Kupang – Warga Desa Nonbaun menggaruk-garuk sungai yang kering saat kemarau tiba.
Mereka mengais dengan peralatan seadanya berharap ada air tersisa.
Serpihan emas alami seringkali ditemukan di sungai itu. Ada selisih paham yang kerap terjadi antar warga.
Bukan karena emasnya tetapi karena perburuan air. Mereka bisa berebutan dan meributkan hal ini.
Baca Juga: Ramadan, Humanity First Beri NTT 5 Titik Akses Air Bersih
Desa yang berada di Kecamatan Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang ini memiliki tiga dusun. Hanya Dusun 1 yang memiliki akses air bersih karena pernah dibantu pengeborannya.
Namun Dusun 2 dan Dusun 3 yang lumayan jauh jaraknya sampai saat ini sangat membutuhkan air bersih. Dusun 2 saja hidup dengan 500 jiwa. Mereka bergembira begitu hujan turun lalu kepayahan lagi begitu paceklik.

Bila tidak mengais air di sungai maka masyarakat desa terpaksa membeli air menggunakan jeriken. Rp 10 ribu untuk 20 liter air. Harganya naik drastis saat kemarau, Rp 20 ribu untuk 20 liter air.
Air yang didapatkan ini hanya digunakan untuk keperluan makan, minum dan kebutuhan bayi juga ternak.
Anak-anak sekolah juga diwajibkan membawa 4 liter air untuk kebutuhan di sekolah. Dusun 2 memiliki SD, sedangkan Dusun 1 terdapat SD hingga SMA.
Agil Cahyo Manembah selaku Koordinator Lapangan Program Air Bersih Humanity First (HF) Indonesia mendapati informasi ini saat mendata wilayah Dusun 2.
HF Indonesia berencana melakukan pengeboran air bagi desa ini dengan dana yang terkumpul dari donasi.
Perjalanannya menuju desa itu dilakukan 23 Maret 2023 lalu. Hujan terus mengguyur sepanjang perjalanan kala itu. Kendaraan yang digunakan adalah mobil pickup. Tarifnya Rp 150 ribu per penumpang dari Kota Kupang ke Desa Nonbaun.
Google Map memang menunjukkan jaraknya 2 jam perjalanan. Namun ternyata waktu yang diperlukan dua kali lipat dari perhitungan aplikasi.
Realitanya, waktu tempuh selama 4 jam perjalanan. Kondisi jalan rusak parah, banyak longsoran, lumpur, bebatuan lepas dimana-mana. Hujan juga tak henti-henti dan merembes ke jalan curam yang tak sempurna itu.
Bisa saja jaraknya ditempuh dalam dua jam menggunakan sepeda motor. Itupun bagi orang yang telah terbiasa dengan medan sepanjang jalan desa seperti itu.
Sekitar delapan longsoran ditemuinya bahkan adanya jalanan terputus akibat longsoran.
Kendaraan yang akan melintas terpaksa menggunakan jalan tanah atau bekas longsoran.
Jalur seadanya ini licin dan berbahaya. Pernah terjadi kecelakaan di sini.
Jalur ke desa ini menjadi permasalahan sedari dulu ditambah jalan yang terputus akibat longsor saat Badai Seroja dua tahun lalu.
Setelah melewati Desa Passi maka akan mendapati sungai yang airnya yang meluap. Jaraknya dekat dengan Desa Nonbaun.
Namun ia dan penumpang lainnya harus menyeberangi sungai itu melalui jembatan kecil.
“Sudah. Kita sampai di situ saja. Angkotnya tidak bisa lewat lagi,” cerita Agil saat ditemui di Kawasan Kuliner Pantai Lahilai Bissi Kopan, Rabu 5 April lalu.
Pengurus desa sudah menunggu di seberang sungai. Mereka masing-masing membawa kendaraan roda dua untuk menjemputnya.
Perjalanan menggunakan sepeda motor juga melalui jalan yang sama parahnya.
Menurut cerita Sekretaris Desa, volume air sungai pernah mencapai empat meter kala hujan beberapa tahun lalu saat hujan tak hentinya turun.
Luapan air hampir mencapai rumah Kepala Dusun 1 Desa Nonbaun yang rapat sekali dengan sungai.
Tak ada jaringan internet maupun telepon saat memasuki Desa Nonbaun. Jaringan telekomunikasi hanya ada di sebagian wilayah Desa Passi.
Masyarakat Desa Nonbaun sendiri sebenarnya sudah sangat bersedia menghibahkan tanah mereka untuk dibuatkan menara telekomunikasi.
Dusun 1 dan Dusun 2 juga baru terlistriki pada 2020 lalu kendati jalurnya sudah masuk sejak 2018. Sedangkan Dusun 3 sendiri setengah wilayahnya belum terjangkau listrik.
Waktu perjalanan yang lebih dari dugaan dan ketiadaan sinyal terpaksa membuatnya batal mengikuti rapat daring yang telah dijadwalkan hari itu.

Ia berada di lokasi mengambil seluruh data yang diperlukan untuk pengeboran air di desa ini.
Ia berbincang dengan kepala desa maupun seluruh kepala dusun hingga pengurus desa mengenai tujuannya.
Masyarakat sangat berharap dengan pengeboran air ini. Selama ini juga belum pernah ada pihak yang masuk untuk mendorong hal tersebut.
Masyarakat juga selalu menabung air hujan dengan berbagai macam wadah penampungan untuk dapat bertahan hidup di musim kemarau.
Tidak heran saat persediaan itu habis maka ada penduduk yang akan mengais air di sungai.
“Mereka gali itu harapannya masih ada air. Sisa-sisa tampungan air itu yang mereka harapkan,” tukasnya.
Namun harapan masyarakat tampaknya berbenturan dengan kondisi jalan yang sudah menahun tak kunjung diperbaiki.
Jalan seperti itu sudah pasti akan susah dilewati oleh kendaraan dimensi besar ataupun mobil tanki air.
Kondisi ini yang akhirnya membuat vendor pengebor air memutuskan untuk tak menerima kerja sama.
Baca Juga: Krisis Air Bersih, Warga Desa Wolowea di Nagekeo Sudah 2 Tahun Konsumsi Air Kotor dari Parit
Jalan rusak seperti itu bagaimana pun akan menjadi kendala besar untuk akses masuknya pengerjaan.
“Vendor yang saya kirimkan video jalurnya, jalannya, banyak yang longsor juga ‘kan, langsung nolak mereka karena tahu tidak mungkin jalan ini bisa dilalui,” jelasnya.
Kondisi yang sama membuat warga desa ini terisolir karena tidak ada jalur alternatif lainnya.
Bila terjadi bencana maka menurutnya sentuhan bantuan ke desa ini menurut dia akan sulit selama jalan desa itu belum diperbaiki.
Kondisi tersebut juga sudah disampaikan kepada Bappelitbangda NTT melalui rapat secara daring beberapa kali.
Pihaknya berupaya agar Desa Nonbaun juga bisa mendapatkan bantuan pengeboran air bersih ini.
Ia menyebut HF Indonesia bekerja berdasarkan pagu atau dana yang telah dikumpulkan oleh dari donasi yang masuk.
Awalnya empat titik pengeboran air yang diajukannya untuk NTT. Kemudian adanya donasi lebih yang masuk sehingga diupayakan menjadi lima titik.
Biaya pengeboran memang bergantung dengan lokasi atau kondisi dari daerah masing-masing. (Putra Bali Mula)




