Kupang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan semua daerah kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) berstatus sangat mudah terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Seluruh daerah di NTT saat ini dalam kondisi sangat mudah terjadi karhutla sehingga perlu diwaspadai bersama pemerintah dan masyarakat setempat,” kata Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang BMKG Agung Sudiono Abadi di Kupang, Minggu, (14/5/2023).
Ia mengatakan tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah tersebar merata di 22 kabupaten/kota se-NTT.
“Semua daerah berstatus merah yang artinya kondisi alang-alang dan dedaunan yang biasanya menutupi lantai hutan, dalam kondisi sangat kering dan sangat mudah terbakar,” katanya seperti ditulis Antara.
Agung mengimbau warga agar berperan aktif mencegah terjadinya karhutla dengan menghindari aktivitas atau tindakan yang dapat memunculkan titik api.
Tindakan yang perlu dihindari, kata dia, seperti membuka atau membersihkan lahan pertanian atau perkebunan dengan cara membakar, membuang puntung rokok di area terbuka yang terdapat tumpukan dedaunan atau rumput kering.
Apabila titik api muncul, kata dia, sangat berpotensi membesar dan meluas, apalagi didukung dengan aktifnya angin muson timur di NTT.
“Oleh sebab itu, langkah pencegahan patut dilakukan karena jika terjadi karhutla, maka akan lebih sulit untuk dipadamkan,” katanya.
Pada tahun 2020 lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, luas areal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Indonesia mencapai 296.942 hektare (ha) pada 2020. Jumlah itu turun 81,9% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang mencapai 1,65 juta ha. NTT merupakan provinsi yang terdampak karhutla paling besar sepanjang 2020 yang 114.719 ha.
Menurut pantauan satelit Terra/Aqua (LAPAN), ada 420 titik panas (hotspot) di NTT pada tahun lalu. Karhutla di NTT sepanjang tersebut menghasilkan emisi sebesar 6,54 juta ton CO2e. [Anto]




