Menembus Sekat Beragama pada Pesparani di NTT

Ketua Sanggar Lopo Gaharu, Ima Usman hadir dalam kegiatan Pesparani II tingkat Provinsi NTT (Joe-KatongNTT)

Ketua Sanggar Lopo Gaharu, Ima Usman hadir dalam kegiatan Pesparani II tingkat Provinsi NTT (Joe-KatongNTT)

Perempuan berjilbab, Ima Usman, berdiri di samping panggung dan mengamati para penari dari Sanggar Lopo Gaharu saat malam gladi resik Pesparani NTT.

Kupang – Pagelaran Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik (Pesparani) tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kedua resmi dibuka pada Minggu sore , 4 September 2022.

Aula Maria Imaculata di kompleks Universitas Katolik Widya Mandira dipenuhi ratusan orang dari 21 Kabupaten/Kota. Hanya Kontigen Kabupaten Nagekeo yang absen di Pesparani NTT 2022 ini.

Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh umat Katolik. Indahnya toleransi di bumi Flobamorata terlihat dari partisipasi umat dari agama lain seperti Kristen Protestan, Islam dan Hindu pun turut berpartisipasi.

Mereka yang berasal dari kepercayaan berbeda bukan peserta lomba. Namun mereka juga berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan bagi umat Katolik di bumi Flobamorata. Tidak ada sekat agama. Di bumi Flobamorata, persaudaraan menembus batasan tersebut.

Pada acara pembukaan, Sanggar Lopo Gaharu menampilkan sebuah tarian berjudul Flobamora Bercerita dengan koreografer Andreas Migo Pada. Tarian ini dibawakan oleh 20 orang penari, diiringi 10 pemusik.

Pada malam gladi resik Pesparani NTT, Sabtu sore, 3 September 2022, Andreas sebagai koreografer tidak hadir. Seorang perempuan berjilbab berdiri di samping panggung dan mengamati para penari dari Sanggar Lopo Gaharu.

Wanita itu adalah Ima Usman. Dia merupakan Ketua Sanggar Lopo Gaharu. Wanita yang memiliki nama lengkap Siti Samiknah M. Usman itu sudah berkali-kali mendampingi anak-anak Sanggar Lopo Gaharu tampil dalam acara-acara agama.

Kepada katongNTT Ima bercerita, Sanggar Lopo Gaharu sudah banyak mendapatkan kepercayaan untuk tampil pada acara keagamaan. Terakhir kali sebelum tampil dalam Pesparani ini, mereka tampil dalam acara ulang tahun Gereja Kota Kupang.

Sanggar Lopo Gaharu yang pada 4 September 2022 genap berusia 12 tahun. Anggota sanggar berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Menurut Ima, toleransi sudah terbangun antar sesama anggota.

“Yang menari di Pesparani ini ada yang Protestan, Islam ada juga Hindu,” kata Ima.

Awal tampil dalam acara keagamaan, Ima sempat ragu-ragu. Ia tidak yakin bakal diterima karena berbeda agama. Namun setelah tampil, mereka banyak mendapatkan apresiasi.

“Ternyata itu bentuk toleransi. Ketika kita datang (pada acara agama lain), itu adalah bentuk dukungan kita sebagai keluarga,” ujar Ima.

Guru seni dan budaya di SMA Negeri 1 Kupang itu melihat toleransi di NTT semakin hari semakin baik. Ia bahkan beberapa kali datang ke gereja mengikuti pemberkatan nikah temannya. Orang-orang tidak mempersoalkan itu.

Soal kehadirannya dalam Pesparani, Ima merasa anak-anak penari itu adalah bagian dari dirinya. Dia perlu melihat dari dekat dan memastikan mereka menampilkan yang terbaik dalam menyukseskan hajatan umat Katolik itu.

Ima pun bersyukur bisa dipercaya bersama dengan Sanggar Lopo Gaharu menjadi bagian dari perhelatan terbesar umat Katolik di NTT. Ibarat tubuh manusia, mereka adalah salah satu anggota tubuh yang punya fungsi tersendiri. Karena itu, Ima merasa bertanggungjawab untuk memastikan penampilan para penari bisa maksimal.

Saat acara pembukaan, Ima hadir mengenakan pakaian motif tenun NTT. Dia berjalan dari belakang mengawal para penari dan pemusik memasuki ruang pertunjukan.

Dalam menyukseskan Pesparani NTT 2022, umat Muslim di NTT melalui Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan di NTT menyumbang dana Rp 100 juta. Ini bentuk dukungan umat Muslim yang menembus berbagai sekat dan meningkatkan kerukunan antar umat beragama di nusa terindah toleransi.

Uskup Agung Ende, Mgr. Vinsensius Sensi Potokota, Pr mengaminkan betapa pentingnya toleransi di tengah keberagaman. Dalam khotbahnya pada pembukaan kegiatan itu, Uskup Potokota meminta umat Katolik meninggalkan egoisme fanatisme sempit yang membunuh persaudaraan.

“Sebagai komunitas Katolik kita ingin menegaskan komitmen kita dalam bernegara, untuk merajut kembali keragaman dalam hidup berbangsa dan bernegara,” pesan Uskup Potokota. *****

Baca juga: Gema Pesan Toleransi dalam Pembukaan Pesparani NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *