Kupang – Nyoman Radjendra masih ingat benar kala itu ia masih duduk di kelas 2 SMP saat diberi tanggung jawab oleh orang tuanya untuk mengurus Toko Buku Suci.
Inisiatif untuk membangun toko buku ini timbul oleh karena ayah Nyoman, I Made Kawisuda memiliki 10 anak, yang mana di tiap tahun kebutuhan akan buku sangat banyak.
“Maka dari itu orang tua saya meminta saya untuk membuka toko buku. Tentunya dengan pendampingan beliau,” cerita Nyoman.
Pria 53 tahun ini menuturkan awal mula dibangunnya toko buku ini dimulai dengan tanpa modal yang cukup. Katanya, “hanya dikasih gambaran usaha tanpa modal dan motivasi. Itu saja.”
Ia kemudian memanfaatkan teman-temannya di sekolah dengan membantu membelikan mereka buku tanpa dipungut biaya apapun. Namun dengan catatan harus menitipkan sejumlah uang.
Orang tuanya juga mengajarkan cara melobi toko-toko buku besar di Kupang untuk mendapat diskon. Lalu diskon dipakai untuk membeli barang yang dapat dijual lagi.
“Saya kemudian diajar orang tua saya untuk melobi toko-toko buku besar yang ada (di Kupang). Ternyata saya diberi diskon. Diskon itu yang saya pakai, kumpul untuk dijadikan barang jualan,” ungkapnya.
Baca Juga: Toko Buku Suci Bertahan Hidup di Era Internet
Tak mudah memang menjalani bisnis ini. Apalagi waktu itu dia masih berusia 14 tahun.
Dalam masa pubertas dengan segala gengsi dan masih ingin banyak bermain, Nyoman terpaksa harus menekan segala rasa malu maupun rasa malas. Ini semua demi menjalankan tanggung jawab yang diberi orang tuannya.
“Kami 10 orang diberi kesempatan yang sama semua (untuk mengelola toko), tapi hanya saya yang bertahan,” jelasnya.
Tentu ada pemberontakan kala itu, namun ia ingat bagaimana ayahnya memberikan motivasi kepadanya. Ayahnya mengatakan, bekerja juga bagian dari belajar.
Bermodal motivasi besar yang didapat dari orangtuanya, Nyoman perlahan menjalani harinya sebagai penjual buku.
“Rasa malu saat itu sangat tinggi. Tahu sendiri budaya kita kalau bekerja dianggap orang yang tidak mampu, tidak berdaya. Teman-teman saya keren semua. Tapi itulah tantangan terberat waktu masih remaja. Harus menutup atau menekan rasa malu saya. Bagaimana saya bisa berjualan di hadapan teman-teman waktu itu,” cerita pria dengan dua anak ini.

Waktu itu para pemilik toko buku di Kupang tergabung dalam satu komunitas, dan Nyoman jadi yang termuda di komunitas tersebut.
“Yang lain orang tua semua. Kalau ada pertemuan saya hanya duduk dengar, bantu tuang kopi. Sekarang saya yang bertahan sendiri,” katanya mengenang kembali masa itu.
Baca Juga: Gambir Berdarah dalam Ingatan Sejarah
Nyoman sendiri mengaku tak terlalu suka membaca buku. Pelajaran yang ia suka dulu ialah Matematika sehingga dia lebih senang berhitung. Kesenangannya ini membantunya dalam mengelola bisnisnya.
Hingga ketika masuk Sekolah Menengah Atas (SMA), ia akhirnya merekrut satu pegawai. Nyoman juga sudah mampu membiayai sekolahnya dan dua saudaranya dari hasil jualan buku.
Sempat terbesit dalam pikirannya jika orang tuanya memanfaatkan dirinya untuk mengurangi tanggungan anak-anak mereka yang banyak. Tetapi dia sadar jika proses yang ia lalui, realita keras yang ia dapat, memberi hasil manis sampai kini.
“Ketika saya mampu membiayai sekolah saya sendiri, lalu satu pegawai dengan saudara dua orang, itu ada rasa bangga tersendiri. Lalu pas selesai kuliah, teman-teman yang lain cari lowongan kerja, saya justru buka lowongan pekerjaan,” katanya sambil tertawa mengenang masa itu.
Kesemuanya itu menurut Nyoman adalah hasil dari bimbingan dan dukungan kedua orang tuanya yang tak pernah putus. Tak banyak dana yang mereka beri, justru kata-kata motivasi yang selalu ia dapat. Namun baginya hal itu justru jadi pembelajaran yang paling berharga baginya.
“Waktu saya mengalami kerugian besar, mereka tidak bantu kasih saya dana. Walaupun sebenarnya mereka ada, bisa. Tapi yang mereka kasih justru kata-kata. Itu saja,” ungkapnya.
Nama Toko Buku Suci sendiri diambil dari nama ibunya, Ni Luh Sutji yang juga jadi support system Nyoman sehingga membuat toko bukunya kokoh bertahan hingga kini.
Bahkan, di Juli 2010 Nyoman membuka toko buku ‘Dwipa’, sebagai toko buku pembantu dengan konsep yang sama. Konvensional, tanpa membuka layanan secara daring.
Karena bagi Nyoman tak ada orang itu bisa hidup tanpa membaca. Entah itu daring atau luring. Semuanya adalah pilihan. Sehingga keberadaan toko buku konvensional masih tetap ia pertahankan untuk menjawab setiap mereka yang masih lebih memilih mencari buku secara langsung.*****




