Kupang – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita, menegaskan Bibit 98S yang tengah menuju Australia sangat berbeda dengan Badai Seroja dua tahun lalu.
Dwikorita menyampaikan perbedaan keduanya dari segi lintasan, pertumbuhan, dan kemungkinan dampak yang dapat ditimbulkannya.
Badai Seroja sendiri terbentuk di zona tropis dan pada perairan di antara wilayah Pulau Sumba, Pulau Flores, Pulau Timor dan menuju Pulau Rote Ndao.
Badai yang terjadi Nusa Tenggara Timur (NTT) 5 April 2021 ini merupakan anomali yang muncul di zona ekuator dengan kecepatan angin sekitar 40 knot (75 km/jam).
Baca Juga: Pekerjaan Rumah Pemerintah yang Belum Tuntas Pasca Badai Seroja
Ia menyebutnya sebagai anomali karena NTT yang terletak di zona ekuator mempunyai gaya atau efek coriolis.
Gaya ini yang membuat sirkulasi udara bumi melengkung dan tidak berada dalam garis lurus.
Bukan saja udara, efek ini juga bisa membelokkan berbagai materi yang tidak terpancang kuat pada permukaan bumi seperti air laut.
“Seharusnya gaya coriolis dalam zona ekuator ini akan merusak sistem yang terbentuk tapi Seroja ini kejadian yang langka,” kata dia dalam konferensi pers secara daring, Sabtu 8 April 2023.
Sedangkan Bibit 98S ini berbeda dengan Badai Seroja karena tidak terjadi di antara kepulauan NTT.
Bibit ini berada di lepas laut luar kepulauan NTT dan terus bergerak menjauh menuju wilayah Australia.
Lintasan 98S ini, kata dia, masih dalam kategori normal.
“Bibit ini tidak mendekati zona tropis tapi justru menjauh karena adanya gaya corioli dan ini bukan anomali. Anomali itu hanya Seroja,” tegas Dwikorita.
Bibit Siklon Tropis 98S ini bergerak di sekitar Laut Timor sebelah barat daya Saumlaki.
Kecepatan angin maksimum di sekitar sistemnya mencapai 30 knot (56 km/jam).
Sementara tekanan rendah di sekitar pusat sistemnya mencapai 1003 mb.
Sistem 98S bergerak ke arah barat daya. Ini memiliki peluang Kategori Tinggi untuk menjadi siklon tropis di wilayah Australia dalam 24-36 jam ke depan.
Sementara daerah-daerah di NTT dengan Status Siaga dari tanggal 9 sampai 11 April 2023 adalah Manggarai Barat, Kabupaten Kupang. Juga Kota Kupang, Sumba Barat Daya, Sikka dan Ende.
Baca Juga: Bibit 98S Bakal Jadi Badai Usai Paskah, Australia Namakan Siklon Tropis Ilsa
Berdasarkan prakiraan berbasis dampak hujan lebat ini, kata Dwikorita, risiko yang dapat ditimbulkan adalah jembatan yang rendah dan tidak dapat dilintasi. Terjadi longsor dan guguran bebatuan atau erosi tanah dalam skala menengah.
“Volume aliran sungai meningkat banjir Aliran banjir berbahaya dan mengganggu aktivitas masyarakat dalam skala menengah,” ujarnya.
Menurutnya, sering munculnya bibit siklon tropis maupun badai ini sudah menjadi bukti memburuknya perubahan iklim atau climate change saat ini.
Fakta ini menjadi indikasi perubahan iklim global berdampak pada kondisi ekstrim. Oleh karena suhu air laut yang meningkat sehingga berhubungan dengan kondisi sirkulasi.
Kepala Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT, Ambrosius Kodo, juga mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
Masyarakat dapat melaporkan kejadian bencana ke BPBD terdekat. Atau ke Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Provinsi NTT di Call Center 0811 3844 777.
Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab juga menjelaskan adanya tujuh daerah tumbuhnya siklon tropis.
Salah satu daerah adalah bagian tenggara Samudra Hindia atau utara Australia. Wilayah ini juga tempat tengah terjadinya 98S saat ini.
Rata-rata pertumbuhan siklon tropis di tenggara Samudra Hindia ini, kata Fachri, adalah delapan hingga 10 kejadian per musim. Yaitu dari November hingga April.
Sebelumnya rata-rata kejadian di bawah delapan kali. Jumlah ini meningkat seiring dengan perubahan iklim global.
“Untuk April sendiri rata-rata 1,4 kali kejadian,” tukasnya.
Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto menegaskan, suatu sistem berkecepatan 35 Knot dan tekanan udara sudah di bawah 1000 milibar (mb), maka baru akan disebut siklon tropis.

Bila terdapat sistem di luar kriteria itu maka akan tetap disebut bibit siklon.
Pada malam 8 April 2023, BMKG dan The Bureau of Meteorology (BOM) atau Biro Meteorologi Australia akan melakukan serah terima penamaan dan peringatan dini internasional.
Baca Juga: Bibit Siklon Muncul, BMKG Beri Peringatan Dini Cuaca NTT Hingga 11 April
Hal ini dilakukan karena bibit siklon tropis 98S akan memasuki wilayah Australia.
Pemantauan akan menjadi tanggung jawab TCWC Australia mulai pada malam 8 April 2023. (Putra Bali Mula)





