• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Senin, Mei 4, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Bisnis Agribisnis

NTT Perlu Kembangkan Singkong untuk Atasi Stunting

Tim Redaksi by Tim Redaksi
4 tahun ago
in Agribisnis
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Focus Group Discussion (FGD) tentang manfaat singkong (Heri - KatongNTT.com)

Focus Group Discussion (FGD) tentang manfaat singkong (Heri - KatongNTT.com)

0
SHARES
220
VIEWS

Jakarta – Persoalan stunting di Indonesia masih perlu terobosan untuk diatasi, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain kelor, singkong merupakan salah satu komoditas yang bisa dikembangkan untuk mengatasi stunting tersebut. Hal ini sejalan dengan kearifan tradisional masyarakat yang sudah memanfaatkan berbagai olahan singkong.

Deputi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Rizal Damanik mengatakan singkong mempunyai potensi untuk dikembangkan sehingga mengatasi stunting.

Hal itu membutuhkan kajian lebih lanjut dan perlu mendapatkan sentuhan tertentu sehingga kandungan protein bisa ditingkatkan.

“Tentu membutuhkan kajian lebih rinci agar berbagai kandungan gizi dari singkong tersebut bisa dikembangkan dengan pendekatan tertentu. Ilmu dan teknologi sudah cukup maju dan sejumlah komoditas di Indonesia mempunyai potensi dalam mengatasi stunting,” katanya kepada KatongNTT di sela-sela Focus Group Discussion (FGD) soal singkong yang digelar Institut Pertanian Bogor (IPB) akhir pekan lalu.

Dia menegaskan bahwa masyarakat Indonesia, khususnya wilayah Timur, sudah mengonsumsi singkong secara turun-temurun. Bahkan, setiap daerah mempunyai jenis olahan singkong dengan berbagai cita rasa dan kekhasan.

“Apalagi iklim dan kondisi lahan di Indonesia timur sangat cocok dengan singkong,” ujar guru besar IPB ini.

Sebelum menjadi Deputi BKKBN, Rizal melakukan kajian mendalam tentang potensi gizi daun torbangun yang banyak dikonsumsi masyarakat suku Batak. Tumbuhan dengan nama ilmiah Coleus amboinicuslour ini dipercaya mampu meningkatkan air susu ibu (ASI) sekaligus memperkuat fisik ibu yang baru melahirkan.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan jajarannya untuk menurunkan angka stunting di Indonesia menjadi 14 persen pada 2024 mendatang, turun dari angka stunting 24,4 persen pada 2021. Hal itu ditegaskannya lagi saat memberikan sambutan HUT ke-49 PDI-Perjuangan, Senin, 10 Januari 2022.

Jokowi mengatakan, pandemi Covid-19 tidak boleh menghentikan upaya pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup rakyat. Salah satunya stunting. Masalah tersebut sudah mengalami penurunan yang sebelumnya 37,2 persen pada 7 tahun lalu, saat ini sudah turun 24,4 persen.

“Masalah stunting yang menjadi tantangan besar sumber daya unggul, SDM unggul kita terus kita turunkan,” kata Jokowi dalam siaran YouTube PDI-Perjuangan. [k-04)

BacaJuga

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

12 September 2024
Petani rumput laut di NTT meradang pasca terbitnya pergub yang melarang pengiriman ke luar daerah (Joe-KatongNTT)

NTT Belum Ekspor Rumput Laut Tahun Ini

30 Mei 2024
Tags: #BKKBN#IPB#NTT#singkong#stunting
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

by Rita Hasugian
12 September 2024
0

Boleh jadi kita tidak pernah terlintas cari tahu tentang jenis jagung yang kita konsumsi, apakah berasal dari bibit jagung lokal...

Petani rumput laut di NTT meradang pasca terbitnya pergub yang melarang pengiriman ke luar daerah (Joe-KatongNTT)

NTT Belum Ekspor Rumput Laut Tahun Ini

by Tim Redaksi
30 Mei 2024
0

Ekspor rumput laut NTT ini memang minim sejak ekspor perdana pada 2019 lalu sebesar 25 ton Alkali Treated Cottonii (ATC)...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati