Kupang – Antraks mewabah di Gunungkidul, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, dan menelan korban jiwa. Beberapa warga diketahui meninggal dunia usai mengonsumsi daging dari sapi yang mati mendadak.
Nusa Tenggara Timur (NTT) sendiri masih bebas dari antraks karena pengawasan di pintu-pintu masuk seperti bandara dan pelabuhan diperketat selama ini.
Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Kupang menegaskan pencegahan masuknya penyakit berbahaya seperti ini sudah diperketat saat merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) di Indonesia.
Baca juga : Kepala Karantina Sebut NTT Berpeluang Ekspor Jagung dan Daging, Ini Syaratnya
Kepala BKP Kupang, Yulius Umbu Hunggar, mengatakan NTT yang masih bebas dari antraks akan tetap dijaga agar tidak ada korban baik manusia dan ternak.
“Tidak ada temuan kasus seperti itu di wilayah NTT sejauh ini,” jawab Yulius saat diwawancarai, Jumat 7 Juli 2023.
Baca juga : Rabies di NTT, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia Turun Tangan
Yulius menyampaikan ini saat meninjau 1.200 ekor sapi yang melalui masa karantina di Instalasi Karantina Pertanian BKP Kupang. Seluruh ternak ini akan dikirim ke Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.
Ia menegaskan Provinsi NTT selama ini sudah tegas melarang masuknya hewan dari wilayah yang ditemukan berbagai kasus yang membahayakan ternak dan manusia.
NTT juga menutup masuknya ternak potong seperti sapi, kerbau, domba dan kuda maupun produk turunannya. Ternak yang berbahaya sebagai pembawa penyakit berbahaya termasuk antraks juga sangat dilarang dibawa ke NTT.
Baca juga : Australia Bantu NTT Alat Canggih Mampu Mendeteksi 82 Virus Pada Ternak
“Ada berbagai macam penyakit kita antisipasi dengan menutup pintu masuk, tidak membolehkan masuknya hewan ternak maupun produknya ke NTT. Aturan dan rujukannya harus ada,” tanggap Yulius.
Selain pencegahan, pemeriksaan hewan juga rutin dilaksanakan saat karantina selama 14 hari sebelum sapi diantar-pulaukan. Untuk antraks dilakukan pemeriksaan secara klinis. Berbagai penyakit juga dideteksi termasuk PMK.
Hewan dengan ciri antraks yang spesifik, jelas Yulius, seperti adanya darah yang keluar dari hidung ternak, luka pada kulit dan diare darah.
“Belum ada temuan kasus yang berkaitan dengan antraks. Mudah-mudahan tidak ditemukan. NTT masih sehat dari antraks maupun penyakit berbahaya lain,” ungkap dia. ****




