Korban KDRT Saatnya Bicara

Ilustrasi KDRT

Ilustrasi KDRT

Oleh: Adi Amtaran (Pendeta GMIT, NTT)

Seorang ibu dipukul suaminya dini hari di dalam rumah. Anak-anak menangis histeris sambil menarik tangan sang ayah supaya berhenti memukuli ibu mereka. Seorang anak yang lain memeluk ibunya dan memberi diri untuk dipukul ayahnya. Cara ini cukup ampuh untuk menghentikan amarah sang ayah kepada ibunya.

Di dini hari itu tidak seorang tetanggapun datang untuk melerai ataupun sekedar bertanya mengapa kekerasan itu terjadi?  Kenangan pahit itu membekas dalam benak  anak yang menyaksikan ibunya dipukul oleh ayahnya. Bertahun-tahun pengalaman ini dia simpan. Luka batinnya masih belum pulih.

Dia menyadari ada anggapan wajar jika perkelahian suami-isteri disertai tindak kekerasan.

Suatu hari dalam seminar tentang Undang-undang tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Nomor 23 Tahun 2004, seorang narasumber mengulas tentang defenisi KDRT, jenis dan dampaknya. Hati anak itu yang sudah beranjak dewasa kembali mengenang masa kanak-kanaknya. Sesungguhnya ibunya mengalami semuanya itu. Ibunya korban KDRT dan  pelakunya adalah ayahnya.

Kenangan masa lalu itu muncul kembali. Ibunya seorang ibu rumah tangga. Ayahnya bekerja untuk menghidupi keluarganya.  Namun, ayahnya  tidak pernah memberikan gajinya kepada istrinya.

Suatu hari beras dalam kaleng habis dan sang ibu meminta suaminya membeli beras. Jawabannya adalah makian dan bentakan kepada ibunya. Setelah puas memaki,  sang ayah pergi meninggalkan mereka sehari penuh.Ibunya tidak kehilangan akal. Di kebun belakang rumah, ada buah pisang muda. Dia ambil buah pisang muda itu, lalu direbus dan menjadi menu makan malam yang menggembirakan mereka.

Sambil makan bersama anak-anaknya, ibunya menyelipkan pesan:  “Jika dewasa nanti, selektiflah dalam memilih suami supaya hidupmu tidak sesulit ibu saat ini. “

Suatu sore, anak perempuan yang menyaksikan penderitaan ibunya datang ke pastori (rumah pendeta). Dia mengutarakan niatnya untuk menghimpun orang-orang muda dalam acara bincang-bincang seputar  penerapan Undang-Undang tentang penghapusan KDRT.  

Kami kemudian bersama-sama merancang  acara tersebut. Kenyataannya, banyak orang muda menyaksikan KDRT seperti ibu mereka dipukuli oleh ayah mereka. Reaksi ibu mereka bervariasi. Ada yang pergi ke rumah orangtua beberapa minggu dan pulang rumah dengan tetap mendapat kekerasan.

Ada yang melawan dengan balik mengancam sang ayah untuk dilaporkan ke polisi. Ada yang diam saja dan menelannya sebagai racun pahit. Bahkan ada yang minta cerai dan akhirnya bercerai. Pasca perceraianpun, kekerasan berlanjut khususnya  akibat kemiskinan yang dialami perempuan yang tidak punya penghasilan tetap.

Bagi orang muda yang menyaksikan KDRT pada orangtua, maka mereka berpotensi menjadi korban dan pelaku terhadap pasangannya.  Bahkan di saat mereka masih dalam hubungan berpacaran.

Wakil Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, Olivia Chadidjah Salampessy dalam Pelatihan Membangun Karakter Dengan Penulisan Kreatif akhir Januari 2022 mengatakan, karakteristik korban dan pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan berusia sekitar 25-40 tahun. Kemudian disusul usia 14-24 tahun. Pelaku terbanyak adalah pacar atau memiliki relasi personal dengan korban.

Catatan Komnas Perempuan dan pengalaman bincang-bincang dengan orang muda mengingatkan kita bahwa mesti ada upaya untuk mengatasi dan memutuskan mata rantai kekerasan terhadap perempuan khususnya KDRT.

Ketua Sinode GMIT, Pendeta Mery Kolimon mengumpulkan ceritera dari penyintas tragedi 1965 yang memiliki keberanian untuk terbuka  dan berbagi kisah pahit mereka.

Menurut saya, para korban KDRT sudah saatnya bicara untuk mengungkapkan dan mengumpulkan kisah KDRT yang mereka alami. Hal ini sebagai upaya membangkitkan kepekaan dan mengatasi angka kekerasan terhadap perempuan yang terus meningkat dari waktu ke waktu. *****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *