Terinspirasi Kekayaan Laut NTT, Epa Gagas Se’i Ikan

Epa Lomi Ga, memotong ikan Marlin sebelum dicuci dan diasap untuk kemudian dijual sbg sei ikan (KatongNTT.com)

Epa Lomi Ga, memotong ikan Marlin sebelum dicuci dan diasap untuk kemudian dijual sbg sei ikan (KatongNTT.com)

Kupang– Nusa Tenggara Timur memiliki sumber daya alam yang kaya raya untuk diberdayakan.  Bayangkan , total luas laut sekitar 200.000 km2 atau  empat kali lebih luas dari daratannya. Hanya saja belum banyak UMK/UKM yang  memanfaatkan kekayaan laut.

Epa Lomi Ga, 43 tahun merupakan satu dari sedikit pengusaha UMKM yang berbasis kekayaan laut di NTT. Epa menggeluti bisnis memasak ikan dengan memanggang  ikan  memakai bara kayu (se’i) sejak 8 tahun lalu.

Dia membidik bisnis ini  sebagai alternatif  pilihan oleh-oleh khas NTT yang berakar dari budaya  masyarakatnya yakni se’I babi atau sei’sapi.

Epa memilih ikan Marlin untuk bahan baku. Ikan bernama latin Makaira Nigrican ini mengandung vitamin A, D, B kompleks, omega 3, zat besi, dan kalsium yang sangat baik bagi tubuh manusia.

Begitupun, Epa juga menyediakan tuna sebagai bahan baku se’i ikan. “Tapi yang utama saya pakai ikan Marlin,” kata pria beretnis Amarasi ini.

Dalam menjalankan bisnisnya, dia dibantu beberapa anggota keluarganya, mulai dari membeli ikan, memotongnya, meramunya dengan bumbu, memanggang, mengemasnya di plastik mika, hingga memasarkannya.

Semua aktivitas ini dilakukan di rumah yang posisinya berada di dalam gang  dan di depannya jalan raya  W.J. Lalamentik, Kelurahan Oebobo, Kota Kupang.

Epa menarget para konsumennya karyawan kantor dan keluarga-keluarga yang menyukai se’i ikan. Dia juga ikut terjun memasarkan sendiri produk se’i ikan. Dia kerap muncul di gedung Dekranasda Provinsi NTT untuk bertemu pelanggannya.  

Pria yang ramah dan suka bercanda ini, tanpa sungkan memasarkan sendiri produknya menggunakan kantong plastik.

*****

Rabu, 1 Juni 2022, saat warga NTT ramai memperbincangkan kehadiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Ende untuk memperingati hari kelahiran Pancasila, Epa tengah sibuk berburu ikan Marlin di Pasar Oeba.

Perburuannya berhasil. Epa mendapatkan ikan Marlin dengan berat sekitar 115 kilogram. Dia membayar Rp3 juta ke penjual langganannya untuk ikan sebesar itu.

 Ikan Marlin dipotong menjadi tiga bagian. Setelah itu Epa membawanya dengan sepeda moto menuju rumahnya di Kelurahan Oebobo, Kota Kupang.

Ikan yang masih segar dipotong dan diambil bagian isinya saja, tanpa tulang dan kulit. Setelah itu, ikan disimpan dalam tempat pembeku selama kurang lebih 6 jam.

Setelah itu ikan dikeluarkan untuk dipotong dengan ukuran sebesar 3 jari orang dewasa. Ikan dilumuri garam dan  bumbu halus. Lalu ikan didiamkan beberapa menit untuk kemudian siap untuk diasap.  

Dua pekerja sedang mengasap ikan Marlin di rumah pemilik usaha se;i ikan Epa Lomi Ga di Oebobo, Kota Kupang, Provinsi NTT, pada Kamis, 2 Juni 2022 (KatongNTT.com)

Proses pengasapan bisa selesai 2 hingga 3 jam, disesuaikan dengan banyaknya ikan. Kayu yang dipakai untuk pengasapan adalah kayu Kesambi. Penggunaan kayu ini untuk mengurangi kadar air dan meningkatkan cita rasa yang khas.

Setelah daging ikan warnanya berubah kecokelatan,  kemudian diangkat ke dalam wadah kering untuk kemudian dicelup dalam campuran gula lontar. Tujuannya agar potongan ikan tampak lebih segar.

Se’i ikan kemudian dikemas dengan berat 700 gr lalu dimasukkan dalam plastik mika berukuran sedang.  Epa menjual sebungkus se’i ikan seharga Rp 105 ribu.

Se’i ikan tanpa bahan pengawet maupun campuran bahan kimia lainnya, sehingga hanya layak dikonsumsi 1-2 hari. Jika disimpan dalam freezer, se’i ikan dapat bertahan hingga 5 hari.


*****

Ide Epa membuat se’i ikan terinspirasi ibunya yang sering memasak daging panggang di rumahnya.

“Dulu beta punya mama suka bakar-bakar (panggang daging), jadi beta tes di ikan. Beta uji coba buat se’i pertama, ternyata respon dari masyarakat sangat tinggi. Mulai dari situ beta kembangkan ini usaha,” kata Epa.

Selain itu, usaha ini terus dilakukan untuk lebih memanfaatkan potensi laut di NTT.

“Awalnya beta liat daging babi mereka buat se’i. Tapi setelah itu, ternyata kita ada potensi. NTT ini kan 80 persen laut, sisanya daratan. Jadi beta mulai berpikir lebih baik kita olah bahan mentah menjadi bahan jadi. Buat kuah asam, se’i. Ternyata responnya bagus,” ujar pria berambut keriting itu.

Upayanya untuk memanfaatkan hasil laut yang ada, membuatnya terpilih untuk menjadi perwakilan NTT di bidang perikanan dan kelautan. Pameran berlangsung di Batam, Kepulauan Riau pada 2017.

https://youtu.be/-ccL5-gs5GA

Melihat akan potensi yang besar dalam usaha ini, Kementerian Perikanan dan Kelautan NTT memberikan Epa bantuan rumah produksi se’i ikan.

Pada 2020, se’i ikan milik Epa masuk Dekranasda NTT.  Pelanggannya semakin beragam.

Saat ini Epa dalam proses pengajuan untuk mendapat bantuan mesin yang bisa menghancurkan tulang ikan agar tidak menjadi limbah.

“Sementara ada proses untuk mesin penghancur tulangnya. Supaya semua (bagian tubuh ikan) bermanfaat,” ujar Epa.

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak 2020 pun menjadi ancaman keberlangsungan usaha Epa. Penjualannya berkurang karena kegiatan pameran berkurang. Epa kerap mengikuti  pameran-pameran untuk memasarkan produk se’i ikan.  

“Covid ini kan buat pameran-pameran sudah berkurang. Padahal pendapatan kami disitu lebih tinggi. Kita di sini putaran uang susah. Jadi penjualannya standar saja,” ungkap Epa.

Epa pun berharap pemerintah NTT segera memulihkan situasi pasca Covid-19 dan fokus pada pengelolaan hasil laut untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Misalnya,  Epa ingin memanfaatkan kulit ikan Marlin agar tidak menjadi limbah. Mislanya diolah menjadi kerupuk kulit ikan Marlin. Namun ketiadaan SDM yang mumpuni di NTT khususnya di Kupang, membuat kulit ikan Marlin selama ini menjadi limbah.

“Kulitnya ini bisa diolah lagi. Jadi bagi orang di luaran sana yang bisa untuk olah kulit ini bisa hubungi saya,” kata Epa menyarankan. *****

 

Silakan hubungi nomor +6281246252111 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *