• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Selasa, April 21, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Perempuan dan Anak

Fenomena Baru, 49 Pelajar Perempuan di Bali Jadi Korban Self Harm

Rita Hasugian by Rita Hasugian
3 tahun ago
in Perempuan dan Anak
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ilustrasi Anak

Ilustrasi Anak

0
SHARES
88
VIEWS

Kupang –Sebanyak 49 siswa sekolah di Bali melakukan self harm atau tindakan menyakiti diri sendiri secara sengaja. Ini fenomena baru yang dialami anak-anak di Indonesia.

“Pihak sekolah melakukan inspeksi dadakan pada Desember 2022 dan Februari 2023 terkait fenomena ini,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga dalam pernyataan pers pada Senin, 20 Maret 2023.

BacaJuga

Para peserta Diskusi Komunitas Breaking Barries, Building Feature #KickOutGBV# berfoto bersama dilatari bola untuk olahraga sepak bola di Jakarta, 6 Maret 2026. (Foto: Magdalene)

Sepak Bola Jadi Wadah Promosi Ruang Aman untuk Perempuan

10 Maret 2026

Sewindu Komunitas Lakoat Kujawas, Jatuh Bangun Melestarikan Budaya Mollo

19 Februari 2026

Dia menemui anak-anak korban self harm di Kabupaten Karangasem pada Minggu, 19 Maret 2023. Seluruh korban self harm yang ditemui berjenis kelamin perempuan. Mereka juga berasal dari keluarga yang tidak utuh dan kerap mengalami permasalahan keluarga.

Baca juga: Riset AJI-PR2Media Temukan 82,6 Persen Jurnalis Perempuan Alami Kekerasan Seksual

Anak-anak itu menyakiti dirinnya sendiri dengan menyayat tubuh mereka. Ada yang sekali dan ada yang berulang kali melakukannya.

“Satu hal yang membuat kami miris, anak-anak korban melakukan hal tersebut karena mengikuti trend di media sosial,” ungkap Bintang.

Berdasarkan data dari pihak sekolah, ujarnya, dari 49 anak yang melakukan self harm, 40 anak di antaranya menyayat tubuhnya sebanyak satu kali. Sembilan anak lainnya berulang kali menyayat tubuhnya. ‘

Berdasarkan temuan ini, Bintang menekankan pentingnya pendampingan psikologi sesuai dengan kebutuhan korban.

“40 anak yang melakukan satu kali sayatan telah ditangani dan dilakukan konseling oleh pihak sekolah. Sementara, bagi korban yang melakukan pengulangan ditangani oleh UPTD PPA Kabupaten Karangasem,” jelasnya.

Baca juga: Jumlah Anak Usia Dini Hidup Miskin di NTT, Tertinggi Kedua di Indonesia

Bintang berharap orang tua, guru, pemerintah, bahkan masyarakat perlu menjaga dan memenuhi hak-hak dasar anak. Terutama hak atas kelangsungan hidup dan hak atas perlindungan.

“KemenPPPA berkomitmen memantau kasus ini dan akan terus melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Karangasem. Ini terkait upaya penanganan, perawatan, dan perlindungan korban,” tegas Bintang.

Dia juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Karangasem melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana bersama UPTD PPA. Hal ini terkait dengan penanganan korban yang melakukan self harm secara berulang.

“Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, enam anak sudah mendapatkan konseling secara intens. Satu di antaranya dijadwalkan menemui psikiater dikarenakan mengalami kondisi yang parah dan kerap melakukan penyebaran konten self harm. Sementara tiga anak lainnya telah mendapatkan konseling dari psikolog klinis KemenPPPA,” papar Bintang.

Menyikapi self harm tren di media sosial, Bintang menyerukan agar orang tua, guru, dan pihak-pihak terkait melakukan pengawasan pada anak-anak mereka.

Bintang memahami tentu tidak mudah mengawasi anak-anak mereka. Namun dengan kepedulian dan sinergi dari seluruh pihak, maka dapat mewujudkan konten-konten media sosial yang ramah dan layak anak. *****

 

 

 

Tags: #BintangPuspayoga#Karangasem#KementerianPemberdayanaperempuandan perlindungananak#Mediasosial#Pelajarperempuan#Selfharm
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Para peserta Diskusi Komunitas Breaking Barries, Building Feature #KickOutGBV# berfoto bersama dilatari bola untuk olahraga sepak bola di Jakarta, 6 Maret 2026. (Foto: Magdalene)

Sepak Bola Jadi Wadah Promosi Ruang Aman untuk Perempuan

by KatongNTT
10 Maret 2026
0

Siapa yang tidak kenal sepak bola, jenis olahraga paling populer seantero Indonesia bahkan dunia. Untuk merayakan Hari Perempuan Internasional pada...

Sewindu Komunitas Lakoat Kujawas, Jatuh Bangun Melestarikan Budaya Mollo

by Yanti Mesak
19 Februari 2026
0

Komunitas Lakoat Kujawas adalah salah satu komunitas yang berada di Desa Taiftop, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT....

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati