Kupang – Pemerintah Kabupaten Flores Timur (Pemkab Flotim) ingin para pengungsi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang berada di penampungan rumah warga pindah ke satu titik penampungan saja.
Sekretaris Daerah (Sekda) Flores Timur, Petrus Pedo Maran, mengatakan pihaknya saat ini membutuhkan tambahan tenda skala besar agar para pengungsi bisa dipusatkan di satu tempat.
Baca juga : TPA Alak Milik Kota Terkotor di Indonesia Terbakar Lagi
“Kita ingin sekali untuk meminta seluruh yang ada di penampungan masyarakat terelokasi di satu penampungan sehingga kita sangat membutuhkan tenda skala besar di beberapa lokasi baru nanti dengan seluruh isinya yaitu alas tidur, juga dengan fasilitas dapur umum,” jelasnya Jumat 12 Januari 2024.
Kebutuhan lainnya juga terkait anak-anak pengungsi yaitu kebutuhan sekolah, gizi maupun kesehatan fisik dan mental anak-anak.
Baca juga : Gemuruh Gunung Lewotobi, Pengungsi Yang Trauma dan Mulai Sakit
BPBD NTT mencatat pengungsi di kediaman warga lebih banyak jumlahnya daripada yang mengungsi ke tenda-tenda atau posko maupun fasilitas umum.
Pengungsi di rumah warga per 10 Januari mencapai 2.759 jiwa yang tersebar di 24 titik desa. Jumlah ini lebih banyak ketimbang pengungsi di tenda yaitu 2.610 jiwa dan 94 pengungsi di fasilitas umum.
Data Pos Data dan Informasi Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki per 13 Januari juga menunjukkan hal serupa. Ada 4.087 pengungsi di rumah warga atau lebih banyak jumlahnya dari 2.436 pengungsi di tenda dan 27 pengungsi di fasilitas umum.
Baca juga : Fenomena Ekstrim El Nino di NTT, Mitigasi dan Adaptasi
Saat ini pun fase tanggap darurat bencana telah diperpanjang Pemkab Flotim dari tanggal 10 sampai 24 Januari 2024. Penetapan ini berdasarkan aktivitas gunung api tersebut yang sejak 9 Januari menyemburkan lava pijar.
Penanganannya nanti bersifat kolaboratif dari pusat sampai daerah dan juga dengan luar lembaga pemerintah.
Beberapa desa juga dikosongkan. Dalam masa tanggap darurat ini ditetapkan 3 desa di Kecamatan Ile Bura dan 4 desa di Kecamatan Wulanggitang masuk kawasan rawan bencana.
Baca juga : NTT Didorong Tingkatkan Produktivitas Singkong Guna Antisipasi Rawan Pangan
Saat ini pihaknya mengantisipasi agar pengungsi tidak sakit akibat musim hujan karena saat ini ada yang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dampak dari debu vulkanik.
“Masih banyak kekurangan dan kita antisipasi penyakit karena adanya hujan juga. Untuk saat ini tidak ada peningkatan penyakit selain gangguan ISPA karena abu vulkanik,” lanjut dia. ***




