Kupang – Kota Kupang menjadi kota dengan kenaikan harga konsumen atau inflasi tertinggi pada Maret 2023. Dibandingkan 65 kota inflasi lainnya di Indonesia.
Angka inflasi Kota Kupang mencapai 1,30 persen berdasarkan perbandingan month to month (MtM) atau perhitungan inflasi Maret 2023 terhadap Maret 2022.
Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Timur (NTT) memaparkan, penyebab terbesar inflasi ini ialah tingginya harga tiket pesawat dan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).
Baca Juga: BI NTT Paparkan 6 Langkah Menekan Inflasi
Tiket pesawat dan BBM ini termasuk dalam kelompok transportasi dalam Indeks Harga Konsumen (IHK).
Hal ini yang tidak dapat dikontrol oleh pemerintah daerah karena merupakan kewenangan pemerintah pusat dan maskapai udara.
Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale memaparkan, Kota Kupang memiliki indeks kenaikan terbesar pada kelompok transportasi yaitu 3,88 persen.
“Kota dengan inflasi tertinggi di Indonesia adalah Kota Kupang. Dengan inflasi 1,30 persen dan inflasi terendah di Denpasar yaitu 0,03 persen,” bebernya.

Dalam perhitungan itu juga tampak kota lainnya di NTT ikut berada di peringkat 3 besar kota tinggi inflasi di Indonesia. Yaitu Maumere dan Waingapu.
“Ketiga kota inflasi di NTT pada bulan ini mengalami kenaikan tertinggi di seluruh Indonesia,” paparnya.
Kota Maumere mengalami inflasi 1,09 persen. Juga dengan penyebab terbesarnya yaitu kelompok transportasi yang naik 2,2 persen.
Diikuti 1,63 persen pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Sedangkan di Kota Waingapu sendiri kelompok transportasi memang tak memiliki andil besar.
Kelompok pengeluaran ini justru mengalami deflasi 0,32 persen.
Inflasi tertingginya ialah kelompok makanan, minuman, dan tembakau yaitu 1,13 persen.
Akan tetapi tetap saja secara keseluruhan inflasi NTT pada Maret 2023 ini naik menjadi 1,26 persen.
Kelompok transportasi sebagai penyebabnya di angka 3,40 persen secara keseluruhan di NTT dalam perhitungan MtM itu.
“Kalau kita perhatikan sejak Oktober 2022 pun terjadi penurunan inflasi. Tetapi pada Maret 2023 terjadi kenaikan inflasi signifikan dibandingkan bulan sebelumnya,” tutur Matamira.
Ia juga menyebut, perbandingan dengan bulan sebelumnya diketahui komoditas angkutan udara dan beras menjadi andil inflasi terbesar pada Maret 2023 lalu.
“Belakangan ini harga tiket pesawat berangsur naik dikarenakan adanya hari libur Nyepi, jelang hari raya Idul Fitri dan Paskah,” kata dia.
Sedangkan stok beras memang berkurang di lapangan dan belum memasuki masa panen.
Menurut Matamira panen besar baru akan berlangsung di NTT pada April dan Mei.
“Jelang hari raya Idul Fitri ini juga akan sedikit berdampak pada kenaikan harga beras,” kata dia.
Naiknya harga bensin, tiket pesawat atau biaya angkutan udara, dan angkutan dalam kota ini juga mendorong inflasi dalam perhitungan tahun ke tahun atau year on year (YoY).
Kenaikan kelompok transportasi ini sebesar 21,51 persen dalam perhitungan YoY itu diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 6,90 persen.
“Sampai saat ini kelompok transportasi masih tercatat mengalami kenaikan atau inflasi signifikan. Dengan kenaikan sebesar 21,51 persen untuk gabungan dari 3 kota tersebut,” terang dia.
Dalam perhitungan YoY ini pun Kota Kupang tercatat mengalami inflasi pada kelompok transportasi sebesar 21,47 persen. Kota Maumere dengan 25,59 persen, dan Kota Waingapu sebesar 19,02 persen.
“Andil inflasi terbesar dari kelompok transportasi diikuti kelompok makanan, minuman dan tembakau,” ungkapnya.
Baca Juga: Monopoli Maskapai Diduga Penyebab Tiket Pesawat ke NTT Mahal
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTT Isyak Nuka secara terpisah berpendapat soal tetap tingginya harga tiket pesawat di NTT.
Hal itu karena tidak banyaknya maskapai penerbangan yang beroperasi di wilayah Provinsi NTT selain milik Lion Air Group.
Kondisi ini yang kemudian mempengaruhi harga tiket pesawat apalagi setelah harga avtur melambung tinggi.
Saat harga tiket rute penerbangan lain turun pun untuk penerbangan dalam NTT diduga akan sukar mengikuti harga avtur.
Kondisi ini akan memberikan dampak inflasi bagi daerah.
Menurut dia selama ini angkutan udara sudah memberi sumbangan besar pada tingginya inflasi di NTT.
“Saya menduga mahalnya harga tiket pesawat intra NTT dibandingkan di luar NTT dikarenakan tidak adanya pesaing dari operator penerbangan yang lain,” sebut Isyak saat dihubungi beberapa waktu lalu. (Putra Bali Mula)


