• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Jumat, April 17, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Inspirator

Kisah Dewa, Nelayan Oesapa Menjaga Ekosistem Laut

Tim Redaksi by Tim Redaksi
4 tahun ago
in Inspirator
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Kisah Dewa, Nelayan Oesapa Menjaga Ekosistem Laut

Laut menyimpan potensi besar. Ekosistem laut harus dijaga agar tidak rusak (Joe-KatongNTT)

0
SHARES
256
VIEWS

Hujan baru saja reda siang itu. Langit masih ditutupi oleh awan hitam. Dari atas rumah panggung, Dewa mengawasi kondisi sekitar. Menatap laut yang menafkahi mereka. Ibarat rumah, laut harus dijaga dan dirawat setiap saat.

Dewa adalah seorang nelayan di pesisir Oesapa, Kota Kupang, NTT. Kehidupan di laut Ia rasakan sejak kecil. Kala itu, Ia sering ikut bersama Ayahnya.

BacaJuga

Mariangle Hungria, warga Brasil meraih peraih Nobel Pangan dan Pertanian Dunia 2025 karena menemukan bakteri tanah dapat digunakan sebagai pupuk yang ramah lingkungan dan murah . (Luciano Pascoal)

Mariangela Hungria, llmuwan Brasil Buktikan Bakteri Bisa Selamatkan Bumi

15 Mei 2025
Disabilitas di Manggarai Bertahan Hidup di Tengah Minimnya Perhatian Pemerintah

Disabilitas di Manggarai Bertahan Hidup di Tengah Minimnya Perhatian Pemerintah

18 Oktober 2024

22 tahun lalu, Dewa menetapkan hati menjadi seorang nelayan. Menapaki jalan yang sama dengan sang Ayah.

Tidak terlintas dalam benak pria bernama lengkap Muhammad Mansur Doken itu untuk menjaga laut. Penangkapan ikan menggunakan bom ikan marak dilakukan. Untuk mendapat jumlah tangkapan banyak, cara itu jadi pilihan, meski mereka tahu tindakannya merusak terumbu karang.

Ikhtiar menjaga ekosistem laut baru bersemi di hati Dewa saat dirinya ditahan Pemerintah Australia. Di sana Ia belajar banyak hal. Terutama merawat rumah yang kaya saat ini tetap lestari.

“Di Australia, setiap kapal yang tangkap ikan di laut sudah dibatasi jumlah tangkapannya. Tidak boleh lebih. Apabila lebih akan disita dan didenda. Mereka menangkap sekaligus menjaga ekosistem laut,” kata Dewa mengisahkan.

Muhamad Mansur Doken, akrab disapa Dewa, menceritakan pengalamannya sebagai nelayan (Joe-KatongNTT)

Sekembalinya dari Australia, Dewa bersama teman-temannya di Oesapa mulai berembuk, menyatukan pikiran menjaga ekosistem laut. Penangkapan dengan cara-cara yang merusak terumbu karang sangat ditentang.

Komitmen itu ditegaskan pula dalam semboyan Komunitas Nelayan Angsa Laut Oesapa. “Laut menyimpan potensi masa depan yang luar biasa, kehidupan di laut bukan hanya untuk hari ini, tapi sisakan untuk anak cucu kita,” kata Dewa menegaskan semboyan Komunitas itu.

Semboyan itu harus dijunjung oleh semua anggota. Itu adalah ikrar merawat rumah bagi anak cucu. Bila ada anggota berbuat diluar komitmen bersama itu, tindakan tegas dilakukan oleh pemimpin Komunitas.

“Kalau anggota melanggar, misalnya menggunakan bom ikan, saya dan beberapa penasehat yang akan menindak secara tegas. Kami yang akan melaporkan pelanggaran itu ke pihak berwajib,” kata Dewa selaku Ketua Komunitas.

Nelayan dari luar Oesapa yang mengambil ikan di daerah tangkap nelayan Oesapa, harus turut menjaga keberlanjutan hidup di laut. Merusak ekosistem laut, kata Dewa, sama halnya menambah tingkat pengangguran.

Tidak berhenti berhenti ditahap itu. Upaya menghidupkan kembali terumbu karang yang mati pun sudah direncanakan. Dewa menuturkan, tahun ini mereka akan membuat rumah baru bagi ikan-ikan dengan menggunakan bambu.

Bambu itu akan dibuat kotak, diberi pemberat lalu diangkut menuju titik yang ditentukan lalu diturunkan. Bambu yang sudah dirakit itu akan disusun melingkar. Ditengahnya dibiarkan kosong.

Tujuannya kata Dewa untuk menjadi tempat hidup baru bagi ikan-ikan. Dan bisa membentuk terumbu karang yang baru.

“Kita kekurangan dana jadi rencananya tahun ini kita buat satu titik saja,” kata Dewa.

Penurunan hasil tangkapan sudah dirasakan oleh nelayan Oesapa. Bila di tahun-tahun sebelumnya, hasil tangkapan bisa mencapai puluhan ton per bulan, kini sudah sangat menurun drastis.

Kondisi ini menuntut Dewa dan teman-teman getol dalam komunitas untuk menjaga laut. Tidak hanya soal merawat terumbu karang. Dalam komunitas itu, hak-hak nelayan kecil juga turut diperjuangkan.

Mempertahankan daerah tangkapan merupakan perjuangan bersama anggota komunitas. Mereka selalu mengawasi kapal-kapal gross ton besar yang menangkap ikan di perairan dangkal.

Bila menemukan, mereka segera bereaksi. Melaporkan ke pihak berwajib untuk segera diamankan.

“Penurunan hasil tangkapan itu selain perubahan iklim, datangnya kapal gross ton besar juga sangat berpengaruh,” ujar Dewa.

Dewa selalu menekankan pada teman-temannya perihal keberlanjutan kehidupan di laut. Ia tidak ingin, niat menangkap sebanyak-banyaknya merusak ekosistem laut.

“Kita harus sisakan bagi anak cucu supaya mereka juga rasakan apa yang kita rasakan. Jangan sampai kita hanya meninggalkan luka bagi mereka karena kita menghabisi dan merusak ekosistem ini,” tegas Dewa.

Tags: #Dewa#ekositemlaut#katongntt#komunitasnelayanangsalaut#nelayan#Oesapa#terumbukarang
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Mariangle Hungria, warga Brasil meraih peraih Nobel Pangan dan Pertanian Dunia 2025 karena menemukan bakteri tanah dapat digunakan sebagai pupuk yang ramah lingkungan dan murah . (Luciano Pascoal)

Mariangela Hungria, llmuwan Brasil Buktikan Bakteri Bisa Selamatkan Bumi

by PriyaHusada
15 Mei 2025
0

Dari laboratorium sunyi di Brasil, Hungria memimpin revolusi pertanian yang tak hanya menyelamatkan petani, tapi juga membuka jalan bagi cara...

Disabilitas di Manggarai Bertahan Hidup di Tengah Minimnya Perhatian Pemerintah

Disabilitas di Manggarai Bertahan Hidup di Tengah Minimnya Perhatian Pemerintah

by KatongNTT
18 Oktober 2024
0

Ruteng – Berbagai suku cadang sepeda motor terpajang apik di rak kayu di bengkel yang terletak persis di sisi barat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati