• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, Januari 14, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Bisnis Industri Pariwisata

Wisatawan Asing Keluhkan Mahalnya Tarif Masuk TN Komodo

Tim Redaksi by Tim Redaksi
3 tahun ago
in Industri Pariwisata
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Ilustrasi Komodo (Ist)

Ilustrasi Komodo (Ist)

0
SHARES
98
VIEWS

Kupang – Wisatawan asing mengeluhkan mahalnya tarif masuk Taman Nasional (TN) Komodo. Kenaikan tarif tersebut ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan alasan konservasi.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat mengatakan, konservasi membutuhkan biaya yang besar. Untuk menutupinya, tarif masuk menjadi salah satu opsi.

BacaJuga

Komodo adalah salah satu ikon dalam logo Provinsi NTT yang terbentuk tahun 1958. DPR baru saja mensahkan UU Provinsi NTT bersama empat Provinsi lain (KSDAE-Kementerian Lingkungan Hidup)

J Trust Bank, TATA dan IHG Bangun Crowne Plaza Labuan Bajo

17 Oktober 2023
Suasana di satu sudut kawasan wisata di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat awal Maret 2023. (Rita Hasugian-KatongNTT.com)

Ironi di Labuan Bajo: Investor Luar Menikmati, Masyarakat NTT Nyaris Tak Punya Peran

24 Maret 2023

“Kalau Pemerintah Provinsi NTT itu kaya, punya uang banyak, ya kita tidak perlu (naikan tarif). Kasih gratis saja,” ujarnya dalam jumpa pers di kantor Gubernur NTT, Senin (1/8/2022) kemarin.

Laiskodat mengatakan, tujuan konservasi untuk menjaga kelestarian ekosistem di Pulau Komodo, Pulau Pada dan perairan di sekitarnya. Apalagi nilai jasa TN Komodo sesuai hasil studi beberapa kampus mencapai Rp. 24 triliun.

“Kalau tidak (dijaga), makin lama makin habis,” kata Laiskodat.

Langkah konservasi dengan menaikan tarif masuk menjadi Rp. 3,75 juta dan membatasi jumlah pengunjung, kata Laiskodat, mendapat dukungan dari dunia internasional. Bahkan, menurutnya, beberapa kepala negara dan mantan kepala negara sudah mengontak dirinya dan mendukung upaya konservasi tersebut.

Dilain sisi, kenaikan tarif tersebut tidak melibatkan masyarakat dan pelaku usaha wisata dalam pengkajian. Ketua Forum Penyelamat Pariwisata Manggarai Barat (FORMAPP-MABAR), Rafael Todowela mengatakan, pelaku usaha tidak dilibatkan sama sekali. Bahkan, setelah gelombang protes dilakukan, Pemerintah belum meminta mereka untuk berdialog.

“Tidak pernah (dilibatkan). Tiba-tiba saja ada kenaikan tarif,” kata Rafael kepada KatongNTT.

Kenaikan tarif yang memicu aksi penolakan dari masyarakat dan pelaku usaha wisata itu, kata Laiskodat, disebabkan oleh minimnya sosialisasi. Pihaknya sedang menyiapkan tim untuk melakukan sosialisasi lebih lanjut terkait kenaikan tarif dan pembatasan jumlah pengunjung.

Kenaikan tarif masuk TN Komodo resmi diberlakukan pada 1 Agustus 2022. Gubernur NTT menyebut, tidak ada pilihan lain selain kenaikan tarif tersebut diberlakukan. Disamping itu, upaya sosialisasi dan evaluasi akan terus dilakukan.

Sejumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mempertanyakan kebijakan kenaikan tarif ke Pulau Komodo dan Pulau Padar hingga mencapai Rp3,75 juta per orang per tahun.

“Kami baru saja tiba dan mau ke Rinca karena tidak bisa ke Pulau Komodo. Tapi terlalu mahal. Itulah sebabnya banyak teman ingin ke sini tapi tidak bisa karena terlalu mahal,” kata wisatawan asal Prancis, Pierre yang ditemui di Bandara Komodo, NTT, Selasa, (2/8/2022).

Pierre menyatakan dirinya sangat bersemangat tiba di Labuan Bajo bersama dua temannya untuk mengunjungi banyak tempat wisata. Namun, mereka mendapatkan informasi bahwa Pulau Komodo ditutup sehingga mereka mengalihkan rencana wisata ke Pulau Rinca.

Menurut Pierre, kenaikan tiket itu bukan berita bagus bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Labuan Bajo, apalagi untuk Flores yang belum terlalu terkenal seperti Bali. Kini, banyak temannya tidak bisa berkunjung dan mengalihkan rencana kok wisata ke Lombok dan Bali.

Dia berharap polemik kenaikan harga tiket ini bisa segera terselesaikan sehingga iklim pariwisata di Pulau Komodo kembali hidup dan membawa keuntungan pula bagi warga lokal.

“Kami sangat bersemangat untuk ke sana. Semoga segera dibuka kembali untuk pariwisata,” kata dia.

Informasi kenaikan tarif masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Komodo ini juga dipertanyakan oleh Tika, seorang wisatawan asing asal Jerman.

Menurutnya, tarif Rp3,75 juta per orang per tahun tidak masuk akal bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. “Kalau saya lihat yang lokal berpenghasilan normal pasti sangat mustahil bayar tiket seperti itu,” ucap Tika

Hal lain yang membuat dia heran ialah jumlah tersebut bisa dimanfaatkan oleh wisatawan untuk datang berkali-kali ke Labuan Bajo.

“Tidak mungkin dari luar negeri mau ke sini tiga kali, untuk apa? Tidak mungkin datang tiga kali dalam setahun,” kata Tika.

Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan kebijakan biaya kontribusi yang mencakup tarif tiket masuk sebesar Rp3,75 juta per orang per tahun ke Pulau Padar, Pulau Komodo, dan wilayah perairan di sekitarnya.

Kebijakan itu mulai berlaku 1 Agustus 2022 dengan pengelolaan jasa wisata diambil alih oleh PT Flobamor sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Provinsi NTT.(Antara/Joe)

Baca juga:Gubernur NTT Akui Salah Tidak Sosialisasikan Kenaikan Tarif Masuk TN Komodo

Tags: #komodo#konservasitnkomodo#pulaukomodo#pulaupadar#tarirmasuktnkomodo#tnkomodo#wisatawanasing
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Komodo adalah salah satu ikon dalam logo Provinsi NTT yang terbentuk tahun 1958. DPR baru saja mensahkan UU Provinsi NTT bersama empat Provinsi lain (KSDAE-Kementerian Lingkungan Hidup)

J Trust Bank, TATA dan IHG Bangun Crowne Plaza Labuan Bajo

by Tim Redaksi
17 Oktober 2023
0

Jakarta - MMS Land anak usaha MMS Group Indonesia mengadakan Partnership Agreement Signing proyek Crowne Plaza di Labuan Bajo, Nusa...

Suasana di satu sudut kawasan wisata di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat awal Maret 2023. (Rita Hasugian-KatongNTT.com)

Ironi di Labuan Bajo: Investor Luar Menikmati, Masyarakat NTT Nyaris Tak Punya Peran

by Rita Hasugian
24 Maret 2023
0

Peran pengusaha dan pemasok lokal di Labuan Bajo tidak berkembang besar kendati banyak investor masuk ke daerah itu.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati