Kupang – Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) menjadi salah satu dari 15 penyakit yang terbanyak dialami pengungsi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.
Menurut Pos Data dan Informasi Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, pengungsi per Minggu 14 Januari 2024 berjumlah 6.568 jiwa. Penderita ISPA saat ini mencapai 1.559 kasus.
Bila dibandingkan dengan Sabtu 13 Januari 2024, tampak terjadi peningkatan 41 kasus ISPA ini dari sebelumnya 1518 penderita.
Baca juga : 174 Penderita HIV di Lembata Meninggal Selama 15 Tahun Terakhir
Daftar kasus dari 15 penyakit yang diderita para pengungsi ini antara lain : 1559 kasus ISPA; 330 kasus dermatitis atau ruam pada kuli; 196 kasus mialgia atau nyeri otot ; 189 kasus Gastritis atau maag; 184 kasus dyspepsia atau gangguan pencernaan; 163 kasus rhinofaringitis akut; 161 kasus hipertensi; 102 kasus influenza; 97 kasus cephalgia atau Sakit kepala; 103 kasus observasi febris (OF) atau demam yang belum terdiagnosa; 41 kasus diare; 39 kasus faringitis; 37 kasus konjungtivitis atau mata merah; 35 kasus vulnus atau luka; dan 1 kasus malaria.
Baca juga : Pemkab Flotim Butuh Tenda Tambahan untuk Tampung Pengungsi
Hampir dua pekan sudah para pengungsi berada di penampungan baik tenda, rumah warga, fasilitas umum sejak erupsi hebat dari Gunung Lewotobi Laki-laki pada 1 Januari 2024.
Erupsi gunung api di Kabupaten Flores Timur ini pun terjadi setiap harinya. Pada Senin ini saja dilaporkan erupsi pukul 05.25 WITA dan 13.21 WITA.
Larangan untuk menjauhi gunung ini juga masih berlaku. Warga harus menghindar radius kilometer (km) dari pusat erupsinya dan sektoral 5 km ke arah barat laut – utara dan timur laut.
Baca juga : Gempa M 4,3 Guncang Flores Timur, Terasa di Lembata
Pemerintah Kabupaten Flores Timur (Pemkab Flotim) membenarkan banyaknya kasus ISPA yang dialami para pengungsi ini akibat debu vulkanik. Penyakit lainnya juga diperkirakan akan muncul karena musim penghujan dan harus ikut diantisipasi.
“Masih banyak kekurangan dan kita antisipasi penyakit karena adanya hujan juga. Untuk saat ini tidak ada peningkatan penyakit selain gangguan ISPA karena abu vulkanik,” tukas Sekretaris Daerah Flotim, Petrus Pedo Maran, beberapa hari lalu. ***




