• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Kamis, Juli 2, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Inspirator

Sosok di Balik Toko Buku Suci

Tim Redaksi by Tim Redaksi
3 tahun ago
in Inspirator
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Toko Buku Suci, salah satu toko tertua di Kupang, NTT (Ruth-KatongNTT)

Toko Buku Suci, salah satu toko tertua di Kupang, NTT (Ruth-KatongNTT)

0
SHARES
393
VIEWS

Kupang – Nyoman Radjendra masih ingat benar kala itu ia masih duduk di kelas 2 SMP saat diberi tanggung jawab oleh orang tuanya untuk mengurus Toko Buku Suci.

Inisiatif untuk membangun toko buku ini timbul oleh karena ayah Nyoman, I Made Kawisuda memiliki 10 anak, yang mana di tiap tahun kebutuhan akan buku sangat banyak.

BacaJuga

Mariangle Hungria, warga Brasil meraih peraih Nobel Pangan dan Pertanian Dunia 2025 karena menemukan bakteri tanah dapat digunakan sebagai pupuk yang ramah lingkungan dan murah . (Luciano Pascoal)

Mariangela Hungria, llmuwan Brasil Buktikan Bakteri Bisa Selamatkan Bumi

15 Mei 2025
Disabilitas di Manggarai Bertahan Hidup di Tengah Minimnya Perhatian Pemerintah

Disabilitas di Manggarai Bertahan Hidup di Tengah Minimnya Perhatian Pemerintah

18 Oktober 2024

“Maka dari itu orang tua saya meminta saya untuk membuka toko buku. Tentunya dengan pendampingan beliau,” cerita Nyoman.

Pria 53 tahun ini menuturkan awal mula dibangunnya toko buku ini dimulai dengan tanpa modal yang cukup. Katanya, “hanya dikasih gambaran usaha tanpa modal dan motivasi. Itu saja.”

Ia kemudian memanfaatkan teman-temannya di sekolah dengan membantu membelikan mereka buku tanpa dipungut biaya apapun. Namun dengan catatan harus menitipkan sejumlah uang.

Orang tuanya juga mengajarkan cara melobi toko-toko buku besar di Kupang untuk mendapat diskon. Lalu diskon dipakai untuk membeli barang yang dapat dijual lagi.

“Saya kemudian diajar orang tua saya untuk melobi toko-toko buku besar yang ada (di Kupang). Ternyata saya diberi diskon. Diskon itu yang saya pakai, kumpul untuk dijadikan barang jualan,” ungkapnya.

Baca Juga: Toko Buku Suci Bertahan Hidup di Era Internet

Tak mudah memang menjalani bisnis ini. Apalagi waktu itu dia masih berusia 14 tahun.

Dalam masa pubertas dengan segala gengsi dan masih ingin banyak bermain, Nyoman terpaksa harus menekan segala rasa malu maupun rasa malas. Ini semua demi menjalankan tanggung jawab yang diberi orang tuannya.

“Kami 10 orang diberi kesempatan yang sama semua (untuk mengelola toko), tapi hanya saya yang bertahan,” jelasnya.

Tentu ada pemberontakan kala itu, namun ia ingat bagaimana ayahnya memberikan motivasi kepadanya. Ayahnya mengatakan, bekerja juga bagian dari belajar.

Bermodal motivasi besar yang didapat dari orangtuanya, Nyoman perlahan menjalani harinya sebagai penjual buku.

“Rasa malu saat itu sangat tinggi. Tahu sendiri budaya kita kalau bekerja dianggap orang yang tidak mampu, tidak berdaya. Teman-teman saya keren semua. Tapi itulah tantangan terberat waktu masih remaja. Harus menutup atau menekan rasa malu saya. Bagaimana saya bisa berjualan di hadapan teman-teman waktu itu,” cerita pria dengan dua anak ini.

Nyoman Radjendra, pemilik toko buku Suci (Ruth-KatongNTT)
Nyoman Radjendra, pemilik toko buku Suci (Ruth-KatongNTT)

Waktu itu para pemilik toko buku di Kupang tergabung dalam satu komunitas, dan Nyoman jadi yang termuda di komunitas tersebut.

“Yang lain orang tua semua. Kalau ada pertemuan saya hanya duduk dengar, bantu tuang kopi. Sekarang saya yang bertahan sendiri,” katanya mengenang kembali masa itu.

Baca Juga: Gambir Berdarah dalam Ingatan Sejarah

Nyoman sendiri mengaku tak terlalu suka membaca buku. Pelajaran yang ia suka dulu ialah Matematika sehingga dia lebih senang berhitung. Kesenangannya ini membantunya dalam mengelola bisnisnya.

Hingga ketika masuk Sekolah Menengah Atas (SMA), ia akhirnya merekrut satu pegawai. Nyoman juga sudah mampu membiayai sekolahnya dan dua saudaranya dari hasil jualan buku.

Sempat terbesit dalam pikirannya jika orang tuanya memanfaatkan dirinya untuk mengurangi tanggungan anak-anak mereka yang banyak. Tetapi dia sadar jika proses yang ia lalui, realita keras yang ia dapat, memberi hasil manis sampai kini.

“Ketika saya mampu membiayai sekolah saya sendiri, lalu satu pegawai dengan saudara dua orang, itu ada rasa bangga tersendiri. Lalu pas selesai kuliah, teman-teman yang lain cari lowongan kerja, saya justru buka lowongan pekerjaan,” katanya sambil tertawa mengenang masa itu.

Kesemuanya itu menurut Nyoman adalah hasil dari bimbingan dan dukungan kedua orang tuanya yang tak pernah putus. Tak banyak dana yang mereka beri, justru kata-kata motivasi yang selalu ia dapat. Namun baginya hal itu justru jadi pembelajaran yang paling berharga baginya.

“Waktu saya mengalami kerugian besar, mereka tidak bantu kasih saya dana. Walaupun sebenarnya mereka ada, bisa. Tapi yang mereka kasih justru kata-kata. Itu saja,” ungkapnya.

Nama Toko Buku Suci sendiri diambil dari nama ibunya, Ni Luh Sutji yang juga jadi support system Nyoman sehingga membuat toko bukunya kokoh bertahan hingga kini.

Bahkan, di Juli 2010 Nyoman membuka toko buku ‘Dwipa’, sebagai toko buku pembantu dengan konsep yang sama. Konvensional, tanpa membuka layanan secara daring.

Karena bagi Nyoman tak ada orang itu bisa hidup tanpa membaca. Entah itu daring atau luring. Semuanya adalah pilihan. Sehingga keberadaan toko buku konvensional masih tetap ia pertahankan untuk menjawab setiap mereka yang masih lebih memilih mencari buku secara langsung.*****

Tags: #TokoBuku#TokoBukudiKupang#TokoBukuSuci
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Mariangle Hungria, warga Brasil meraih peraih Nobel Pangan dan Pertanian Dunia 2025 karena menemukan bakteri tanah dapat digunakan sebagai pupuk yang ramah lingkungan dan murah . (Luciano Pascoal)

Mariangela Hungria, llmuwan Brasil Buktikan Bakteri Bisa Selamatkan Bumi

by PriyaHusada
15 Mei 2025
0

Dari laboratorium sunyi di Brasil, Hungria memimpin revolusi pertanian yang tak hanya menyelamatkan petani, tapi juga membuka jalan bagi cara...

Disabilitas di Manggarai Bertahan Hidup di Tengah Minimnya Perhatian Pemerintah

Disabilitas di Manggarai Bertahan Hidup di Tengah Minimnya Perhatian Pemerintah

by KatongNTT
18 Oktober 2024
0

Ruteng – Berbagai suku cadang sepeda motor terpajang apik di rak kayu di bengkel yang terletak persis di sisi barat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati