Lab Biokesmas Dorong NTT Miliki Kemandirian Riset

Fima Inabuy bersama timnya mendorong agar laboratorium di NTT tidak berhenti pada pengujian. Namun yang diharapkan adalah bisa melakukan riset dengan berfokus pada konteks kebutuhan di NTT dan berbasis sumber daya alam lokal.

Peserta pelatihan Biomolekuler dan Bioinformatika seri 1 tentang Gene-cloning sedang melakukan praktek. Pelatihan ini merupakan upaya Lab Biokesmas Provinsi NTT mendorong kemandirian riset di NTT (doc. Lab Biokesmas NTT)

Peserta pelatihan Biomolekuler dan Bioinformatika seri 1 tentang Gene-cloning sedang melakukan praktek. Pelatihan ini merupakan upaya Lab Biokesmas Provinsi NTT mendorong kemandirian riset di NTT (doc. Lab Biokesmas NTT)

Kupang – Pandemi Covid-19 dan penyebaran African Swine Fever (ASF) dalam waktu yang hampir bersamaan, membuat Nusa Tenggara Timur (NTT) kewalahan dalam pemeriksaan sampel. NTT masih tergantung pada daerah lain untuk pengujian sampel.

Untuk penyakit ASF yang menewaskan ribuan hewan ternak babi misalnya, NTT harus mengirim sampel ke Balai Besar Veteriner Denpasar dan Medan untuk pengujian sampel. Kondisi ini memakan waktu yang cukup lama.

Sama halnya dengan pandemi Covid-19. Banyak sampel yang harus diperiksa, mendorong lahirnya Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat (Lab Biokesmas) Provinsi NTT. Kepala Lab Biokesmas Provinsi NTT, Fima Inabuy menjelaskan, pemeriksaan dengan metode pooled-test qPCR mampu menekan anggaran pengadaan reagen PCR hingga 87 persen.

Fima menyebut, timnya juga mengimplementasikan program surveillances di 99 sekolah di Kota Kupang pada tahun 2021. Inovasi ini kemudian diadopsi dengan beberapa penyempurnaan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Kesiapan sumber daya peneliti di NTT sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan terkini. Misalnya, penyakit ASF, penyakit ice-ice pada rumput laut. Ini memerlukan penelitian untuk mendapatkan solusi yang tepat.

Lab Biokesmas Provinsi NTT kemudian mengadakan serial pelatihan Biomolekuler dan Bioinformatika guna menyiapkan peneliti yang handal di bidang Bioteknologi.

Biologi molekuler (Biomolekuler) merupakan studi biologi pada tingkat molekuler. Biologi molekuler terutama berkaitan dengan pemahaman interaksi antara berbagai sistem sel, termasuk keterkaitan DNA, RNA dan sintesis protein dan mempelajari bagaimana interaksi ini diatur.

Polymerase chain reaction (“reaksi berantai polimerase”, PCR) merupakan salah satu teknik dalam Biomolekuler.

Sedangkan Bioinformatika merupakan cabang ilmu komputasi dari biologi molekuler yang mempelajari metode pengumpulan data, analisa, dan interpretasi big-data biologi yang bersifat kompleks seperti data DNA, RNA dan protein.

Fima menjelaskan, ada tiga alasan pelatihan tersebut dilaksanakan. Pertama, Lab Biokesmas ingin NTT lepas dari ketergantungan pada provinsi lain soal uji dasar laboratorium untuk komoditi pertanian, peternakan dan perikanan.

Alasan kedua adalah potensi sumber daya alam (SDA) yang dimiliki NTT belum dimanfaatkan dengan baik. NTT memiliki kelor, rumput, Cendana, aneka tumbuhan herbal, ikan, ternak dan banyak potensi lain. Sayangnya, potensi tersebut belum mampu mendongkrak pendapatan asli daerah.

“Banyak produk (kelor) kita belum diterima (pasar) karena terkontaminasi ekoli,” ujar Fima di Kupang, Rabu (6/7/2022).

Kepala Lab Biokesmas Provinsi NTT, Fima Inabuy (kiri) menyampaikan upaya mereka mendorong kemandirian riset di NTT (Joe-KatongNTT)
Kepala Lab Biokesmas Provinsi NTT, Fima Inabuy (kiri) menyampaikan upaya mereka mendorong kemandirian riset di NTT (Joe-KatongNTT)

Kondisi seperti ini, membutuhkan riset untuk mencari solusi yang tepat. Firma mengatakan, riset memang bukan sesuatu yang instan, namun menghasilkan solusi yang tepat sasaran.

Selain itu, kemajuan bioteknologi, rekayasa genetika dan molekuler memungkinkan terjadinya perang biologi dan penggunaan senjata biologi. Kondisi ini, kata Firma, menjadi salah satu cara invasi ekonomi yang makin tak terhindarkan.

“Pada situasi inilah, Indonesia, khususnya NTT yang berbatasan langsung dengan Australia dan Timor Leste, perlu bersiap diri pada aspek biosafety dan biosecurity melalui berbagai riset sains secara masif dan kontinyu,” ujar Firma.

Sebagai penyelenggara pelatihan, Fima merasa puas ketika beberapa laboratorium di NTT tidak lagi bergantung ke daerah lain dalam hal pengujian setelah kegiatan seri pertama itu.

Linda Haryadi dari Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Kupang mengatakan, pihaknya mengikuti pelatihan seri pertama pada 12-13 Mei 2022. Pihaknya merasakan manfaat Biomolekuler adalah efisiensi waktu. Dengan banyak sampel yang harus diperiksa, Linda menjelaskan, pihaknya kini lebih terbantu.

“Kita sebelumnya memeriksa mutu ikan bisa sampai empat hari. Kadang masyarakat komplein karena menunggu lama. Sekarang kita sudah bisa memeriksa sampel hanya dalam satu hari,” jelas Linda.

Kepala UPTD Veteriner Dinas Peternakan Provinsi NTT, Hendrina Lero Laka berterima kasih kepada Lab Biokesmas Provinsi NTT yang membantu dokter hewan di laboratorium mereka untuk mendesain primer PCR untuk pemeriksaan ASF.

Hendrina mengatakan, laboratorium mereka memiliki alat PCR, namun bahan uji berupa primer PCR harus didatangkan dari Denpasar dan Medan.

“Dukungan aksi nyata ini, Lab UPTD Veteriner dapat mendukung masyarakat NTT yang akan melakukan pengisian kembali (restocking) ternak babi di kandang,” ujar Hendrina.

Dengan dukungan lab yang memadai saat ini, arus perpindahan ternak di NTT tidak terhambat lagi. Permintaan ternak babi terbanyak di NTT adalah pulau Sumba. Hendrina mengatakan, ternak babi yang akan dikirim harus berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Ini merupakan upaya mengontrol penyebaran ASF.

“Jika (hasil pemeriksaan negatif) ternak babi bisa dikirim ke Sumba contohnya,” jelas Hendrina.

Fima Inabuy bersama timnya mendorong agar laboratorium di NTT tidak berhenti pada pengujian. Namun yang diharapkan adalah bisa melakukan riset dengan berfokus pada konteks kebutuhan di NTT dan berbasis sumber daya alam lokal.

Fima mencontohkan, ASF saat ini belum ada vaksin di Indonesia. Meski diluar negeri, Amerika Serikat dan Vietnam sudah mematenkan penemuan vaksin mereka pada tahun 2019.

Kendati demikian, kata Fima, vaksin yang dihasilkan di luar negeri itu belum tentu sesuai dengan strain ASF di NTT. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui strain ASF di NTT.

Selain itu, dengan Biomolekuler juga bisa dilakukan penelitian pada penyakit ice-ice yang menyerang rumput laut. Dari penelitian itu bisa ditentukan agen penyebab penyakit tersebut sehingga bisa kembali meningkatkan produksi rumput laut di NTT.

Berdasarkan data BKIPM Kupang, produksi rumput laut di sekitar Kota Kupang pada tahun 2019 – 2021 menurun 45 persen. Penurunan juga terjadi pada produksi rumput laut di Pulau Rote.

Kondisi seperti ini, kata Fima, perlu adanya riset agar arah kebijakan yang diambil pun tepat sasaran dan bermanfaat.

Untuk sampai pada tujuan itu, perlu menyiapkan SDM peneliti yang handal. Lab Biokesmas Provinsi NTT memulai proses itu dengan mengadakan serial pelatihan Biomolekuler dan Bioinformatika.

Serial pertama sudah dilakukan dan serial kedua akan dilakukan pada 27 – 29 Juli tahun ini. Firma mengajak banyak peneliti, akademisi, dokter, spesial konsultan penyakit infeksi dan staf laboratorium untuk bisa berpartisipasi.

Upaya penyiapan SDM ini, kata Fima, perlu mendapatkan dukungan dari Pemerintah Provinsi NTT. Dukungan berupa anggaran akan membantu dalam operasional selama pelatihan berlangsung untuk menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan.

Kolaborasi dan dukungan tidak selamanya berupa anggaran. Firma mengatakan, dukungan berupa alat maupun bahan uji juga sangat diperlukan.

“Kita harus mendorong agar riset sains dan bioteknologi menjadi agenda prioritas daerah ini, dengan fokus kebutuhan-kebutuhan spesifik NTT dan berbasis sumber daya alam lokal,” ujarnya.

Ia berharap Pemerintah serius melihat agenda ini dan menjadikannya agenda tetap yang terus berlaku meski ada pergantian kepemimpinan di daerah ini.(Joe)

Baca juga: Rektor Universitas Nusa Cendana Nyaris Baku Hantam Bahas Laboratorium Biokesmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *