, Rp20-50 ribu setiap bulan,” tutur Ana tentang profesinya.

“Uang sabun” bukan honor yang diterima karena kerja profesional. Ia lebih sebagai belas kasihan kepala sekolah karena Ana sudah meluangkan waktu mengajar di sekolah yang dipimpinnya.

“Waktu itu saya mau mengajar karena saya lihat hanya ada dua guru di sini. Saya kasihan juga lihat anak-anak. Mereka sudah datang jauh-jauh. Sementara saya hanya kerja bertani. Saya pikir, meskipun hanya lulus SMA pasti saya bisa juga mengajar asal mau belajar,” kata Ana tentang keputusannya menjadi guru.

Ana saat itu sama sekali tak memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar mengajar.

Tetapi kondisi Ana ketika kami jumpai pada akhir Januari lalu sudah lumayan. Setidaknya sejak tahun 2018 ia tak perlu lagi berjalan kaki ke sekolah yang berjarak 3 kilometer dari rumahnya. Ana telah memiliki kendaraan, sebuah motor bekas yang dibeli dari Waingapu seharga Rp 5,4 juta.

“Beli motor dari jual babi. Saya rasa capek juga jalan kaki setiap hari selama 14 tahun dari rumah ke sekolah, pulang-pergi,” kata Ana.

Kini honornya juga—setelah bekerja selama 16 tahun—mencapai Rp 1,9 juta. Ana pun telah menyandang gelar Sarjana Pendidikan setelah menempuh kuliah jarak jauh pada Universitas Terbuka. Ia diwisuda pada 2016.

“Honor kabupaten ditambah dana BOS. Tapi bulan Januari dan Februari ini kami belum gajian. Biasanya bulan Maret baru terima. Mungkin mereka (pemerintah) baru penganggaran atau apa? Tunggu saja,” ujarnya pasrah.

BOS adalah dana Bantuan Operasional Sekolah yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia kepada satuan pendidikan dasar dan menengah untuk operasional sekolah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim, pada tahun 2021 mengeluarkan aturan, dalam kondisi Pandemi Covid-19, dana BOS untuk gaji guru honorer bisa dipakai maksimal 50 persen dari seluruh jumlah yang didapatkan sekolah.

“Gaji dari dana BOS biasanya antara Rp75-100 ribu per bulan,” kata Ana.

*******


Kami menjumpai kelas yang riuh pagi itu. Ana yang mengenakan rok berwarna coklat dipadu kaos kuning telah menunggu kami di ruang kelas satu. Sepatu hitam yang menyerupai selop melengkapi penampilannya.

Ruang kelas dicat hijau muda. Berukuran 4 x 6 meter. Beberapa plafon telah lepas. Menyisakan bolong yang menampakkan kerangka kayu dan seng di atasnya. Foto Presiden Jokowi dipasang di tembok bagian depan. Masih bersama foto Yusuf Kalla. Padahal itu foto beberapa tahun silam, tapi belum diganti. Sebab kini Wakil Presiden adalah Ma’ruf Amin.

Sekujur tembok pada bagian samping dan belakang bangunan kontras dengan yang lain. Tembok ditempeli beragam gambar dan abjad. Di situ menjadi zona membaca. Meskipun tampak lusuh dan kotor, ia tetap menjadi media belajar bagi siswa kelas satu.

Kertas HVS bergambar ikan dan panci berisi nasi dipasang berdampingan dengan kertas manila berukuran lebar bertuliskan huruf “Mm” untuk mengeja kata: Mata, mama, makan, mawar, matahari, mobil dan sebagainya.

Pada kertas yang lain, masih ditembok yang sama, terdapat gambar jari tangan untuk mengenal bilangan 1-10.

Siswa SD Inpres Wunga di Pedalaman Sumba Timur, Provinsi NTT menggunakan bahasa ibu, Kambera dalam proses belajar dan mengajar. (Alex Japalatu)

Ana membuka kelas dengan berdoa bersama secara Protestan. Para murid kebanyakan memakai seragam pramuka berwarna coklat. Beberapa memakai putih-merah. Alas kaki mereka, sandal jepit, diletakkan di luar kelas. Agar kelas berlantai keramik putih itu tak kotor oleh lumpur. Semua siswa memakai masker.

“Anak-anak hari ini kita belajar Tema 5 tentang ‘pengalamanku’,” Ana berseru di antara suara riuh 9 orang siswa-siswi kelas 1. Ia berbicara memakai bahasa ibu, yakni bahasa Kambera dengan dialek Haharu.

“Iya Bu guru,” sahut mereka riuh dalam bahasa ibu yang sama.

Tetapi Ello belum duduk. Ia masih berkeliling mengoda teman-temannya untuk bermain. Ana datang mengelus kepala Ello dan memintanya duduk. Sebab pelajaran segera dimulai. Manto diminta berganti tempat dengannya.

“Sebenarnya siswa ada 17 orang. Tapi 3 anak sakit, yang lain tanpa kabar. Ada yang sudah berbulan-bulan tidak masuk. Mungkin ikut orang tuanya berjualan ke Waingapu,” kata Ana.

Para murid kelas 1, dan kelas-kelas yang lain juga, datang dari kampung-kampung di sekitar sekolah. Antara lain dari kampung Walakari, Tanarara dan yang paling jauh adalah dari Desa Talicu, yang berjarak 5 kilometer dari sekolah.

“Paling dekat sudah itu sekitar 1 kilometer. Jalan kaki tiap hari. Ada juga yang diantar pake motor kalau orang tuanya ada motor. Ada yang tinggal 5 kilometer dari sekolah. Mereka jalan kaki ke sini,” jelas Ana lagi.

Setelah kelas tenang, Ana melanjutkan pelajaran. Ia menunjuk gambar pada selembar kertas manila yang ditempel di white board di depan kelas tentang ‘pengalaman yang menyenangan’. Hari itu kelas akan belajar tentang pengalaman yang menyenangkan bersama keluarga di rumah. Enam gambar ayah, ibu dan dua anak mereka yang sedang merubung meja makan dan bekerja ditampilkan di papan.

Gambar-gambar ini disiapkan sendiri oleh Ana sebagai bahan mengajar. Pada papan tulis, juga dicatat tema dan subtema, materi serta tujuan pembelajaran hari itu.

Masih dalam bahasa kambera, Ana bertanya kepada siswa-siswinya: Ini gambar apa?

“Orang,” seorang murid berteriak lantang.

“Bapak,” sahut yang lain.

“Ibu,” jawab seorang siswi.

“Anak-anak,” seru yang lain.

“Semuanya benar. Bagus sekali,” kata Ana kepada mereka.

Kelas berlanjut. Mengeja huruf. Masih dalam bahasa Kambera. Ana bertanya kepada siswa-siswinya:

“Ini huruf apa?”

“A bakul (A besar),” jawab mereka serempak. Masih dalam bahasa Kambera.

“Kalau ini huruf apa?”

“M bakul (M besar).”

Demikian pelajaran terus berlangsung. Yakni menggabungkan huruf: M, N, T dan K. Kemudian membentuk suku kata: UM, UN, UT dan UK.

Ana melepas masker dari wajahnya. Kali ini ia memeragakan cara mengeja suku kata di papan tulis. Sesekali ia memegang perutnya. Anak-anak meniru. Ana mengembuskan nafas mengucapkan suku-suku kata tersebut. Atau mendecakkan lidahnya. Para siswa meniru Ana mengucapkannya.

Kelas jadi riuh. Para siswa tertawa-tawa senang. Mereka seperti sedang bermain saja.

*******

Ana menuturkan bahwa ia menjadi “guru yang sesungguhnya” setelah mendapatkan pendampingan dari INOVASI. Ia mendapatkan pendampingan yang cukup dalam ilmu pedagogi dan menyampaikan materi bagi kelas bawah di sekolah dasar.

“Ini semua berkat INOVASI yang ajari kami mengajar memakai bahasa daerah. Juga cara mengajar, mengenal huruf dan menggabung huruf,” tutur Ana.

“Sebelum INOVASI datang, kami hanya mengajar abjad ‘a-i-u-e-o’ setiap hari kepada siswa. Jadi anak-anak bosan dan lambat mengerti karena pakai bahasa Indonesia waktu mengajar,” kata Ana lebih lanjut.

Menurut Ana, siswa-siswi di sekolahnya memang lebih banyak memakai bahasa Kambera dalam berkomunikasi sehari-hari. “Boleh dikatakan sekitar 70 persen. Apalagi siswa kelas bawah. Sehingga boleh mengajar memakai bahasa ibu sudah mengena. Anak-anak jadi lebih mudah memahami pelajaran yang diajarkan,” ujarnya.

Mengajar memakai bahasa ibu adalah salah satu terobosan INOVASI untuk sekolah-sekolah di pedalaman seperti Haharu di Kabupaten Sumba Timur. Sebab sebagian besar anak, terutama pada kelas bawah, memakai bahasa Kambera dalam berkomunikasi sehari-hari. Beruntung pula Ana berasal dari kawasan itu. Bukan guru dari luar daerah. Setiap hari ia memakai bahasa yang sama sebagai penutur asli. Dengan demikian kesulitan ini bisa tertanggulangi.

“Kalau pakai bahasa sini (Kambera) anak-anak lebih berani menjawab. Faktor bahasa tidak lagi menjadi kendala,” ujar Ana.

INOVASI melanjutkan program pendidikan dasar dengan basis bahasa ibu di Kabupaten Sumba Timur semenjak diterapkan pada Fase I (2017-2019).

Dalam kajian INOVASI, cara ini ternyata memberi hasil positif. Anak-anak menjadi lebih percaya diri dalam berkomunikasi dan mengemukakan pendapatnya dalam pembelajaran. Hasil belajar mereka pun meningkat.

“Biasanya saya mengajar pakai bahasa sini dulu. Kemudian nanti saya campur dengan Bahasa Indonesia. Pengalaman selama ini memang anak-anak lebih bisa menjawab kalau (memakai) bahasa daerah. Mungkin ee, karena setiap hari di rumah, bermain dengan teman, mereka memakai bahasa Kambera,” jelas Ana lagi.

Seperti diberitakan dalam bulletin INOVASI 2021, sebelum mendapatkan pelatihan dan pendampingan program pembelajaran dengan pengantar bahasa ibu, mayoritas guru mitra di Kabupaten Sumba Timur mengaku ragu, bahkan khawatir jika menggunakan bahasa ibu dalam pembelajaran. Sebab penggunaan bahasa ibu dalam pembelajaran tidak termaktub dalam kurikulum manapun. Para guru khawatir akan mendapat teguran dari dinas pendidikan setempat.

Penggunaan bahasa Indonesia memang wajib digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan nasional. Kewajiban ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia.

Oleh karena itu, menurut INOVASI, kolaborasi multi-pihak diperlukan untuk memperkuat praktik-praktik baik yang telah dilakukan dan menyebarkannya ke sekolah-sekolah dan daerah-daerah lain yang memiliki tantangan serupa.

Manajer INOVASI untuk Provinsi NTT, Hironimus Sugi menjelaskan INOVASI NTT sudah mendampingi 5 Kabupaten, yaitu 4 kabupaten di Pulau Sumba (Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya) dan Kabupaten Nagekeo di Pulau Flores.

“Program fokus INOVASI keterampilan dasar terkait literasi dan numerasi dan ini menyasar Pendidikan dasar kelas awal di jenjang SD,” kata Hironimus kepada KatongNTT.com melalui pesan Whatsapp, 7 Maret 2022.

Inovasi merekrut fasilitator daaerah (Fasda) yang terdiri dari unsur guru, kepala sekolah, pengawas atau pegawai di dinas pendidikan yang mempunyai komptensi dalam pembelajaran literasi dan numerasi di kelas awal ini.

FASDA, Hironimus menjelaskan, kemudian dilatih dan mereka yang akan melakukan pelatihan dan pendampingan kepada guru-guru di kelas.

Sekalipun mengutamakan pelatihan pada Fasda dan guru, INOVASI juga memberikan dukungan ke Dinas Pendidikan dan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Dukungan terkait perencanaan, baik itu saat penyusunan rancangan teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah maupun Rencana Strategis Dinas Pendidikan.

“Di sekolah kita juga mendukungan penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran sekolah,” ujar Hironimus.

Mengapa bahasa ibu dinilai metode yang didorong Inovasi dalam proses belajar mengajar bagi anak SD di pelosok daerah?

