• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, September 30, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Opini

HUT RI ke 78: Anak Buah Mati Ada Gantinya, tapi Pemimpin?

Oleh : Tonnio Irnawan, Pembaca Buku Sejarah

Rita Hasugian by Rita Hasugian
3 tahun ago
in Opini
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Presiden Sukarno

Presiden Sukarno

0
SHARES
66
VIEWS

16 Agustus 1945 :
Jam  3 pagi aku masih bangun. Aku tidak bisa tidur dan duduk di kamar seorang diri makan sahur. Keadaan dalam rumah sunyi sepi. Semua orang tidur. Kamar makan kami langsung menghadap ke pekarangan dan pintunya terbuka sedikit. Terdengarlah sayup suara mendesir dari balik semak – semak dan serombongan pemuda berpakaian seragam masuk dengan diam – diam.

Sukarni pakai pistol dan sebilah pisau panjang. Dengan lagak petualang dia mencabut pisaunya dan membelebab . “Berpakaianlah Bung…Sudah tiba saatnya.”

“Ya”, kataku marah dengan mata menyala – nyala. Sudah tiba saatnya untuk dibunuh! Jika aku yang memimpin pemberontakanmu ini dan gagal, aku kehilangan kepala, engkaupun juga….begitupun yang lain – lain. Anak buah mati ada gantinya, tapi pemimpin? Kalau aku mati, coba siapa  pikirmu yang akan memimpin rakyat, bila datang  waktunya yang tepat?”

BacaJuga

Ilustrasi rantai pertanian (Dok.KatongNTT)

Anita Mahenu dan Jalan Baru Pertanian Sumba Barat

15 September 2026
Saling Cuci Tangan Hadapi Penolakan Bendungan Kolhua

Jokowi ke NTT : Dengarkan Kegelisahan Rakyat, Jangan Hanya Urus Partai

31 Juli 2026

“Kalau aku mati, coba siapa pikirmu yang akan memimpin rakyat, bila datang waktunya yang tepat?”

Baca juga: Di Mana Presiden Sukarno di Malam Tragedi 1965?

Menantangkah pemuda lain sambil mengayunkan pedangnya. Oleh karena itu kami akan melarikan Bung ke luar kota di tengah malam buta ini. Sudah kami putuskan untuk membawa Bung ke tempat yang aman.”

Adegan di atas terjadi di rumah tinggal Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur, No. 56, Jakarta. Adegan  ini mengawali kisah penculikan Sukarno oleh para pemuda. Sukarno dibawa ke Rengasdengklok di Karawang, Jawa Barat.

Bagaimana seterusnya, silakan baca buku “Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya Cindy Adams, 1965.

Dari adegan singkat ini menurut saya ada satu pernyataan Sukarno yang sangat penting : “Anak buah mati ada gantinya, tapi pemimpin? “

Baca juga: Gambir Berdarah dalam Ingatan Sejarah 

PEMIMPIN hanya seorang. Sukarno memposisikan dirinya sebagai seorang pemimpin. Bukan pengakuan sembarangan oleh diri yang bersangkutan. Para pemuda revolusioner tentu tidak salah memilih pemimpinnya, orang yang akan memimpin bangsanya menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Kini paling tidak sudah ada 3 orang berlagak akan mampu memimpin bangsa dan negara ini dalam pemilu tahun depan, 2024. Semoga salah satunya yang meraih suara terbanyak hasil pilihan rakyat  benar – benar seorang pemimpin sejati.

Lalu, apa itu bangsa?

Menurut Ernest Renan, Bangsa adalah jiwa, sebuah prinsip spiritual. Ada dua hal yang membentuk jiwa ini. Pertama, adalah masa lalu dan yang kedua adalah masa kini. Kepemilikan yang sama kepada kenangan, dan yang lainnya persetujuan masa kini, keinginan untuk hidup bersama, keinginan untuk terus menerus mengembangkan warisan yang sama.

Sudah 78 tahun kita hidup berbangsa dan bertanah air. Perjalanan tak mudah meski akan terasa ringan jika seperti kata pepatah “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.  Persoalannya : tidak setiap dari kita mau melakukannya. Lebih banyak tipu menipu, sehingga hidup bersama kehilangan sukacita. *****

Tags: #HUTRIke78#pemilu2024#Rengasdengklok#Sukarno
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Ilustrasi rantai pertanian (Dok.KatongNTT)

Anita Mahenu dan Jalan Baru Pertanian Sumba Barat

by Teguh Lamentur Takalapeta
15 September 2026
0

Pelantikan Anita Nidya Mahenu sebagai Ketua DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Sumba Barat pada Selasa, 15 September 2026, di Kupang,...

Saling Cuci Tangan Hadapi Penolakan Bendungan Kolhua

Jokowi ke NTT : Dengarkan Kegelisahan Rakyat, Jangan Hanya Urus Partai

by Rio Hermanus
31 Juli 2026
0

Katangan Joko Widodo ke Nusa Tenggara Timur (NTT), yang salah satunya diisi dengan agenda Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Partai Solidaritas...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati