Labuan Bajo – Tingkat kunjungan wisata yang terus meningkat menuntut ketersediaan pangan yang sehat dan segar. Demikian juga Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mempunyai daya tarik wisata Komodo. Berbagai produk makanan perlu disajikan dalam kondisi segar, tanpa bahan pengawet dengan formalin atau bahan kimia lainnya.
Kondisi inilah yang mendorong praktisi budidaya udang Angelus Nainggalas mengembangkan produksi udang di Labuan Bajo sejak empat tahun lalu. Meskipun, tantangan untuk memproduksi udang segar tersebut juga tidak sedikit.
“Berbagai produk yang dipasok, terutama pangan, umumnya bukan produk segar karena sebagian besar bukan dari Labuan Bajo,” ujar Angelus.
Untuk itu, dirinya terus berupaya agar berbagai produk perikanan bisa dihasilkan dari Labuan Bajo dan sekitarnya. Salah satu target utama adalah para wisatawan.
Hal yang sama juga dilakukan Yohanis Mbot yang tertatih-tatih memulai produksi tahu di Labuan Bajo. Tekad untuk menyediakan tahu segar itu dilakukan meskipun masih terkendala pasokan kedelai. Dalam setahun terakhir, harga kedelai dari Jawa tidak stabil.
“Kedelai lokal pun tidak tidak rutin panen. Kami sangat berharap dukungan dari berbagai pihak karena produk tahu yang kami siapkan benar-benar sehat dan aman,” ujarnya dalam perbincangan dengan KatongNTT.com, Minggu (24/4/2023).
Informasi yang dihimpun menyebutkan masih sering ditemukan makanan dengan pengawet formalin atau bahan tambahan pangan lainnya. Ikan asin dan beberapa jenis obat tradisional disita BPOM karena hasil laboratorium menunjukan kandungan formalin dan bahan kimia berbahaya cukup tinggi.
Bahkan, pada musim-musim tertentu ketika ikan segar sekitar Labuan Bajo minim, berbagai produk ikan didatangkan dari luar Manggara Barat. Kondisi ini membutuhkan waktu lebih dari 12 jam agar tiba di Labuan Bajo. Inilah yang membuka peluang penggunaan bahan pengawet.
Seperti diketahui, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) memastikan makanan yang disantap Presiden RI Joko Widodo dan keluarga di Labuan Bajo aman dari delapan jenis kandungan berbahaya.
“Parameter yang diuji adalah Sianida, Nitrit, Arsen, Timbal, Formalin, Borak, Rhodamin B, dan Methanil Yellow dan hasil uji dikoordinasikan dengan paspampres untuk dinyatakan layak dihidangkan atau tidak layak dihidangkan,” kata Kepala Loka POM Manggarai Barat Andirusmin Nuryadin di Labuan Bajo, Minggu (23/3/2023) kepada Antara.
BPOM melakukan pengecekan dan pencegahan pada beberapa titik kunjungan Presiden Joko Widodo dan keluarga, diantaranya di tempat transit Bandara Komodo, Hotel Meruorah, Hotel Ayana, dan Puncak Waringin.
Nuryadin menjelaskan sistem pengawasan food security terhadap makanan Presiden Joko Widodo dan keluarga dilakukan lewat pengujian terhadap makanan tiga jam sebelum presiden tiba di lokasi. Nantinya pihak hotel yang menyiapkan makanan untuk presiden dan keluarga, lalu diambil sampel untuk diuji semua.
“Jika dinyatakan aman baru dihidangkan untuk presiden dan keluarga,” ucapnya.
Nuryadin mengatakan ada sajian makanan yang dinyatakan positif formalin, namun sudah dipisahkan untuk tidak dihidangkan.
Dia pun menyatakan komitmen BPOM untuk memastikan keamanan makanan Presiden Joko Widodo dan keluarga.
“Nanti pengujian dilakukan lagi, bergantung dari jadwal presiden kunjungan ke mana,” katanya.
Presiden RI Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo dan anak cucu telah tiba di Labuan Bajo sejak Sabtu (22/4) malam.
Selain melakukan kunjungan pribadi, yakni berlibur bersama keluarga, Presiden Joko Widodo juga memiliki agenda pengecekan persiapan Labuan Bajo sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi ke-42 ASEAN, tanggal 9 sampai 11 Mei mendatang. [Anto]




