Kisah Mamata Tabrak Aturan Pria Dilarang Menenun

Mamata, suami Ina Koro, pengrajin tenun ikat menabrak aturan pria dilarang menenun . (KatongNTT.com)

Mamata, suami Ina Koro, pengrajin tenun ikat menabrak aturan pria dilarang menenun . (KatongNTT.com)

Kupang – Tangan Hernimus Tuka Hapo atau biasa disapa Mamata lincah menenun benang di alat tenun di hadapannya. Duduk di lantai menghadap alat tenunnya, suami Ina Koro ini memastikan benang-benang  sudah rapat dan tidak ada motif yang salah.

Beberapa menit kemudian Mamata berdiri mendekati istrinya yang sedang menggulang benang atau lolo. Untuk lolo ini penenun tidak dapat sendirian melakukannya karena ukuran panjang benang mencapai 2,5 meter. Benang-benang ini digulung vertikal mengikuti panjang kain pada umumnya, 2-2,5 meter.

Dia kemudian berpindah ke tempat semula untuk melanjutkan kerjanya menenun. “Ini tenun Helong,” kata Mamata pada Sabtu, 7 Mei 2022.

Mamata menjadi pemandangan menarik saat kami berkunjung ke rumah Ina Koro. Sangat jarang pria menenun di NTT. Kegiatan menenun identik dengan perempuan. Sedangkan pria diidentikkan dengan bekerja di luar rumah seperti petani, peternak, dan tukang memperbaiki bangunan.

Mamata menceritakan, bila di daerah asalnya Sabu, bahkan ada larangan laki-laki untuk menenun. “Di Sabu sana laki-laki dilarang untuk tenun. Karena ini pekerjaan perempuan” ujar Pria kelahiran 1967 ini.

Namun karena Mamata telah keluar dari daerahnya dan menetap di Kupang, pilihan sebagai penenun tidak jadi masalah lagi.

 Mamata menjelaskan awal dia menenun karena keseringan melihat istrinya menenun. Bahkan sejak berpacaran, keduanya sering menghabiskan waktu dengan belajar menenun.

“Karena kerjanya ringan, kerja di tempat dingin, setiap hari lihat istri kerja, jadi punya keinginan juga untuk kerja” jelasnya.

Mamata mulai menenun sendiri sejak 2000. Hingga kini, Mamata makin piawai dan sudah banyak menghasilkan kain tenun sarung maupun selendang. Tak dihiraukannya gengsi maupun larangan pria menenun. Tujuannya satu, membantu istri untuk menjemput rezeki dari hasil tenunan mereka.

Walau susah di awal, Mamata terus berusaha agar bisa menenun.

“Awalnya kasih masuk benang saja salah salah,” ungkap Mamata sambil menyelipkan benang dalam kain yang sedang ia tenun.

Benang yang diselipkan dihentak kencang menggunakan sebatang kayu khusus. Ternyata itu rahasianya agar hasil kain tenunnya padat dan tidak kendor.

“Tapi coba dua tiga kali, sudah bisa. Kalau ada kemauan pasti bisa,” lanjutnya.

Untuk memantapkan kemampuannya dalam dunia tenun, 2018 lalu Mamata bersama istrinya mengikuti pelatihan pencelupan dan pewarnaan benang di Dekranasda NTT selama hampir seminggu.

Ina Koro sampai menyebut suaminya itu ketagihan menenun. Banyaknya pesanan justru menjadi penyemangat bagi suaminya untuk terus menenun, walau harus lembur sekalipun.

“Kalau banyak (pesanan), kami habis bisa sampai jam 12 malam. Pagi jam 5 saya bangun ke laut beli ikan, trus jual, pulang jam 9 atau 10 begitu mulai tenun sampai malam.” Cerita Mamata akan kegiatannya setiap hari.

Sedangkan untuk urusan pekerjaan rumah tangga lainnya, Mamata dan Ina Koro saling bergantian bekerja. Bila suami-suami lain enggan membantu istri di dapur, Mamata tanpa ragu melakoni pekerjaan yang biasanya dianggap sebagai pekerjaan perempuan/istri.

Ina Koro bersyukur akan keberadaan suaminya yang setia mendukung dan mau diajak bekerja sama, tanpa memandang status sebagai istri maupun suami.

“Saya bersyukur sekali dapat suami yang mau mendukung pekerjaan saya sebagai penenun dan kerja sama dalam kegiatan ibu rumah tangga seperti bacuci, bamasak, dan menenun” ungkap Ina Koro.

“Dia tidak pernah lelah pulang jual ikan dia langsung pergi bamasak kalau saya belum masak. Atau dia langsung pergi tenun” sambungnya.

Harmonisnya keluarga mereka kian terajut ketika duduk menenun bersama. Bagi Ina Koro, saat-saat tersebut sering dipakai untuk bersenda gurau dan membicarakan tentang hidup. Tentang rencana ke depan dan masa depan anak-anak mereka. Obrolan-obrolan seperti itu yang menemani mereka, mengusir kantuk dan bosan, melewati berjam-jam proses menenun. Sampai menghasilkan sebuah kain tenun sarung maupun selendang. 

Hal menarik lainnya dari keluarga ini ialah, keempat puteranya menunjukkan kegemaran yang sama yaitu menenun. Malahan anak sulung mereka berusia 21 tahun sudah bisa menenun. Sedangkan tiga putra lainnya masih dalam tahap mengamati dan belajar.

Tanpa paksaan, Ina Koro menyebut awalnya anak-anak mereka diminta untuk membantu gulung benang dan pekerjaan mudah lainnya. Namun lama kelamaan mereka tertarik untuk mencobanya. Pada akhirnya Ina Koro mengakui cara itu sebagai trik agar anak-anaknya mau belajar bertenun, setelah suaminya yang lebih dulu jatuh hati untuk menenun. *****

 

Silakan hubungi nomor +6282146220554 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *