NTT Perlu Kembangkan Singkong untuk Atasi Stunting

Focus Group Discussion (FGD) tentang manfaat singkong (Heri - KatongNTT.com)

Focus Group Discussion (FGD) tentang manfaat singkong (Heri - KatongNTT.com)

Jakarta – Persoalan stunting di Indonesia masih perlu terobosan untuk diatasi, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain kelor, singkong merupakan salah satu komoditas yang bisa dikembangkan untuk mengatasi stunting tersebut. Hal ini sejalan dengan kearifan tradisional masyarakat yang sudah memanfaatkan berbagai olahan singkong.

Deputi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Rizal Damanik mengatakan singkong mempunyai potensi untuk dikembangkan sehingga mengatasi stunting.

Hal itu membutuhkan kajian lebih lanjut dan perlu mendapatkan sentuhan tertentu sehingga kandungan protein bisa ditingkatkan.

“Tentu membutuhkan kajian lebih rinci agar berbagai kandungan gizi dari singkong tersebut bisa dikembangkan dengan pendekatan tertentu. Ilmu dan teknologi sudah cukup maju dan sejumlah komoditas di Indonesia mempunyai potensi dalam mengatasi stunting,” katanya kepada KatongNTT di sela-sela Focus Group Discussion (FGD) soal singkong yang digelar Institut Pertanian Bogor (IPB) akhir pekan lalu.

Dia menegaskan bahwa masyarakat Indonesia, khususnya wilayah Timur, sudah mengonsumsi singkong secara turun-temurun. Bahkan, setiap daerah mempunyai jenis olahan singkong dengan berbagai cita rasa dan kekhasan.

“Apalagi iklim dan kondisi lahan di Indonesia timur sangat cocok dengan singkong,” ujar guru besar IPB ini.

Sebelum menjadi Deputi BKKBN, Rizal melakukan kajian mendalam tentang potensi gizi daun torbangun yang banyak dikonsumsi masyarakat suku Batak. Tumbuhan dengan nama ilmiah Coleus amboinicuslour ini dipercaya mampu meningkatkan air susu ibu (ASI) sekaligus memperkuat fisik ibu yang baru melahirkan.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan jajarannya untuk menurunkan angka stunting di Indonesia menjadi 14 persen pada 2024 mendatang, turun dari angka stunting 24,4 persen pada 2021. Hal itu ditegaskannya lagi saat memberikan sambutan HUT ke-49 PDI-Perjuangan, Senin, 10 Januari 2022.

Jokowi mengatakan, pandemi Covid-19 tidak boleh menghentikan upaya pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup rakyat. Salah satunya stunting. Masalah tersebut sudah mengalami penurunan yang sebelumnya 37,2 persen pada 7 tahun lalu, saat ini sudah turun 24,4 persen.

“Masalah stunting yang menjadi tantangan besar sumber daya unggul, SDM unggul kita terus kita turunkan,” kata Jokowi dalam siaran YouTube PDI-Perjuangan. [k-04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *