Kupang – Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan putra dari calon presiden Ganjar Pranowo, Muhammad Zinedine Alam Ganjar, mengunjungi Nusa Tenggara Timur (NTT) hari ini Rabu, 7 Februari 2024.
Mereka memiliki agenda terpisah selama berada di Kota Kupang. Ahok akan berdialog di Gereja Bukit Zaitun Oesapa pukul 13.30 WITA, dilanjutkan ke Gereja Masehi Musafir Indonesia – Jemaat Hermon Nunbaun Sabu. Setelahnya ia berdialog di Milenium Ballroom. Kemudian makan malam bersama dengan Alam Ganjar di B&B Sotis.
Baca juga : NTT Beri Rp 2,6 Miliar ke 11 Parpol, PDIP Terbanyak
Alam Ganjar sendiri diagendakan bertemu warga kota dan menggelar diskusi informal. Keduanya akan mengakhiri kegiatan masing-masing dengan makan malam bersama.
Kedatangan Ahok ke NTT ini 5 hari pasca ia mundur sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) pada 2 Februari 2024. Alasannya agar ia bisa mengkampanyekan capres dan cawapres nomor urut 3, Ganjar dan Mahfud MD.
Baca juga : Ganjar dan Megawati Dijadwalkan ke NTT
Sebelum menyatakan mundur dari BUMN tersebut, Ahok juga sempat mengunjungi Pulau Sumba Januari lalu selama 2 hari. Ia berlibur di sana bersama sang istri, Puput Nastiti Devi.
Mantan politisi Gerindra ini pun langsung menghadiri Konser Salam Metal Ganjar-Mahfud di Stadion GBK, Jakarta, sehari setelah keluar dari Pertamina. Ia saat itu menyatakan akan lebih fokus berkampanye di Jakarta.
Kunjungan Ahok ke NTT ini pun dinilai akademisi FISIP Universitas Nusa Cendana (Undana), Yeftha Sabaat, sebagai langkah strategis dalam menguntungkan PDI Perjuangan.
Baca juga: Jadi Pengurus PDIP, Anggota Bawaslu Lembata Dipecat
“Karena kehadiran Ahok sendiri berpotensi memecah basis suara Jokowi di NTT. Seperti yang kita ketahui kalau basis suara Jokowi di NTT begitu solid sehingga PDIP butuh sosok Ahok untuk mengganggu basis suara yang dimaksud,” tanggapnya saat dihubungi Rabu 7 Februari 2024.
Jokowi sendiri diusung PDIP dan naik sebagai Presiden Indonesia selama dua periode dan menang telak di NTT atas Prabowo.
Jokowi kala itu berpasangan dengan Jusuf Kalla pada pilpres 2014. Mereka meraih 1.488.076 suara, sedangkan rivalnya, Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa hanya meraih 769.391 suara di NTT.
Baca juga: Xanana Temui Jokowi Bahas Penyelesaian Batas Negara
Kemudian pada pilpres 2019, Jokowi yang berpasangan dengan Ma’ruf Amin berhasil meraih 2.368.982 suara atau 88.57 persen di NTT. Jokowi mengalahkan Prabowo lagi yang saat itu menggandeng Sandiaga Uno. Prabowo – Sandi mendapat 305.587 suara saja.
Yeftha pun menilai Ahok sebagai representasi politisi kristen atau nasrani yang ingin memecah basis suara mayoritas Jokowi di NTT. Tempat diskusi Ahok di Kota Kupang cukup menjelaskan identitas keagamaannya itu.
“Karena sosok Ahok juga masih dikagumi banyak masyarakat NTT,” tukasnya.
Baca juga: Pertamina Larang SPBU di Lembata Jual Solar
Datangnya mantan Gubernur DKI Jakarta ini di NTT pun dinilai akan berdampak baik terhadap elektabilitas Ganjar dan Mahfud. Ia menyebut kehadiran Ahok ini sekaligus menjadi kejutan bagi Jokowi.
“Itu saya sebut dengan Ahok Effect,” ujar dia.
Ganjar juga lebih dulu mengunjungi di NTT daripada capres atau cawapres lainnya. Pada 1-2 Desember 2023 Ganjar ke NTT setelah kunjungannya ke Papua. Saat itu politisi PDIP ini berkegiatan di Kupang, Ende dan Rote. Ganjar juga kembali lagi ke NTT pada 26 Januari 2024 dengan mengunjungi Kabupaten Manggarai.
Baca juga : Kampus Kritik Jokowi Habis-habisan, Bahaya Besar Kini Mengintai
Sementara Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi, yang menjadi cawapres Prabowo datang ke NTT pada 29 Desember 2023.
Majunya Gibran sendiri akhir-akhir ini memicu kritik sejumlah kampus terhadap ayahnya. Anak sulung Jokowi yang berusia 36 tahun itu lolos sebagai cawapres setelah syarat batas umur cawapres diubah Mahkamah Konstitusi. Hakimnya sendiri adalah Anwar Usman, ipar dari Jokowi. ***


