Ujung Lorong Covid-19 Itu Bernama Ruang Lazarus

Nani-Bl.de-Rozari-lansia-terpapar-Covid-19-dirawat-di-RS-Carolus-Jakarta

Nani-Bl.de-Rozari-lansia-terpapar-Covid-19-dirawat-di-RS-Carolus-Jakarta

Nani BI de Rozari, 73 tahun dinyatakan positif terpapar virus Covid-19 pada Juli ini. Perempuan Jawa bersuamikan pria asal Nusa Tenggara Timur ini menulis pengalaman hidupnya selama dirawat di Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta. Dia menulis catatan harian secara mendetil, jam per jam, hari demi hari hingga akhirnya pulang ke rumah untuk isolasi mandiri. Berikut catatan hariannya.

Perasaan haru biru menerpa hati saya ketika tes swab antigen positif, sekaligus 4 orang di dalam rumah. Reaksi pertama adalah bingung. Harus lapor siapa, harus bagaimana. Akhirnya saya pergi ke puskesmas kecamatan, sesuai arahan FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama).Ironisnya saya hanya bisa bertemu penjaga pintu yang membawa daftar. Dia bilang: “Ibu tunggu saja di rumah. Ini no hp satgas Covid di RW 03, Utan Kayu Utara.”

Tunggu punya tunggu, Satgas Covid RW 03 tidak memberi respons atas WA dan telepon. Saya lapor pak RT, bagaimana cara kontak Satgas Covid. Lalu kata pak RT: “Baik Oma saya lapor Puskesmas Kelurahan Utan Kayu Utara”

Namun karena tetap tidak ada kejelasan, maka saya PCR mandiri, saya paling bergejala, terutama batuk keras. Sedangkan anggota keluarga lain, OTG (orang tanpa gejala).

Karena gejala batuk mengganggu, Senin 12 Juli saya ke klinik ISPA di Rumah Sakit Saint Carolus dengan membawa hasil PCR, CT 22.

Datang jam 8.30 pagi di klinik, pasien sangat banyak, seperti pemandangan di puskemas. Jam 11, baru dipanggil utk bertemu dokter, lalu antre untuk pembayaran dan tunggu dipanggil diruang ronsen dan laboratorium periksa darah.

Rupanya hasil laboratorium darah dan foto ronsen, baru keluar sore hari dan nilainya buruk. Gambaran paru menunjukkan bercak-bercak putih, SGOT SGPT tinggi dan CRP 280. Padahal nilai normal <10. Sehingga dokter memutuskan: Ibu harus dirawat.

Terbayang dibenak saya, berapa puluh juta biaya rawat ini. Pada waktu cari kamar, suster menawarkan harga kelas 850 ribu, 1juta, 1,5juta.

Saya terdiam lalu bertanya: ada yg kelas 3? Ada, 650 ribu.

Kemudian suster menawarkan: Ibu mau ambil jalur jaminan pemerintah? Saya bilang mau, tapi bimbang karena butuh waktu untuk dapat izin Kemenkes (Kemnterian Kesehatan), dan setelah dapat izin, baru cari kamar.

Saya berpikir berapa hari saya tunggu keputusan tersebut. Lalu dengan bodohnya saya bertanya, sementara tunggu izin dari Kemenkes, apakah saya pulang dulu? O… tidak, ibu disini saja. Saya gelisah, karena sudah ada 7-8 orang yang sedang antri kamar.

Akhirnya perawat keluar dari ruangan dan memberikan berkas yang harus saya isi. Rupanya izin Kemenkes sudah berbentuk aplikasi di komputer. Saya lega. Dalam berkas tersebut ada pernyataan tertulis bahwa saya setuju mengambil jaminan pemerintah sebagai sistem pembiayaan.

Akhirnya saya menjadi orang ke 9 dari 10 orang yang masuk ruang rawat, jam 21 malam itu. Semua bawaan saya serahkan kepada menantu saya yang tadinya mau menjemput untuk pulang, kecuali handphone dan charger.

Saya pesan besok dibawakan pakaian, handuk, toileries, rosario dan buku brevir. Masuk ke unit Maria, hati saya makin kecut, suasana sunyi, remang-remang, serasa masuk lorong gelap, tanpa cahaya, lorong Covid-19.

Akhirnya saya menyerah, pasrah, tanpa daya tenaga, perawat menggandeng saya masuk kamar 7. Jadilah padaku seturut kehendakMu ya Tuhan. KehendakMu selalu yang terbaik bagiku.

Dalam kondisi stress, lapar, dan pakaian tidak ganti sejak tadi pagi, dengan persediaan air tinggal setengah botol, saya berbaring mencoba tidur.

Tidur terganggu, karena sesama pasien di kamar ini berteriak-teriak mengoceh sepanjang malam. Esok paginya saya baru tahu, rupanya seorang oma sangat lansia berusia 98 tahun, tidak ada penunggu, karena tidak boleh ada penunggu di unit Maria-Fransiskus, zona paling merah di rumah sakit.

Jam 5 pagi mulailah perawat kontrol rutin, saturasi oksigen, tensi, suhu tubuh dan tanya-tanya keluhan. Kemudian saya berdoa dari ekatolik, lalu ikut misa dan membangun niat untuk tetap semangat.

Karena kiriman perlengkapan belum tiba, saya putuskan makan pagi dulu, menu aneh: telur rebus, bubur sumsum, susu.

Apapun makanan harus disikat habis bermodal semangat, semangat untuk mengalahkan Covid19.
Semangat membuat saya punya keinginan untuk mengatur logika. Saya perlu makan bergizi, perlu makan obat, perlu olah raga, sangat perlu berkomunikasi intensif dengan Tuhan.

Jam 10, video call dengan dokter Galuh, internist yg dinas pekan itu. Beliau mengatakan dalam beberapa hari, fungsi-fungsi tubuh dinormalkan dulu. Setelah itu baru diberi antivirus.

Jam 11, keperluan saya sudah diantar dari rumah. Segera saya mandi, ganti pakaian bersih.

Jam 12, kontrol siang, suster yg wajahnya dan tubuhnya tertutup APD, baju hazmat, menyapa: “Wah ibu sudah mandi, sudah segar. Setelah doa Angelus dan Rosario dengan ujud doa Bapa Uskup utk nusa bangsa, saya makan siang. Perjuangan berat. Makanan harus habis, meski rasanya tidak jelas.

Saya makan dengan pikiran, bukan dengan rasa atau selera. Begitu juga ketika menelan 6-7 kapsul/ tablet.

Mulai hari ini, ada dua doa otomatis yg lancar: Yesus Raja Kerahiman Ilahi, Aku berserah kepadaMu, Engkaulah andalanku dan Yesus datanglah, berjuanglah bersamaku melawan Covid dan menang.

Doa ini selalu saya ucapkan setiap kali ditusuk untuk pasang pangkalan suntik, atau disuntik vitamin C yg pedih luar biasa, atau bahkan Omeprazol bisa sangat pedih, jika pembuluh darah inlet, sudah rapuh. Atau bahkan ketika putus asa menghabiskan jatah makan.

Malam ketiga, pangkalan suntik di tangan kanan sudah tidak beres, tangan bengkak besar. Panggil suster sulit sekali karena memang kekurangan tenaga perawat. Hari itu ada 80 dokter, perawat, petugas laboratorium dan karyawan Carolus yang sedang terpapar.

Sebagian isoman, sebagian dirawat, seperti susters Intan, teman sekamar, perawat bedah yang sedang hamil 6 bulan. Suster Intan selalu menolong saya ketika bermasalah dengan infus, misalnya infus habis, atau tidak lancar.

Malam itu perawat membuat pangkalan suntik baru, di tangan kiri. Ini lebih pedih, apalagi suster bilang, pembuluhnya tipis sekali. Setelah terpasang, infus antibiotik dilanjutkan.

Saya tetap gelisah dengan tangan kanan yg bengkak. Rutinitas di Rumah Sakit bergulir, kontrol pagi siang dan sore, obat suntik pagi dan sore, infus sore, dan makan pagi siang sore beserta obat oral.

Misa pagi, brevir, Rosario sambil berjemur, latihan olah napas, jalan-jalan di teras dan doorloop, demikian seterusnya.

Semua saya lakukan dengan semangat dan dukungan doa dari teman-teman, kerabat, keluarga.

Suatu pagi selagi berjemur di taman, sepintas saya mendengar pembicaraan seorang keluarga pasien dengan perawat di unit Fransiskus tentang hal-hal yang diperlukan untuk pemakaman. Segera saya beranjak sambil bergidik. Saya masuk kamar dan berdoa untuk pasien yang baru menghadap Sang Khalik.

Hari keempat siang, saya diberi loading dose antivirus 2×8 tablet. Tabletnya besar. Regimen antivirus dimulai untuk 5 hari ke depan.Infus AB tetap jalan, begitu juga dengan obat lain.

Hari kelima, suster Intan boleh pulang, lanjut isoman di rumah. Ketika Suster Intan pulang, saya minta agar diberi obat oral saja, kebetulan pangkalan suntik ini sudah sakit sekali ketika menyuntikkan dexametason.

Puji Tuhan, permintaan obat oral diperbolehkan.
Hari Minggu, kedua tangan saya bebas, tapi masih sakit dan bengkak. Siang itu saya duduk di teras, menunggu waktu doa Koronka. Tiba-tiba di seberang taman, di unit Fransiskus, dua perawat mendorong peti jenazah. Saya terkesiap dan kecut, tapi ingin tahu dibawa kemana peti tersebut.

Rupanya berbelok ke kiri, masuk lorong di seberang taman, persis berseberangan dengan pintu kamar 7.

Oh my God…, cepat-cepat saya masuk kamar sambil gemetar, lalu doa Koronka sambil berbaring di tempat tidur. Huh….ngerinya.

Sudah 2 pasien meninggal di unit Fransiskus. Memang menurut perawat, unit tersebut diperuntukkan bagi pasien derajat sedang dan berat. Sedang unit Maria untuk pasien derajat ringan.

Saya berbisik perlahan: Tuhan, aku mau pulang ke rumah lewat unit Maria. Jangan sampai masuk unit Fransiskus. Datanglah Yesus, berjuanglah bersamaku melawan Covid dan menang.

Tanpa pangkalan suntik di tangan, saya lebih bebas membantu 2 oma teman sekamar, ibu Anna, 83 tahun yg sulit bergerak, minta disuapi makan dan minum obat. Sering juga minta untuk charge handphonenya, atau minta hubungi perawat, jika dia panik karena infus copot, minta ganti pampers, dan seterusnya.

Bu Anna memang agak demanding. Sebaliknya Tante Ping, 98 tahun (tidak mau dipanggil oma, maunya dipanggil tante Ping), orangnya tidak peduli. Ngoceh teriak-teriak sesuka hati. Sesekali saya juga bantu tante Ping minum jus, air hangat atau suapin makan. Tante Ping lebih banyak dibantu suster.

Karena kekurangan tenaga perawat, maka untuk urusan membantu pasien bedridden memang jadi agak terlantar. Saya senang bisa menolong oma-oma ini sebisa saya, di samping untuk mengurangi rasa bosan dan stress.

Senin tg 19, pagi-pagi sekali dr. Cindy, internist yg dinas pekan ini, visit. Dr. Cindy mengganti obat darah tinggi dari captopril menjadi irbesartan.

Dokter Cyndi membawa angin segar: Ibu cek darah ya dan foto lagi. Jika hasilnya bagus, saya lepas. Ibu bisa lanjut isoman di rumah.

Pujilah Tuhan… sebab Dia baik, kekal abadi kasih setiaNya. Kemudian saya khusuk mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerah kesembuhan ini.

Mendoakan semua teman kerabat keluarga yang sudah memberi dukungan doa, bahkan kiriman buah, makanan untuk yg isoman di rumah, juga USP team, yg mengirim bunga indah ke kamar 7.

Semua itu membuat saya tetap konsisten mempertahankan semangat.

Tanggal 20 Juli, Hari Raya Idul Adha, tidak ada aktivitas khusus, karena hari libur. Malam harinya perawat mengambil swab nasofaring utk PCR. Esok pagi-pagi, mereka ambil darah dari lengan kanan dan kiri.

Jam 10 pagi, perawat mengajak saya menuju ruang ronsen, di seberang taman. Hati saya was-was, dan berharap hasil pemeriksaan ini baik adanya. Namun sampai makan siang selesai dan menyuapi oma Anna juga sudah selesai, belum ada kabar hospital discharge.

Kontrol sore hari jam 16, saya sudah tidak diperiksa lagi. Kemudian perawat memberi saya berkas, hasil laboratorium, foto ronsen dan setumpuk obat untuk dibawa pulang.

Tidak ada biaya sepeserpun yang harus saya bayar. Semua ditanggung pemerintah. Terima kasih pak Presiden. Terimakasih pak Menkes.

Saya senang. Dengan cepat saya memasukkan semua barang ke dalam tas besar, tas kecil dan 1 tas berkas RS.

“Ibu telepon ke rumah supaya dijemput di ruang Lazarus”, kata perawat. Saya bingung dimana itu? Setelah menelepon ke rumah minta jemput, perawat membantu saya membawa tas dan mengantar saya keluar.

Lho…kok bukan lewat jalan masuk unit Maria? “Kesini bu”, kata perawat. Saya terkesiap, perawat itu mendahului saya lewat lorong tempat keluar peti jenazah waktu itu. Oh my God …..

Kemudian dia membuka pintu dan saya sudah berada di luar. Saya membaca papan nama diatas: Ruang Lazarus…. Perawat sudah masuk lagi ke dalam….

Saya terpana seperti Lazarus yang dipanggil Yesus keluar dari lorong Covid, berjalan kaki dengan menyeret 3 tas. Masih terpana, saya seperti mendengar suara sejuk dan ramah: Hai Nani, selamat ya…. Bagaimana perasaanmu?
Ohh…Tuhan…

Terimakasih dan syukur atas pengalaman ini. Syukur atas keputusan isoman di rumah. Syukur akan pengalaman merasa sangat dekat denganMu selama berada di lorong Covid.Terimakasih ya Allah Tritunggal Mahakudus. Pujilah Tuhan sebab Dia baik, kekal abadi kasih setiaNya.

Kemudian saya tersadar dan kembali menyeret 3 tas menuju satpam klinik Ispa menunggu jemputan
Puji Tuhan…

2 thoughts on “Ujung Lorong Covid-19 Itu Bernama Ruang Lazarus

  1. Saya juga, berkat kasih setiah Tuhan, dgn belas kasihan Tuhan km sekeluarga dpt melewati melawan virus covif 19 bersama Tuhan sihgga pada hari ke 14 hasil repit antigen dan PCR negatif jd tetap semangat dan tingkatkan imun dgn makanan bergisi…. Tuhan adalah penolong setia klu kita berimsn kepadaNya amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *