Peneliti BRIN Temukan Lukisan Figuratif Tertua di Dunia

“Lukisan figuratif di dinding gua bergambar babi hutan tersebut ditemukan di Gua Leang Tedongnge, Maros, Sulawesi Selatan.”

Jakarta– Peneliti arkeologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan tim menemukan lukisan figuratif tertua di dunia. Usia lukisan diperkirakan berusia 45.500 tahun.

“Sampel yang diambil pada lukisan tersebut dibawa ke lab, dan setelah dianalisis dengan metode uranium series. Keluar umur 45.500 tahun yang lalu,” kata Adhi Agus Oktaviana, peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN kepada Antara di Jakarta, Senin, 15 Agustus 2022.

Lukisan figuratif di dinding gua bergambar babi hutan tersebut ditemukan di Gua Leang Tedongnge, Maros, Sulawesi Selatan pada Desember 2017.

Tim peneliti terdiri dari Adhi Agus Oktaviana dan Budianto Hakim yang merupakan peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN. Tim lainnya Pindi Setiawan, Basran Burhan, dan Rustan LP Santari yang merupakan akademisi dan praktisi cagar budaya.

Tim peneliti arkeologi juga menemukan seni lukisan di situs lainnya yang berada di Leang Bulu Sipong,Sulawesi. Lukisan tersebut berusia 35.100 tahun hingga 43.900 tahun.

Adhi menuturkan di situs tersebut, terdapat figur Therianthropy, yakni gambar setengah manusia dan setengah binatang. Lukisan itu juga menggambarkan kegiatan perburuan tertua di dunia.

Atas rentetan temuan aneka lukisan figuratif tertua di dunia di gua purba Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan, tim peneliti tersebut meraih Penghargaan Achmad Bakrie XVIII 2022 dalam kategori Sains.

Dia mengatakan riset tersebut merupakan sinergi dan kolaborasi berbagai pihak. Yakni Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Makassar yang sekarang bergabung dengan BRIN, arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan. Dosen dan mahasiswa di Universitas Hasanuddin dan Universitas Halu Oleo Kendari juga tergabung dalam pusat penelitian ini.

“Selain itu juga banyak peran dari warga di sekitar situs rock art dalam proses survei dan penelitian,” ujar Adhi.

Rustan LP Santari menuturkan orang-orang zaman purba diduga telah membuat lukisan tersebut dengan cara melukis dengan menggunakan kuas. Kuas ini bisa saja di masa itu dibuat dari bahan akar-akaran atau ranting-ranting yang dimodifikasi.

“Cara yang kedua, khususnya untuk lukisan gambar tangan adalah dengan cara meletakkan tangan di dinding gua kemudian diberi pewarna,” ujar Rustan.

Budianto Hakim mengatakan, rentetan penemuan yang dimulai dari 2014 hingga sekarang menjelaskan bahwa lelulur di Nusantara lebih menonjol dibanding leluhur bangsa Eropa.

“Ini memperkuat pondasi ataupun konstruksi identitas kebangsaan kita,” tuturnya. (Antara/Rita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *