Kupang – “Pada saat itu tahun 1984 toko buku sudah cukup banyak di Kupang. Kurang lebih 16 toko buku waktu itu. Perkembangan toko buku sangat baik karena dulu belum ada sistem online dan sebagainya. Minat baca juga tinggi. Tapi kemudian satu per satu mulai tutup,” kata Nyoman Radjendra, pemilik Toko Buku Suci di Kupang.
***
Waktu serasa berputar kembali ke masa lampau ketika masuk ke Toko Buku Suci. Di era internet, Toko Buku Suci yang berdiri pada 24 Oktober 1984 mampu bertahan dengan mengusung konsep yang sama sedari awal beroperasi. Toko buku ini hanya melayani pembelian langsung di tempat, baik buku maupun perlengkapan menulis lainnya.
Toko Buku Suci terletak di Jalan.Jenderal Sudirman Nomor 128, Kuanino, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Toko buku ini diapit oleh beberapa toko dan kedai makanan. Buku-buku dipajang sampai hanya menyisakan lorong-lorong kecil untuk pembeli bisa mengelilingi toko. Aroma khas buku menyeruak kala masuk ke toko yang sudah berusia 39 tahun itu. Alat-alat kantor dan media pendukung belajar siswa juga tersedia.
Nyoman Radjendra, pemilik Toko Buku Suci menjelaskan,teknologi kini kian maju dengan menawarkan pembelian di ujung jari. Namun dengan dapat melihat, menyentuh, dan membaui langsung buku yang diinginkan, masih punya sensasinya tersendiri.
Baca Juga: Sosok di Balik Toko Buku Suci
Toko itu awalnya menggunakan gudang milik keluarga Nyoman. Namun akhirnya ia dan sekeluarga sepakat untuk membuka toko buku dengan melihat minat baca dan tingkat kebutuhan yang tinggi pada buku kala itu.
Toko Buku Suci hadir menambah jajaran toko buku di Kota Kupang. Sehingga terdapat 17 toko buku, kecil maupun yang besar kala itu.
Belum ada sistem pembelian daring dan akses mendapat buku dari luar pulau hanya diketahui oleh beberapa pihak. Ini memicu kebutuhan pada toko buku jadi tinggi. Sehingga prospek berjualan buku masa itu cukup menjanjikan.
Namun seiring berjalannya waktu, keberadaan toko buku mulai digoyahkan dengan kehadiran penerbit-penerbit besar yang datang dengan konsep penjualan langsung ke sekolah-sekolah.
“Para pesaing, penerbit-penerbit besar dari Jawa langsung masuk ke sekolah-sekolah. Mereka datang dengan modal yang besar, dan mengusai pasar. Itu sangat menggoyahkan. Sehingga banyak yang akhirnya gulung tikar,” cerita Nyoman.

Pada momen itu pun jadi titik terendah Nyoman dalam berjualan buku. Pada 90-an awal ia pun ikut-ikutan turun ke sekolah-sekolah dan menawarkan pembelian dengan kredit.
“Penjualan drop luar biasa. Saya mencoba menjual secara kredit ke sekolah-sekolah. Ternyata saya tidak banyak pengalaman. Saya mengambil seluruh tabungan saya dari awal pendirian, seluruhnya saya ambil untuk bayar,” cerita pria 53 tahun itu.
Baca Juga: Terancam Punah, Tujuh Bahasa Daerah Asal NTT Direvitalisasi
Bak kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula, para pebisnis buku saat itu pun langsung diuji lagi dengan kurikulum pembelajaran di sekolah yang diganti pemerintah. Kebutuhan buku murid maupun guru otomatis berubah. Banyak pelanggan yang juga mulai beralih.
“Itu juga jadi tantangan yang luar biasa. Kalau kita tidak tahan, kita stres, akhirnya gulung tikar dan tidak usaha,” kata Nyoman.
Pria yang lahir besar di Kupang ini menjelaskan, caranya bertahan dalam naik turunnya laju bisnis buku ini adalah dengan menjaga kepercayaan. Ia awalnya menganggap ini adalah hal yang sepele. Namun ternyata mahal harganya.
“Jaga kepercayaan dengan tetap konsisten. Kalau jual buku ya jual buku. Yang kedua, konsisten dalam hal kewajiban. Kewajiban baik kepada suplier, pemerintah, dan sebagainya,” jelasnya.
Hal berikutnya ialah tetap konsisten menyediakan sarana pembelajaran. Sekalipun kebutuhan di sekolah sudah dipasok oleh penerbit, namun menurutnya pasti ada sebagian kecil yang tak terpenuhi. Inilah yang ia sediakan.
Ketiga, menyediakan apa yang dibutuhkan pasar dengan memperhatikan harga dan pelayanan.
“Langganan kita agak goyah juga. Tetapi mereka melihat pengalaman yang lalu, apa yang dibutuhkan, apa yang diharapkan, dilayani dan dipenuhi, mereka akhirnya kembali. Saat kembali itulah, kami menjadi stabil dan jadi pembelajaran dalam menghadapi persaingan yang luar biasa itu,” ujar Nyoman.
Nyoman sendiri hampir menyerah saat itu. Namun, buah dari konsisten dalam menjaga kepercayaan pelanggan dan suplier, pada kurikulum baru membuat Nyoman dipilih sebagai penyalur utama kebutuhan buku pembelajaran ke sekolah-sekolah.
“Jadi tidak ada kata menyerah. Sesulit apapun itu,” katanya.
Sedangkan untuk buku-buku kurikulum lama ia kemudian sumbangkan ke sekolah-sekolah di pelosok.
Baca Juga: Ombudsman NTT Ingatkan Pungutan Sekolah Harus Sesuai Peraturan
Di tahun-tahun berikutnya, pesaingnya mulai berkurang. Makin berkurang lagi kala Gramedia, satu perusahaan penerbitan dan penjualan buku besar dari Jakarta dibuka di Kupang pada awal 2000_an.
“Baru dipasang selebaran dicari pekerja untuk di Gramedia saja waktu itu banyak yang sudah mulai goyah,” katanya.

Namun Nyoman melihat pesaing sebagai sesuatu yang tak harus ditakuti. Menurutnya, adanya pesaing jadi pemicu untuk memberi yang terbaik bagi masyarakat. Tak ada pesaing membuat pengusaha akan abai pada pelayanan kepada masyarakat.
Spirit ini yang terus ia jaga dalam menghadapi pesaing yang ada. Membuat Toko Buku Suci tetap bertahan di Kota Kupang di tengah maraknya pembelian secara daring melalui internet.
Kala pandemi COVID19 menyerang, menjadi satu momentum peralihan orang berpindah dari belanja luring ke daring. Termasuk sistem pembelajaran yang dari rumah, materi-materi pembelajaran yang sudah bisa diunduh lewat internet.
Situasi ini jadi pengalaman pahit yang dihadapi para penjual buku. Namun Nyoman memaklumi perubahan yang terjadi tiba-tiba itu. Sehingga baginya naif jika saat itu langsung mengambil keputusan untuk tidak lagi berjualan buku.
“Situasi ini tidak selamanya baik tidak selamannya susah. Kita prinsipnya tantangan apapun kita tidak bisa menyerah,” pungkasnya. *****



