Mengenang Tradisi Lunat ‘Tato’ yang Punah dari Pulau Timor

Tradisi Lunat atau tato pada masyarakat etnis Dawan di Pulau Timor yang punah antara lain disebabkan stigmatisasi. (Dok. Timor Indikator)

Tradisi Lunat atau tato pada masyarakat etnis Dawan di Pulau Timor yang punah antara lain disebabkan stigmatisasi. (Dok. Timor Indikator)

Empat faktor ini sebagai pemicu kepunahan tradisi Lunat di etnis Dawan di Pulau Timor di antaranya stigma sebagai anggota PKI.

Kupang –Etnis Dawan di Pulau Timor memiliki tradisi melukis tubuh yang disebut Lunat, atau kita mengenalnya sebagai tato. Bagi etnis terbesar di Pulau Timor ini, Lunat memiliki makna yang sakral dan dihormati bahkan setelah mereka meninggal.

Peneliti Tato Tradisional Lunat Masyarakat Dawan di Timor Barat,  Fransisco de Ch. Anugerah Jacob mengangkat kembali tradisi Lunat. Tradisi ini sudah hilang dari masyarakat tempat ia dilahirkan.

Chico melakukan riset tentang Lunat dari Februari – April 2021 di tiga kabupaten di Pulau Timor, yaitu Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dan Kabupaten Timor Tengah Utara. Sebanyak 20 responden diwawancarai secara mendalam.

Menurut Chico, sapaan akrabnya, tradisi Lunat diwarisi turun temurun yang ditemukan pada laki-laki maupun perempuan.  Lunat lebih bertahan lama di tubuh perempuan dibandingkan pria. Alasannya tak diketahui secara pasti.

Namun, Lunat sendiri punya makna lebih mendalam bagi perempuan. Seperti yang dikatakan J. G. F. Riedel dalam artikelnya berjudul Prohibitieve teekens en Tatuagevormen op het e., menjelaskan alasannya. Yakni perempuan akan kuat dan tegar menanggung persoalan dalam keluarga jika ia berani menanggung sakit selama pembuatan Lunat.

Penelitian Chico menjelaskan, orang Dawan yang memegang teguh tradisi leluhur percaya bahwa Lunat digunakan untuk membeli api ketika mereka meninggal nanti.

“Mereka (masyarakat Dawan) itu percaya, kalau nanti saat meninggal, maka jiwa seseorang atau disebut smanaf, akan kembali ke dunia para leluhur melalui Gunung Mutis. Jalan yang harus ditempuh ini sangat gelap. Jadi jiwa butuh api untuk menerangi perjalanan mereka,” kata Chico.

“ Nah api ini hanya bisa didapat dengan menukarkannya dengan Lunat yang ada di badan,” ujar Chico melanjutkan.

Pria yang juga seorang pendeta itu kemudian menuturkan, keyakinan inilah yang membuat masyarakat Dawan di masa dulu sangat menghargai Lunat. Mereka mewariskan tradisi  Lunat itu dari generasi ke generasi.

“Sayangnya, kini Lunat sudah tak dipraktikkan lagi, dan hanya dijumpai serta diketahui oleh masyarakat berusia 50 tahun ke atas saja.”

Rosalina Fatu, istri Raja Amanatun Utara menunjukkan Lunat khusus di tangan kanannya yang menjadi penanda bahwa ia adalah seorang bangsawan. (Dok Timor Indikator)

Sejarah Lunat di Pulau Timor

Sejarah yang tertulis tentang tato tradisional di Pulau Timor dapat dijumpai dalam Tattoing Timor karya Fareed Kaviani. Dia menjelaskan perajahan atau tato ini sudah dilakukan masyarakat Timor bahkan sebelum kedatangan bangsa Portugis.

Ian Glover dalam disertasinya, Excavation in Timor: A study of economic change and cultural continuity in prehistory, mengungkapkan masyarakat Dawan sejak zaman prasejarah sudah melakukan tato.

Golver menduga motif Lunat yang ada pada tubuh masyarakat Dawan merupakan peninggalan bangsa Melanesia. Ini dapat dilihat melalui lukisan-lukisan gua di sejumlah wilayah Indonesia Timur ketika melakukan migrasi ke Indonesia Timur sekitar dua ribu tahun lalu.

Chico dalam penelitiannya mendapati terdapat banyak motif tato suku Dawan.

“Motifnya itu saya wawancara nenek Fransina Tafuli.  Dia bilang mereka dapat dari warisan nenek moyang atau dari benda-benda di sekitar mereka. Seperti gelas, pohon, hewan, dan lain-lain,” ujar Chico.

“Dan juga, motif Lunat di tubuh mereka itu biasanya jadi motif tenunan,” lanjutnya.

Ini menjadikan Lunat juga sebagai media pengetahuan terkait motif-motif tenunan.

Selain itu, fungsi Lunat sebagai penanda strata sosial di masyarakat. Gual, Setyaningsih, dan  Bolaer dalam artikel  ‘Tato Tradisional Masyarakat Desa Haulasi’, menemukan hal itu di desa Haulasi di Timor Timur Utara. Di desa Haulasi, seseorang dari strata sosial tinggi memiliki Lunat dengan motif seekor kuda.

Sedangkan di Amanatun Utara, Chico mewawancarai seorang istri Raja Amanatun Utara bernama Rosalina Fatu. Dia mengungkapkan, seorang bangsawan memiliki Lunat khusus di tubuhnya sebagai  penanda status sosialnya.

“Nenek Rosalina ini adalah istri Raja di Amanatun Utara. Jadi dia punya tato khusus di tangan kanannya yang menunjukkan kalau dia itu kaum bangsawan,” ujar Chico.

Salah satu Antropolog Belanda, Alb. C Kruyt, melakukan penelitian di Timor Barat tahun 1918 dan mendapati hampir semua orang Dawan memiliki Lunat di tubuhnya.

Dalam suratnya di Majalah De Timor-Bode pada 1920, Kruy menguraikan Lunat pada perempuan biasanya terletak di paha, kaki, tangan, dan memanjang dari dagu hingga ke pusar. Sedangkan laki-laki biasanya di lengan, punggung, dan dada.

Seorang responden bernama Yusuf Atoni, 71 tahun, mengatakan bahan yang digunakan untuk melukis Lunat terdiri atas abu lampu pelita, madu atau cairan tebu, dan beberapa daun khusus. Daun-daun tersebut ditumbuk sampai halus, lalu dicampurkan dengan abu lampu pelita dan tebu atau madu.

Bahan yang telah dicampur selanjutnya  dioleskan ke tubuh mengikuti motif yang diinginkan. Setelah itu masyarakat Dawan menggunakan duri sebagai alat untuk merajah dengan cara menusuknya secara perlahan mengikuti pola yang sudah dibuat.

Proses ini , ujar Yusuf sangat sakit dan tubuh mengeluarkan darah. Penyembuhannya pun bahkan berlangsung selama satu hingga dua minggu. Hingga setelah luka sembuh, Lunat pun akan terlihat.

Peneliti Tato Tradisional Lunat Masyarakat Dawan di Timor Barat, Fransisco de Ch. Anugerah Jacob. (Ruth-KatongNTT.com)

4 Faktor Ini Memicu Tradisi Lunat Punah

Dari hasil riset, Chico mendapati empat faktor ini sebagai pemicu kepunahan tradisi Lunat di masyarakat Dawan di Pulau Timor.

  1. Hilangnya makna religius Lunat

Lunat pada dasarnya memiliki makna religious sebagai ‘uang’ untuk membeli api saat meninggal kelak. Sehingga orang tersebut tidak tersesat ketika menuju dunia leluhur. Akan tetapi, saat misionaris Portugis dan Belanda datang menyebarkan agama Kristen dan Katolik, perlahan-lahan makna Lunat memudar.

Paham keselamatan yang awalnya masyarakat Dawan percaya bisa didapatkan lewat Lunat, berubah ketika masyarakat mulai menganut paham keselamatan didapatkan dengan percaya akan Tuhan Yesus.

Hal ini membuat masyarakat Dawan berangsur-angsur tidak lagi menjalankan praktik Lunat. Masyarakat menganggap Lunat tidak lagi menjadi sesuatu yang wajib dilakukan untuk mengejar keselamatan.

2.Terputusnya pengetahuan kepada generasi penerus

Berubahnya pandangan religius terhadap Lunatberpengaruh juga pada transfer pengetahuan kepada generasi berikutnya. Masyarakat mulai mempercayai agama baru sehingga nilai dari Lunat tak lagi dipercayai. Kebanyakam responden Chico dalam penelitiannya ini mengaku Lunat di tubuh mereka lebih karena mengikuti kebiasaan orang tua dulu. Mereka tidak  tahu secara pasti makna sejatinya dari Lunat.

Hal ini membuktikan transfer informasi yang minim dari pendahulu sehingga membuat generasi terbaru tidak banyak tahu akan esensi tradisi Lunat. Kemudian secara perlahan   praktik budaya Lunat punah.

3. Stigma sebagai anggota PKI

Pada 1965, terjadi pemburuan dan penangkapan massal bagi setiap mereka yang dituduh sebagai anggota PKI. Banyak korban dikejar hingga ke pelosok, kemudian ditangkap, disiksa, dan dibunuh.

Selama masa Orde Baru, rakyat yang masih menganut kepercayaan tradisional disamakan dengan PKI yang disebut tidak beragama. Hal ini membuat rakyat penganut agama tradisional ketakutan. Mereka kemudian memilih untuk menganut agama resmi yang diakui negara, agar terhindar dari pembunuhan.

Dalam pemahaman pemerintah dan gereja, orang yang masih memiliki Lunat dianggap punya keterkaitan dengan PKI, karena masih tak ber Tuhan. Atas dasar pemikiran inilah, pemerintah mencari masyarakat yang masih punya Lunat di tubuhnya. Masyarakat pun berusaha menghapus Lunat di tubuh mereka.

Pelbagai cara dilakukan untuk menghapus jejak agama tradisional ini. Dari menggunakan deterjen dan kapur sirih atau getah pohon yang digosok kasar ke bagian badan yang punya Lunat. Hingga tubuh mereka terluka. Ada pula yang sampai menyetrika kulitnya dan menyirami anggota tubuhnya dengan air keras (AKI) agar Lunat  tak terlihat.

Pengalaman traumatis ini membuat para orang tua tak ingin lagi mewariskannya ke anak cucu mereka.  Chico menyebut, faktor ketiga ini adalah yang paling dominan atas terputusnya tradisi Lunat.

4. Larangan untuk bersekolah

Selain akan mengalami kekerasan fisik bahkan dibunuh, masyarakat yang dianggap berafiliasi dengan PKI akan dikucilkan. Mereka tidak diperbolehkan mengecap pendidikan. Sebagian besar sekolah bahkan mengeluarkan peraturan melarang anak-anak ber-Lunat.  Bila kedapatan, anak akan dikeluarkan dari sekolah.

Akhirnya, para orang tua memilih untuk melepas praktik Lunat ini demi memberi kesempatan pada anak-anak mereka mengecap bangku pendidikan.

Kini, praktik Lunat sudah tidak diteruskan lagi di masyarakat Dawan. Para pelaku Lunat pun sudah mencapai usia senja dan makin sedikit bukti hidup dari praktik budaya Lunat ini.

Selain itu, stigma negatif yang beredar di masyarakat dewasa ini terhadap tato, semakin memperlebar jarak antara manusia dan budayanya. 

Chico menyebut, secara umum tato sebenarnya adalah praktik yang membudaya yang menjadi identitas.

“Padahal kalau dari hasil riset, sebenarnya tato itu kekayaan budaya. Jadi praktik merajah itu membudaya sebenarnya. Sesuatu yang dihidupi dan dilakukan oleh orang tua kita dulu-dulu. Dan menjadikan itu sebagai identitas kita sebagai masyarakat Dawan,” pungkas Chico. (Ruth)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *