NTT Tutup Pelayaran 12-26 Juli, Penerbangan Wajibkan Vaksin

penutupan pelayaran baik kapal laut, kapal motor penyeberangan, dan kapal pelayaran rakyat yang masuk dari luar wilayah NTT ke dalam wilayah NTT pada 12-26 Juli 2021.

Loket pembayaran rapid test untuk cegah penularan Covid-19 di Pelabuhan ASDP di Bolog, Kupang, NTT, Jumat, 9 Juli 2021. (Ra-KatongNTT.com)

Loket pembayaran rapid test untuk cegah penularan Covid-19 di Pelabuhan ASDP di Bolog, Kupang, NTT, Jumat, 9 Juli 2021. (Ra-KatongNTT.com)

Dinas Perhubungan Provinsi NTT merevisi kebijakan penutupan pelayaran dan penerbangan untuk mencegah lonjakan penularan Covid-19. Aturan penutupan yang semula berlaku 7 Juli ini ditarik kembali dan diberlakukan 12-26 Juli 2021.

Aturan penutupan pelayaran dan penerbangan yang berlaku mulai 12 Juli nanti berdasarkan surat pemberitahuan dan revisi kepada operator pelayaran, penerbangan, dan penyeberangan yang dikeluarkan 7 Juli.

Hermin Welkis, Manajer Usaha ASDP Kupang membenarkan penutupan pelayaran bagi penumpang. Pelayaran hanya diperkenankan bagi penumpang dengan keperluan khusus seperti perjalanan dinas, sakit atau berobat, dan kedukaan. Hal ini ditandai dengan kelengkapan administrasi seperti yang diterapkan di masa mudik lalu.

“Untuk logistik sendiri tetap beroperasi,” kata Hermin kepada KatongNTT via Whatsapp, Jumat, 9 Juli 2021.

Dalam aturan revisi dari Dinas Perhubungan NTT yang diperoleh media ini berbunyi mengenai penutupan pelayaran baik kapal laut, kapal motor penyeberangan, dan kapal pelayaran rakyat yang masuk dari luar wilayah NTT ke dalam wilayah NTT, tidak diperbolehkan atau dilarang, terhitung mulai tanggal 12 hingga 26 Juli 2021 dan akan dievaluasi setelahnya.

Sedangkan untuk perjalanan dengan moda transportasi laut dan penyeberangan dari atau ke pelabuhan di dalam wilayah NTT wajib menunjukan surat keterangan vaksin pertama dan surat keterangan hasil negatif rapid test antigen. Sampel tes diambil dalam kurun waktu maksimal 1x 24 jam sebelum keberangkatan.

Calon penumpang kapal ferry wajib menunjukkan tanda pengenal yang sah seperti KTP dan sejenisnya kepada petugas. Para pengguna jasa pelayaran ini juga wajib menunjukkan bukti negatif atau non reaktif Covid-19 minimal berdasarkan rapid test atau GeNose.

Pihak pelabuhan sendiri juga menyiapkan layanan tersebut sebelum pintu masuk dengan biaya Rp. 150 ribu untuk rapid test antigen dan Rp. 50 ribu untuk GeNose.

Setelah itu para calon penumpang akan mendapatkan cap validasi data untuk mendapatkan izin membeli tiket pelayaran ferry daerah tujuan.

“Ini berlaku 2 minggu mulai tanggal 21 Juli sampai 26 Juli,” tegas Kepala Dinas Perhubungan, Isyak Nuka dua hari lalu.

Pengamatan di Pelabuhan Bolok pada Jumat, 9 Juli 2021, aktivitas pelayaran masih berlangsung dan tampak calon penumpang mengurusi berbagai ketentuan untuk pelayaran.

Sementara perjalanan udara bagi penumpang dari dan keluar wilayah NTT wajib menunjukan kartu vaksin pertama, mempunyai surat keterangan hasil negatif tes RT-PCR berlaku 2×24 jam sebelum keberangkatan, serta mengisi e-HAC.

Untuk pengguna transportasi udara yang melakukan penerbangan dari atau ke bandara di dalam wilayah NTT, wajib menunjukan keterangan vaksin pertama dan surat keterangan hasil negatif rapid test antigen. Sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 1x 24 jam sebelum keberangkatan dan mengisi aplikasi e-HAC Indonesia.

Lion Air Group yang memiliki maskapai Lion Air, Wings Air dan Batik Air telah menetapkan ketentuan yang sama dari tanggal 9 Juli hingga 21 Juli 2021.

Danang Mandala Prihantoro selaku Corporate Communications Strategic dalam rilisnya yang menyebut calon penumpang wajib RT-PCR yang berlaku 2×24 jam dan kartu vaksin. Ini berlaku baik dari dan tujuan NTT.

Rute dari dan tujuan NTT yaitu Kupang, Atambua, Ruteng, Maumere, Larantuka, Ende, Labuan Bajo, Rote, Alor, Ngada, Tambolaka di Sumba Barat Daya, Waingapu dan Lewoleba – Lembata.

Sementara dalam daerah NTT para penumpang diwajibkan rapid antigen yang berlaku satu kali 24 jam, kartu vaksin, serta mengisi e-HAC. Penerbangan antara NTT ini seperti Kupang, Atambua, Ruteng, Maumere, Larantuka, Ende, Labuan Bajo, Rote, Alor, Ngada, Tambolaka, Sumba Barat Daya, dan Waingapu.

“Ini guna mengutamakan faktor keselamatan, keamanan, kenyamanan (safety first) serta dijalankan sebagaimana pedoman protokol kesehatan,” kata Danang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *