16 Agustus 1945 :
Jam 3 pagi aku masih bangun. Aku tidak bisa tidur dan duduk di kamar seorang diri makan sahur. Keadaan dalam rumah sunyi sepi. Semua orang tidur. Kamar makan kami langsung menghadap ke pekarangan dan pintunya terbuka sedikit. Terdengarlah sayup suara mendesir dari balik semak – semak dan serombongan pemuda berpakaian seragam masuk dengan diam – diam.
Sukarni pakai pistol dan sebilah pisau panjang. Dengan lagak petualang dia mencabut pisaunya dan membelebab . “Berpakaianlah Bung…Sudah tiba saatnya.”
“Ya”, kataku marah dengan mata menyala – nyala. Sudah tiba saatnya untuk dibunuh! Jika aku yang memimpin pemberontakanmu ini dan gagal, aku kehilangan kepala, engkaupun juga….begitupun yang lain – lain. Anak buah mati ada gantinya, tapi pemimpin? Kalau aku mati, coba siapa pikirmu yang akan memimpin rakyat, bila datang waktunya yang tepat?”
“Kalau aku mati, coba siapa pikirmu yang akan memimpin rakyat, bila datang waktunya yang tepat?”
Baca juga: Di Mana Presiden Sukarno di Malam Tragedi 1965?
Menantangkah pemuda lain sambil mengayunkan pedangnya. Oleh karena itu kami akan melarikan Bung ke luar kota di tengah malam buta ini. Sudah kami putuskan untuk membawa Bung ke tempat yang aman.”
Adegan di atas terjadi di rumah tinggal Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur, No. 56, Jakarta. Adegan ini mengawali kisah penculikan Sukarno oleh para pemuda. Sukarno dibawa ke Rengasdengklok di Karawang, Jawa Barat.
Bagaimana seterusnya, silakan baca buku “Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya Cindy Adams, 1965.
Dari adegan singkat ini menurut saya ada satu pernyataan Sukarno yang sangat penting : “Anak buah mati ada gantinya, tapi pemimpin? “
Baca juga: Gambir Berdarah dalam Ingatan Sejarah
PEMIMPIN hanya seorang. Sukarno memposisikan dirinya sebagai seorang pemimpin. Bukan pengakuan sembarangan oleh diri yang bersangkutan. Para pemuda revolusioner tentu tidak salah memilih pemimpinnya, orang yang akan memimpin bangsanya menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Kini paling tidak sudah ada 3 orang berlagak akan mampu memimpin bangsa dan negara ini dalam pemilu tahun depan, 2024. Semoga salah satunya yang meraih suara terbanyak hasil pilihan rakyat benar – benar seorang pemimpin sejati.
Lalu, apa itu bangsa?
Menurut Ernest Renan, Bangsa adalah jiwa, sebuah prinsip spiritual. Ada dua hal yang membentuk jiwa ini. Pertama, adalah masa lalu dan yang kedua adalah masa kini. Kepemilikan yang sama kepada kenangan, dan yang lainnya persetujuan masa kini, keinginan untuk hidup bersama, keinginan untuk terus menerus mengembangkan warisan yang sama.
Sudah 78 tahun kita hidup berbangsa dan bertanah air. Perjalanan tak mudah meski akan terasa ringan jika seperti kata pepatah “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Persoalannya : tidak setiap dari kita mau melakukannya. Lebih banyak tipu menipu, sehingga hidup bersama kehilangan sukacita. *****


