Kisah Octo Bertahan di Bisnis Camilan NTT Setelah Kehilangan Istri dan “Isabela”

Octo Kamidin (58) bersama produk Isabela buatannya dan Istrinya sejak 11 tahun lalu. (KatongNTT)

Octo Kamidin (58) bersama produk Isabela buatannya dan Istrinya sejak 11 tahun lalu. (KatongNTT)

Kupang – Pandemi Covid19 menjadi pukulan telak bagi Octo Munandar Srinoto Kamidin, keluarga, dan bisnis camilannya, yang bermerek ‘Isabela’.

Usahanya yang telah beroperasi sejak 2011 itu terpaksa vakum beberapa bulan karena minimnya orderan. Nama merek Isabela yang ternyata telah ada di luar NTT, dan puncaknya saat istri Octo meninggal karena terjangkit virus Corona.

Pria yang biasa disapa Octo itu mengisahkan, bisnisnya tersebut diinisiatif oleh ia dan istrinya setelah lima tahun menikah.

“Awal mula ya namanya kita wiraswasta. Istri juga pegawai swasta. Jadi untuk ke depannya tidak selamanya bergantung pada gaji. Jadilah kita mulai ide untuk membuat camilan kecil-kecilan,“ ujar Octo saat ditemui di rumahnya di kawasan Fatululi, Kupang, NTT.

Produk paling pertama yang diolah ialah stik ketan. Octo menyebut, awalnya stik ini belum ada, sehingga kemungkinan masyarakat akan tertarik.

“Tapi ternyata tidak terlalu laku. Jadi beralih ke stik bawang seledri. Lalu berubah jadi stik varian rasa. Stik keju, ubi ungu, jagung, sama tambahan kacang telur, kacang bawang dan jagung bunga. Sama kue-kue. Yang terbaru stik kelor,” ungkapnya.

Beberapa Produk Isabela Olahan Octo dan Istrinya yang tetap bertahan hingga kini (katongNTT)

Walau kini banyak varian rasa, Octo mengatakan untuk mendapat cita rasa yang seperti sekarang, melewati proses percobaan selama bertahun-tahun.

“Untuk sampai dapat takarannya seperti ini, ibu coba-coba sampai lima tahun. Ini pun masih belum puas dia,” kenangnya sambil tertawa.

Pria berusia 58 tahun ini kemudian mengajak tim katongNTT untuk mengikuti satu proses pembuatan stik ubi ungu.

“Stik ubi ungu, ya bahan bakunya ubi. Ubinya direbus, diseleksi mana yang bagus. Ditimbang sesuai aturan, campur tepung, mentega, telur, masuk ke mesin,” jelasnya.

Setelah adonan tercampur rata, adonan kemudian di pipih hingga halus dengan mesin.

Selanjutnya, adonan di potong dengan mesin sesuai ukuran yang telah ditentukan.

Dengan minyak panas, adonan kemudian digoreng hingga matang.

Minyak yang digunakan pun adalah minyak pilihan dan tidak semua jenis minyak cocok untuk menggoreng stik ini. Hal ini karena dapat membuat cita rasa yang berbeda.

Octo saat mengawasi para karyawannya saat membuat stik ubi ungu di rumah produksinya di Fatululi, Kupang, NTT (katongNTT)

Untuk itu, tingginya harga jual minyak akhir-akhir ini membuat Octo putar otak agar tidak mengalami kerugian.

“Harganya jual (produknya) tetap. Tapi kami hanya kurangi saja stiknya. Karena susah juga,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, sebelum akhirnya pandemi Covid19 menyerang, penjualan produk Isabela melalang buana ke hampir seluruh toko yang ada di Kota Kupang.

“Dulu itu sampai kios-kios kecil ada (produk Isabela),” ujar pria keturunan Jawa-Batak itu. Membuat keuntungan yang diraup mencapai Rp 30-50 juta per bulan. Semakin meningkat jika hari raya tiba. Bisa menembus hingga Rp100 juta.

Namun akhirnya mengalami pengurangan bahkan turun drastis saat pandemi Covid19 itu.

“Ada yang kita seleksi. Sekarang pengurangan, karena tenaga kerja juga kurang. Jadi di toko-toko yang kurang (pesananannya), kami tunda,” sebut pria yang lahir di Fontein, Kupang ini.

Untuk nama Isabela sendiri, Octo mengaku tak memiliki makna berarti. Dipilih karena namanya mudah diingat. Sayangnya, saat akan mendaftar hak paten, nama Isabela sudah ada di luar NTT. Mengharuskan Octo mengubah nama produk yang sudah dikenal masyarakat Kupang selama 11 tahun ini.

“Waktu dari Jakarta datang buat kegiatan di Kupang untuk buat hak paten, ternyata nama Isabela sudah ada di Sulawesi kalau tidak salah. Jadi dari nama Isabela kami ubah ke Marbela. Padahal izin PIRT, halal dan lainnya dengan nama Isabela sudah lengkap semua”, ujar Octo.

Istri Octo tutup usia pada 5 September 2021, setelah dikonfirmasi positif Covid19.

“Kurang lebih sepuluh bulan kemarin. Jadi waktu itu, akhir-akhir mau new normal. Semua kena. Saya, istri, dan anak-anak. Karena ada produksi di rumah, istri ambil inisiatif untuk isolasi mandiri di rumah sakit saja,’ cerita Octo.

“Pada 29 Agustus 2021, saya antar ke Rumah Sakit Bhayangkara. Tiga hari kemudian mereka jemput saya lagi, jadi baru masuk tiga hari kemudian, malah istri saya yang dipanggil pulang,” sambungnya mengisahkan kembali.

Sewaktu istrinya meninggal, Octo masih menjalani satu bulan perawatan. Membuat pemasaran harus terhenti sejenak. Namun masih tetap produksi oleh tujuh orang karyawannya.

“Kurang lebih ada lima bulan vakum, baru bangkit lagi. Dua bulan terakhir ini baru mulai kerja full.” ucap Octo.

Baginya, walau mengalami kehilangan yang mendalam, ia perlu bangkit untuk melanjutkan hidup bersama tiga anaknya masih sekolah dan para karyawannya. *****

 

Silakan hubungi nomor +6281329311337 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *