Kisah Dewa, Nelayan Oesapa Menjaga Ekosistem Laut

Ikhtiar menjaga ekosistem laut baru bersemi di hati Dewa saat dirinya ditahan Pemerintah Australia. Di sana Ia belajar banyak hal.

Laut menyimpan potensi besar. Ekosistem laut harus dijaga agar tidak rusak (Joe-KatongNTT)

Hujan baru saja reda siang itu. Langit masih ditutupi oleh awan hitam. Dari atas rumah panggung, Dewa mengawasi kondisi sekitar. Menatap laut yang menafkahi mereka. Ibarat rumah, laut harus dijaga dan dirawat setiap saat.

Dewa adalah seorang nelayan di pesisir Oesapa, Kota Kupang, NTT. Kehidupan di laut Ia rasakan sejak kecil. Kala itu, Ia sering ikut bersama Ayahnya.

22 tahun lalu, Dewa menetapkan hati menjadi seorang nelayan. Menapaki jalan yang sama dengan sang Ayah.

Tidak terlintas dalam benak pria bernama lengkap Muhammad Mansur Doken itu untuk menjaga laut. Penangkapan ikan menggunakan bom ikan marak dilakukan. Untuk mendapat jumlah tangkapan banyak, cara itu jadi pilihan, meski mereka tahu tindakannya merusak terumbu karang.

Ikhtiar menjaga ekosistem laut baru bersemi di hati Dewa saat dirinya ditahan Pemerintah Australia. Di sana Ia belajar banyak hal. Terutama merawat rumah yang kaya saat ini tetap lestari.

“Di Australia, setiap kapal yang tangkap ikan di laut sudah dibatasi jumlah tangkapannya. Tidak boleh lebih. Apabila lebih akan disita dan didenda. Mereka menangkap sekaligus menjaga ekosistem laut,” kata Dewa mengisahkan.

Muhamad Mansur Doken, akrab disapa Dewa, menceritakan pengalamannya sebagai nelayan (Joe-KatongNTT)

Sekembalinya dari Australia, Dewa bersama teman-temannya di Oesapa mulai berembuk, menyatukan pikiran menjaga ekosistem laut. Penangkapan dengan cara-cara yang merusak terumbu karang sangat ditentang.

Komitmen itu ditegaskan pula dalam semboyan Komunitas Nelayan Angsa Laut Oesapa. “Laut menyimpan potensi masa depan yang luar biasa, kehidupan di laut bukan hanya untuk hari ini, tapi sisakan untuk anak cucu kita,” kata Dewa menegaskan semboyan Komunitas itu.

Semboyan itu harus dijunjung oleh semua anggota. Itu adalah ikrar merawat rumah bagi anak cucu. Bila ada anggota berbuat diluar komitmen bersama itu, tindakan tegas dilakukan oleh pemimpin Komunitas.

“Kalau anggota melanggar, misalnya menggunakan bom ikan, saya dan beberapa penasehat yang akan menindak secara tegas. Kami yang akan melaporkan pelanggaran itu ke pihak berwajib,” kata Dewa selaku Ketua Komunitas.

Nelayan dari luar Oesapa yang mengambil ikan di daerah tangkap nelayan Oesapa, harus turut menjaga keberlanjutan hidup di laut. Merusak ekosistem laut, kata Dewa, sama halnya menambah tingkat pengangguran.

Tidak berhenti berhenti ditahap itu. Upaya menghidupkan kembali terumbu karang yang mati pun sudah direncanakan. Dewa menuturkan, tahun ini mereka akan membuat rumah baru bagi ikan-ikan dengan menggunakan bambu.

Bambu itu akan dibuat kotak, diberi pemberat lalu diangkut menuju titik yang ditentukan lalu diturunkan. Bambu yang sudah dirakit itu akan disusun melingkar. Ditengahnya dibiarkan kosong.

Tujuannya kata Dewa untuk menjadi tempat hidup baru bagi ikan-ikan. Dan bisa membentuk terumbu karang yang baru.

“Kita kekurangan dana jadi rencananya tahun ini kita buat satu titik saja,” kata Dewa.

Penurunan hasil tangkapan sudah dirasakan oleh nelayan Oesapa. Bila di tahun-tahun sebelumnya, hasil tangkapan bisa mencapai puluhan ton per bulan, kini sudah sangat menurun drastis.

Kondisi ini menuntut Dewa dan teman-teman getol dalam komunitas untuk menjaga laut. Tidak hanya soal merawat terumbu karang. Dalam komunitas itu, hak-hak nelayan kecil juga turut diperjuangkan.

Mempertahankan daerah tangkapan merupakan perjuangan bersama anggota komunitas. Mereka selalu mengawasi kapal-kapal gross ton besar yang menangkap ikan di perairan dangkal.

Bila menemukan, mereka segera bereaksi. Melaporkan ke pihak berwajib untuk segera diamankan.

“Penurunan hasil tangkapan itu selain perubahan iklim, datangnya kapal gross ton besar juga sangat berpengaruh,” ujar Dewa.

Dewa selalu menekankan pada teman-temannya perihal keberlanjutan kehidupan di laut. Ia tidak ingin, niat menangkap sebanyak-banyaknya merusak ekosistem laut.

“Kita harus sisakan bagi anak cucu supaya mereka juga rasakan apa yang kita rasakan. Jangan sampai kita hanya meninggalkan luka bagi mereka karena kita menghabisi dan merusak ekosistem ini,” tegas Dewa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *