Kupang – El Nino yang mulai mendekati puncaknya di Agustus dan September mendatang akan berdampak pada kekeringan ekstrem maupun angin kencang termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Agung Sudiono Abadi, dalam beberapa waktu terakhir telah beberapa kali mengeluarkan peringatan dini cuaca di NTT. Terbaru, dikeluarkannya peringatan angin kencang 23 hingga 25 Juli 2023.
Angin kencang yang melanda wilayah NTT ini rata-rata memiliki kecepatan 40 – 50 kilometer (km) per jam.
Baca juga : Waspada Kekeringan, Perlu Optimalkan Palawija, Sorgum dan Singkong
Kota-kota di NTT yang dilanda angin berkecepatan 50 km per jam ialah Kupang, Atambua, Kefamenanu, Ba’a, Sabu, Waingapu, Waibakul, Waikabubak, Weetabula dan Oelamasi.
Pada 23 Juli wilayah yang mengalami angin kencang adalah Manggarai Barat, sebagian Flores Timur, sebagian Lembata, Sebagian Pulau Timor, sebagian Pulau Sabu dan sebagian Pulau Sumba.
Sedangkan 24 Juli nantinya terjadi di sebagian Pulau Timor, Pulau Rote, Sabu dan Sumba. Kemudian angin kencang akan melanda sebagian Pulau Timor pada 25 Juli 2023.
Baca juga : Gelombang Setinggi 4 Meter Rusak Perahu Nelayan dan Kafe di Kota Kupang, Kerugian Capai Ratusan Juta
“Waspada potensi angin kencang yang sifatnya kering di musim kemarau yang berpotensi menyebabkan meluasnya kebakaran hutan dan lahan di wilayah di NTT,” kata dia, Minggu 23 Juli 2023.
Ende sendiri menjadi daerah yang berpotensi terjadi hujan yang dapat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat hingga 25 Juli 2023.
Stasiun Klimatologi NTT juga dalam monitoring hari tanpa hujan (HTH) mencatat terjadinya HTH ekstrem hingga 60 hari sejak Juli dasarian II. Kondisi ini terjadi di Kabupaten Sumba Timur dan Rote Ndao.
Baca juga : Waspada Bencana Kekeringan, Pemerintah Sediakan Asuransi Bagi Petani
Untuk Sumba Timur terjadi di sekitar wilayah Rambangaru dan Kamanggih. Sedangkan di Rote Ndao terjadi di sekitar wilayah Busalangga.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita, sebelumnya memperingatkan masyarakat soal puncak El Nino yang akan terjadi pada Agustus dan September tahun ini.
Intensitas El Nino memang lemah dan bisa menjadi moderat tapi berdampak pada ketersediaan air atau kekeringan.
“Ini berdampak pada ketahanan pangan,” kata Dwikorita dalam keterangan persnya, 18 Juli 2023.
Baca juga : Antisipasi Krisis Pangan, Jokowi Soroti Jagung dan Sorgum di NTT
Ia meminta masyarakat menjaga kekeringan, mengatur tata kelola air, beradaptasi dengan pola tanam, juga memantau informasi cuaca dan iklim yang resmi yaitu dari BMKG.
Pihaknya juga telah menyampaikan ini kepada kepala daerah sejak Februari untuk diantisipasi. Pihaknya merekomendasikan masyarakat agar waspada.
Namun semasa El Nino ini akan ada sebagian wilayah Indonesia yang bisa saja mengalami hujan sedangkan wilayah lainnya mengalami kekeringan. ****