“Perlu dipahami bahwa tujuan memakai bahasa ibu dalam pembelajaran karena masih banyak anak-anak di daerah tertinggal yang belum bisa berbahasa Indonesia. Oleh karena itu jika pembelajaran mamakai Bahasa Indonesia maka anak – anak ini mengalami kesulitan untuk belajar,” kata Hironimus.

Pemakaian bahasa ibu dalam pembelajaran khusus di kelas awal ini hanya membantu anak belajar untuk kemudian bertransisi ke Bahasa Indonesia. Artinya, anak-anak sudah siap memakai Bahasa Indonesia untuk pembelajaran lanjutan.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kemendikbudristek, Anindito Aditomo saat berkunjung ke Kabupaten Sumba Timur, 28 September 2021 lalu, menyatakan penggunaan bahasa ibu dalam pembelajaran terutama di sekolah-sekolah yang mayoritas siswanya menggunakan bahasa ibu dalam komunikasi sehari-hari seharusnya diterapkan sejak lama.

“Kalau tidak (menggunakan bahasa ibu dalam pembelajaran), siswa dipaksa belajar dua hal sekaligus. Pertama belajar mengenal huruf latin dan membaca. Kedua, mempelajari bahasa yang asing (bahasa Indonesia). Kesulitannya jadi ganda tetapi hal ini bisa dengan mudah dipecahkan dengan menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar,” kata Anindito.

Guru Ana Paji Jiara bersama siswa-siswanya di SD Inpres Wunga di pedalaman Sumba Timur, NTT berinteraksi menggunakan bahasa ibu mereka, Kambera. (Alex Japalatu)

*******

Kelas usai. Anak-anak berhamburan keluar ruangan setelah berbaris menyalami ibu guru mereka. Kami sengaja membuntuti Ana ke rumahnya. Saya meminta sopir yang membawa kami menghitung jarak memakai odometer pada mobilnya. Dari sekolah ke rumah Ana tepat berjarak 3 kilometer.

Rumah tembok berukuran sedang itu dikelilingi ladang. Kami datang pada musim penghujan. Semua tanaman di sekitarnya menghijau. Sedap dipandang mata.

“Lahan di sini cukup luas. Saya bisa tanam cabe sebanyak 300 pohon,” kata Ana.

Biasanya jika pergi ke Waingapu untuk sebuah urusan, Ana menenteng beberapa kilogram cabe untuk dijual di pasar. Namun, kata dia, lebih sering para tengkulak mendatangi mereka. Harga pernah mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Namun saat ini menciut ke angka Rp 15 ribu per kilogram.

Di depan rumah Ana tumbuh sebatang pohon rindang. Ditambatkan seekor babi di bawahnya. Masih kecil. “Penyakit babi sudah memusnahkan semuanya. Sekarang kami baru mulai lagi memelihara. Semoga penyakit itu tak datang lagi,” kata Ana.

Penyakit yang dimaksud adalah virus Flu Babi atau African Swine Fever (ASF) yang pernah menyerang beberapa kabupaten di NTT, termasuk Pulau Sumba, berkisar 2019-2021. Ratusan ribu ekor babi mati oleh keganasan virus ini. Padahal kalau memelihara babi, kata Ana, setelah babi berusia tiga tahun ia bisa menjualnya antara Rp5-7 juta.

“Motor ini dari hasil jual babi,” ujarnya tertawa.

Bagi Ana, kini hidupnya terbagi antara sekolah dan rumah. Di sekolah ia mengajar generasi muda bangsa ini untuk masa depan mereka, tanpa mempersoalkan seberapa besar gaji yang ia terima. Di rumah ia bertani dan beternak untuk menopang hidup keluarganya sebagai orang tua tunggal.

“Kalau anak-anak sudah bisa membaca itu saya sungguh bersyukur luar biasa. Saya merasa tidak sia-sia jadi guru. Saya gembira sekali,” ujarnya. Rasa lelahnya seketika hilang.

Ana hanya salah satu gambaran dari ratusan ribu guru di pelosok negeri ini, yang berjibaku melawan keterbatasan demi mendidik generasi muda Indonesia. Mereka hidup dalam berbagai keterbatasan, tapi tak menyerah.

Mereka juga tak pernah menghitung lelahnya! (Alex Japalatu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *