• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Jumat, April 17, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Opini

Mindset “Pemadam Kebakaran” Mengatasi Serangan Rabies di NTT

Rita Hasugian by Rita Hasugian
3 tahun ago
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Ilustrasi.

Ilustrasi

0
SHARES
48
VIEWS

Virus rabies telah merengut puluhan nyawa manusia di Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam tiga bulan terakhir. Semua korban tertular rabies dari gigitan anjing yang telah terinfeksi virus ini.

Pulau Timor selama ini diklaim bebas rabies. Namun dalam waktu cepat rabies yang awalnya merebak di Pulau Flores dan Lembata, ternyata ditemukan juga di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Bahkan TTS menjadi wilayah terparah dibandingkan kabupaten lainnya di Pulau Timor.  Sebanyak 7 kecamatan diisolasi bahkan TTS mendapat status kejadian luar biasa pada 30 Mei 2023.

Korban pun berjatuhan. Anak-anak meregang nyawa setelah bertarung sekitar 2-3 bulan melawan rabies di tubuh mereka. Orang tua atau anggota keluarga melarikan korban ke rumah sakit dalam kondisi sudah parah dan tidak tertolong lagi.

BacaJuga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

13 April 2026
Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

8 April 2026

Rabies membunuh korbannya secara perlahan untuk kemudian merenggut nyawa secara mengenaskan. Seseorang terpapar rabies melalui air liur dan cakaran kuku anjing, kucing atau kelelawar terhadap manusia. Gejala rabies muncul beberapa hari kemudian hingga pada puncaknya sekitar 2 bulan kemudian. Umumnya berujung pada kematian karena korban terlambat mendapatkan pertolongan.

Baca juga: 5 Anak Korban Rabies Tutup Usia, Andai Segera Dicegah

Dalam berbagai kasus rabies di NTT yang ditayangkan di media sosial maupun media berita, masyarakat panik dan belum paham tentang pentingnya pencegahan dini. Jika itu dilakukan,  korban yang terinfeksi rabies berpeluang untuk hidup lebih lama.

Merujuk pada fakta dan data tentang serangan rabies di NTT, saya mempertanyakan peran penyuluh kesehatan di desa hingga di dusun. Juga mempertanyakan peran perangkat desa menghadapi rabies.

Seandainya sosialisasi dan kampanye mencegah rabies intens dilakukan di masyarakat, tentu tidak terjadi jatuh korban jiwa.  Kita tahu anjing merupakan hewan piaraan yang umum ditemukan di masyarakat di NTT. Sehingga semestinya, penyuluh kesehatan dan perangkat desa sudah punya mindset antisipasi atau pencegahan.(preventable death).

Namun pendekatan yang dilakukan ala pemadam kebakaran. Kemungkinan juga anggapan Pulau Timor bebas dari rabies, sehingga memunculkan sikap kurang waspada atau teledor.

Saya mengutip laporan KatongNTT.com tentang seorang anak perempuan usia 7 tahun tewas terinfeksi rabies pada 28 Juni 2023:

Bocah ini diserang seekor anjing saat berlibur di rumah kakek-neneknya di Desa Oelet, TTS pada 23 April 2023. Nenek bocah itu mengompres dengan air hangat dan mengolesi luka dengan minyak kelapa. Dengan kondisi masih luka, demam, bocah itu masuk sekolah. Sang guru merawat lukanya dengan membalurkan alkohol ke luka gigitan anjing.

Ilustrasi rabies yang ditularkan melalui anjing (Liputan6,.com)
Ilustrasi rabies yang ditularkan melalui anjing (Liputan6.com)


Pihak Rumah Sakit Umum Daerah Soe mengatakan keluarga korban tidak mengetahui ada rabies di Pulau Timor. Dengan alasan itu, keluarga tidak segera membawa bocah tersebut berobat ke puskemas terdekat.

Fakta dalam berita ini menunjukkan betapa masyarakat NTT  tidak mendapatkan informasi yang benar tentang rabies dan cara mencegah atau mengobati korban. Padahal anak itu berpeluang hidup karena masa inkubasi virus itu 1 minggu hingga sekitar 2 bulan.

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization- WHO) di laman resminya menyebutkan rabies termasuk jenis penyakit yang dapat dicegah sehingga korban tidak mengalami kematian. Bahkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan, rabies 100 persen dapat dicegah agar tidak terjadi kematian!

WHO kemudian memberikan saran tiga langkah untuk mencegah rabies merenggut nyawa. Pertama, memberikan pengetahuan dan pemahaman pada setiap orang tentang pentingnya pengetahuan tentang virus rabies, bagaimana alur penularannya, cara mencegah tertular, gejala-gejala yang muncul,  hingga upaya mengatasi segera jika sudah terpapar rabies.

Baca juga: Eksekusi Mati Hewan Rabies Tidak Bisa Asal Dilakukan

Selanjutnya, WHO menyarankan setiap orang yang belum terpapar melakukan imunisasi vaksin rabies untuk mencegah tertular (pre- exposure prophylaxis) dan setelah terkena rabies (post-exposure prophylaxis).

Langkah terakhir ini disebut WHO sebagai langkah yang paling strategis untuk pencegahan yakni memberi vaksin kepada anjing termasuk anak-anak anjing, baik itu yang sudah terinfeksi rabies maupun yang sehat. Langkah ini sangat membantu mencegah penularan ke manusia dan tentunya mengurangi imunisasi bagi mereka yang telah terpapar rabies (post-exposure prophylaxis).

Bagaimana langkah pencegahan terkena jika anda digigit atau dicakar hewan yang diduga kuat sudah terpapar rabies? WHO memberikan langkah sederhana ini sebelum anda berobat lebih lanjut ke dokter di puskesmas atau rumah sakit:

  1. Sesegera mungkin bersihkan luka cakaran atau gigitan hewan dengan sabun mandi atau deterjen.
  2. Siram luka dengan air bersih sebanyak-banyaknya selama sekitar 15 menit.
  3. Oleskan obat anti yodium atau anti virus pada bagian luka yang sudah dicuci bersih .
  4. Hindari mengoleskan bahan yang menimbulkan iritasi pada luka seperti bubuk cabai, tanaman yang dilumat, atau asam dan basa.
  5. Tidak menutup luka dengan perban atau pembalut.
  6. Bergegas untuk membawa orang yang terluka tersebut ke tempat perawatan kesehatan untuk mendapatkan perawatan kesehatan oleh tenaga ahli profesional.
  7. Jika memungkinkan, hewan yang menggigit orang dikandangkan untuk diserahkan kepada petugas kesehatan guna mendapatkan informasi tentang hewan tersebut. Hewan dikandangkan dan diawasi selama 10 hari.

Baca juga: Rabies di NTT, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia Turun Tangan 

Jika saran WHO ini disosialisasikan dengan baik secara berkesinambungan kepada masyarakat NTT, tentu tidak akan jatuh korban jiwa.

Jangan tumpahkan pula kesalahan pada hewan. Justru hewan ini dijangkiti virus jahanam ini. Manusia sebagai makhluk hidup paling sempurna mestinya memiliki kemampuan untuk mengatasinya. Selain itu, memiliki kemauan untuk mengkoreksi mindset pemadam kebakaran menjadi berperspektif antisipasi atau pencegahan. *****

 

 

 

 

Tags: #CDC#Imunisasi#Kabupatentts#Lembata#Preventabledeath#PulauFlores#PulauTimor#Rabies#VaksinRabies#WHO
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

by Gerardus Taena
13 April 2026
0

Konsep komunio merupakan salah satu pilar teologis yang mendasar dalam diskursus kekristenan, terutama dalam konteks Gereja dan kehidupan religius. Dalam...

Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

by Frumentiana Leto
8 April 2026
0

Pernahkah kita membayangkan seorang bapak yang berangkat sebelum fajar menyingsing, mendayung perahu ke tengah laut, dan pulang siang hari dengan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati