Kupang – Saya sedang duduk di teras depan rumah bersama adik menikmati suara hujan rintik pada Minggu sore , 4 Februari 2024, di Amarasi, Kabupaten Kupang.
Seorang tetangga saya berlari-lari masuk ke pekarangan rumah, mengucapkan salam, kemudian menanyakan keberadaan orang tua saya.
Karena mereka tak ada di tempat, tetangga saya ini langsung menanyakan beberapa pertanyaan pada saya.
Baca juga: Politik Uang Merendahkan Martabat, Menyesatkan Demokrasi
“Nona ikut coblos di sini kah?” saya bilang tidak, karena mengikuti lokasi tempat tinggal di KTP.
“Berarti hanya tiga orang yang di sini e. Mama, bapa, dengan nene. Berarti 300,” ujar tetangga saya itu.
Membaca raut wajah bingung saya, ia pun menjelaskan: “Ada caleg yang mau datang kampanye toh. Jadi beta daftar supaya dapat uang. Satu orang 100 sa (saja). Coba Nona TPS di sini berarti dapat juga,”.
Saya kemudian mengajaknya duduk dan menawarkannya minum. RR, tetangga saya ini, di 10 hari menjelang pemilu 2024, sudah mengumpulkan 32 nama dari 50 nama yang menjadi target. Nama-nama itu kemudian dia serahkan kepada caleg yang memintanya.
“Saya kumpul-kumpul orang begini sudah dari 2009,” ucapnya memulai cerita.
Baca juga: Bawaslu NTT Minta Warga Melapor Begitu Dapat Serangan Fajar
Seusai gereja dan pulang, saya membonceng seorang nenek berusia 63 tahun. Di perjalanan pulang itu, saya mencoba bertanya mau pilih siapa di pemilu tahun ini.
“Aih, sonde (tidak) tau. Terlalu banyak. Tapi kalo (caleg) provinsi -ia menyebut nama anak politisi besar yang juga sedang ikut kontestasi politik tahun ini-,” jawabnya pada Minggu, 4 Februari 2024.
“Kenapa mau pilih dia?,”“Ko dia yang kasih beta 300 ko pake beli benang. Kemarin katong (kami) pi dia punya kampanye ko dapat,” jelas nenek yang masih aktif menenun.
Menanggapi ini, RR pun menyebut jika menjadi wajar jika caleg DPR RI atau DPRD Provinsi biayanya lebih besar.
“Kalau provinsi atau (DPR) RI punya memang besar. Kalau yang ini dia (caleg) kabupaten punya,” ujarnya.
Dia menjelaskan, tugasnya setiap kali ada pemilu ialah mengumpulkan suara bagi caleg tertentu untuk nantinya dibagi-bagikan uang.
Caleg ini bisa datang dari siapa saja dan dari partai manapun. Tergantung siapa yang datang meminta bantuannya.
Dia mendata dari rumah ke rumah, membawa stiker caleg yang tertera nama, foto, dan nomor urut untuk menunjukkan pada calon pemilih nanti untuk memilih caleg yang dimaksud.
Baca juga: Satu Caleg Dua Partai, KPU Malaka Buka Suara
Calon pemilih dia ambil di lingkungan yang berada di TPS-nya.
Nama-nama dicatat, kemudian diberikan pada calegnya langsung atau pada para tim sukses caleg.
Mereka kemudian nantinya dikumpulkan di satu rumah kemudian membagi-bagikan uang. Mereka menyebutnya: kampanye.
Apakah akan dipastikan 50 nama yang terkumpul ini pasti akan memiih caleg tersebut?
“Belum tentu, dan itu resiko dari caleg itu,” jelas pria empat anak ini.
Sebagai pengumpul suara, dia mendapat jumlah yang sama, yaitu Rp100.000.
“Tapi kalau mereka jadi, saya tidak tuntut apa-apa. Mau kasih ya kasih, kalau tidak ya tidak apa-apa. Tapi kalau sebelum-sebelumnya itu saya dapat sapi (sebagai imbalan),” jelasnya.
*******
“Kemarin sempat mereka punya orang datang di sini, satu suara mereka tawar dengan harga 250 ribu”. Hal itu diungkap FN (53) seorang warga kelurahan Bello, Kota Kupang yang ditemui Katongntt di rumahnya, Sabtu 10 Februari 2024.
Lelaki paruh baya tersebut mengatakan beberapa waktu lalu saudaranya datang bertamu ke rumahnya untuk membicarakan perihal urusan keluarga. FN mengatakan beberapa menit sebelum saudaranya pulang, mereka sempat berbincang tentang pelaksanaan pemilu yang semakin dekat.
Baca juga: Orang Muda NTT Diminta Kreatif Lawan Politik Uang di Pemilu 2024
” Sementara kita omong tentang pemilu, dia kasi keluar kartu caleg lalu dia bilang mereka juga ada bantu orang yang caleg ini, sambil kasi tunjuk kartu”.
Kepada katongntt, FN mengatakan situasi saat itu sore hari dan isterinya sedang tidak ada di rumah.
” Waktu itu mereka datang sore. Jadi saudara ini bilang calegnya itu DPRD Kota Dapilnya juga termasuk kami ini, dan masih keluarga juga,” ujarnya.
” Mereka bilang satu suara 250 ribu, kalo tertarik nanti sebelum hari H mereka kasi” lanjutnya.
Saat mendengarkan hal itu FN tidak langsung menerima tawaran itu, dan hanya menanyakan informasi tentang caleg tersebut.
Baca juga: Sistem Pemilu Terbuka Lebih Demokratis Tapi Sarat Politik Uang
” Masih keluarga, dan dia tuan tanah juga jadi mengerti saja, maju begini pasti habis-habisan. Hanya saya tidak langsung terima, saya bilang nanti saya coba tanya-tanya di sekitar sini tapi itu juga saya tidak lakukan. Saya omong karena hargai sebagai keluarga begitu”. Tukasnya.
FN mengatakan praktik seperi itu selalu ditemui dalam setiap moment menjelang pemilu. Ia mengatakan hubungan kekerabatan yang menjadi beban bagi dirinya untuk menolak mentah-mentah ajakan seperti itu.
” Karena hubungan keluarga itu, yang buat kita mau bilang sonde mau juga perasaan. Jadi saya hanya tertawa saja kemarin dan bilang nanti saya cari, padahal saya juga tidak cari” tambahnya sambil tertawa. (Ruth Botha/ Ayunda)


