Pergulatan Erna Manafe Selamatkan Nyawa Pasien Miskin

Erna Manafe mendirikan Yayasan Berbagi Kasih Mulia (YBKM) untuk membantu pasien-pasien miskin yang mau berobat tapi tidak memiliki biaya

Rumah singgah milik YBKM yang disiapkan untuk membantu pasien miskin yang menjalani perawatan di Kupang (Ruth-KatongNTT)

Rumah singgah milik YBKM yang disiapkan untuk membantu pasien miskin yang menjalani perawatan di Kupang (Ruth-KatongNTT)

“Anak saya yang bungsu sejak lahir sudah divonis dokter hanya akan hidup satu jam. Tapi saya berjuang, berusaha berobat ke sana ke mari, puji Tuhan dia masih hidup sampai sekarang. Dari dia itulah yang membuat saya kepikiran untuk membangun yayasan ini”.


Kalimat tersebut diucapkan oleh Erna Manafe, Ketua Yayasan Berbagi Kasih Mulia (YBKM). Sosok Erna adalah representasi dari Kartini masa kini. Bila Kartini pada masanya memperjuangkan kesetaraan antara kaum lelaki dan perempuan, Erna Manafe sebagai Kartini masa kini memperjuangkan kesetaraan dalam memperoleh layanan kesehatan bagi orang-orang tidak mampu.

Erna hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga dengan mimpi besar membantu sesama. Derita yang dialami oleh anak bungsunya, Fetor Moy Fallo menjadi motivasi baginya mendirikan YBKM. Kehadiran YBKM tidak terlepas dari dukungan suaminya, Febianus Fallo. Fetor Moy berkali-kali menjalani operasi dan masih menjalani terapi hingga kini. Selama proses perawatan, keluarga kecil yang dianugerahi 5 orang buah hati ini mendapatkan bantuan yang diluar dugaan mereka. Setiap kali mengalami kendala saat perawatan, bantuan datang dari banyak orang yang terkadang tidak mereka kenal.


“Dari situlah kami berpikir, kenapa kami tidak membantu orang lain untuk berobat supaya dia juga bisa tersenyum seperti kami. Itulah alasan yayasan ini hadir,” kata Febianus.


Pada 23 November 2021, YBKM dirintis di Kota Soe, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), tempat mereka tinggal. Yayasan ini dibentuk untuk membantu orang-orang yang sakit namun tidak bisa berobat karena terkendala dana.


“Banyak orang di luar sana yang ingin sembuh, tapi masalahnya yaitu biaya,kurang paham tentang medis, dan adanya beberapa oknum di beberapa rumah sakit yang kasar-kasar kepada pasien sehingga membuat mereka takut berobat ke rumah sakit. Untuk itulah kami membuat ini (yayasan) untuk membantu mereka” kata Erna, ketika ditemui di Rumah Singgah Pejuang Kesembuhan, milik YBKM.


Bagi Erna, kesehatan adalah segalanya. Erna dan suaminya menerima kondisi Fetor Moy sebagai sebuah anugrah dari Tuhan. Dari Fetor, mereka belajar untuk menjadi berkat bagi sesama dalam kondisi apapun.


Sejak dilahirkan, Fetor didiagnosa mengidap Hidrosefalus atau adanya penumpukan cairan di rongga otak, serta mengalami anomali kompleks tulang belakang, atau dalam istilah medis disebut Spina Bifida Myelomeningocele. Erna tidak berfokus pada vonis dokter. Ia berpikir bagaimana caranya sang buah hati bisa diselamatkan. Operasi tidak bisa ditolak oleh keluarga tersebut, meski usia Fetor masih sangat belia. Operasi demi operasi dijalani Fetor ditemani doa dari kedua orang tuanya. Seolah tak ada kata menyerah bagi keluarga ini memperjuangkan kesembuhan anaknya.

Erna Manafe (dua dari kiri) menggendong anak bungsunya Fetor Moy bersama dengan pasien dan pendampingan pasien di Rumah singgah YBKM (Ruth-KatongNTT)


Kegigihan itu pula yang ingin ditularkan Erna pada keluarga lainnya yang memperjuangkan kesembuhan. Ketiadaan biaya seperti menjadi asa Erna untuk berjuang bersama orang-orang sakit yang tidak mampu berobat.


Semangat dan tekad menolong orang lain menggebu-gebu dalam dada pasangan ini. Bermodalkan dana pribadi seadanya, Erna memulai aksi mulia tersebut. Ia mendatangi banyak Desa, bertemu orang-orang yang sakit, menawarkan bantuan bagi mereka. Erna lalu menggalang dana pengobatan melalui yayasan Kitabisa.


Bantuan yang diberikan YBKM bukan hanya sekadar memberikan uang, akan tetapi Erna dan timnya memberikan transportasi kepada pasien dari tempat tinggalnya ke rumah sakit, dan membantu mengurus dokumen-dokumen identitas pasien.


“Untuk BPJS nya, Kartu Keluarga nya, KTP nya, itu kami yang urus semua kalau tidak ada” Ujar Erna.


Tanggungjawab YBKM tak berhenti di situ. Pasien yang mendapatkan bantuan didampingi selama menjalani perawatan. Rumah sakit seperti rumah kedua bagi Erna. Bersama tim YBKM, mereka keluar masuk di beberapa rumah sakit di Kota Kupang, seperti Rumah Sakit Siloam, Rumah Sakit Umum Yohanes Kupang dan Rumah Sakit Leona.


Bahkan kini Erna Manafe yang hanya lulusan SMA tersebut sudah menyewa rumah yang berlokasi di jalan R.W. Mongonsidi, Pasir Panjang, Kota Kupang, sebagai rumah singgah bagi pasien yang berasal dari luar kota. Selain itu, kebutuhan selama berada di Kupang pun ditanggung penuh olehnya.


“Makan minum di sini (rumah singgah), kebutuhan dari ujung kepala sampai ujung kaki saya tanggung semua. Baik yang pasien maupun pendamping pasien. Kita tidak pungut biaya,” Sambung Erna.


Memberi diri untuk melayani tentunya harus siap juga menerima berbagai resiko. Sebab tidak ada sesuatu hal yang bisa dilewati dengan mudah tanpa hambatan. Erna dan timnya sering berhadapan dengan kondisi yang menguji kesabaran mereka. Ini biasanya terjadi saat mengurus dokumen identitas pasien dengan banyak persyaratan dari kantor Pemerintahan sementara kondisi pasien sudah kritis dan harus mendapatkan pertolongan. Ia sering menemui hambatan seperti harus menempuh perjalanan jauh, dengan kondisi jalan yang rusak bila harus menjemput pasien yang berasal dari pelosok.


Belum lagi Erna harus berpisah dengan empat orang anaknya yang tinggal bersama suaminya di Soe. Erna sendiri berada di Kupang bersama anak bungsunya Fetor. Namun, perempuan kelahiran Rote itu menyampaikan bila dirinya sudah bertekad untuk membantu sesama. Suami dan anak-anaknya juga memahami apa yang sedang diperjuangkan oleh Erna.


“Saya dukung penuh kegiatan istri karena ketika ada orang lain yang bisa tersenyum karena sembuh saya juga turut bahagia. Kita saling komunikasi dan saling mengisi,” ujar Febianus.


Meski belum setahun, setidaknya ada lebih dari 10 pasien yang dibantu oleh YBKM. 7 pasien diantaranya telah selesai menjalani operasi. Pasien yang dibantu pun diklasifikasi terlebih dahulu, yaitu bila penyakit nya memang sudah gawat darurat, butuh dioperasi, dan memang benar benar berasal dari keluarga yang tidak mampu. Erna dan timnya tidak membatasi wilayah jangkauan pelayanan mereka. Selama pasien tersebut masih di wilayah NTT, YBKM bersedia memberi bantuan.


Bagi Erna, harta bukan ukuran kebahagian. Karenanya, Ia merasa tidak ada gunanya menimbun kekayaan. Erna merasa lega dan bahagia ketika ada senyum yang terukir pada wajah orang-orang yang dibantunya.


Ngapain saya harus punya banyak duit, sedangkan meninggal saya nggak bisa bawa. Yang saya bawa amal baik saya. Ya sudah ini amal baik saya,” pungkas Erna Manafe.


Ke depannya , ia berharap lebih banyak pihak yang mau membantu yayasannya untuk lebih berkembang dan bisa menjangkau lebih banyak pasien yang membutuhkan. Bagi masyarakat yang berkenan memberi bantuan, bisa menghubungi pihak YBKM lewat laman facebooknya Yayasan Berbagi Kasih Mulia Kab. TTS, atau menyambangi langsung ke rumah singgah yang beralamat di jalan R.W. Mongonsidi, belakang kantor PMI Kupang. (Ruth)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *