• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Perempuan dan Anak

Murid SMP di Kupang Tak Bisa Baca dan Berhitung, Covid-19 Jadi Alasan

Tim Redaksi by Tim Redaksi
3 tahun ago
in Perempuan dan Anak
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Suasana pembelajaran tatap muka terbatas di SMPN 5 Kota Kupang saat pandemi Covid-19 pada 2021 lalu (Putra Bali Mula-KatongNTT)
0
SHARES
213
VIEWS

Kupang – “ibu, beta mau kasih tau kalau beta su (sudah) bisa baca,” ujar Julia, satu murid kelas 7 SMPN 11 Kupang yang kini masih harus ikuti les membaca, menulis, dan berhitung (calistung).

Julia jadi satu dari 21 siswa yang hingga menginjak putih biru masih susah membaca dan menghitung.

BacaJuga

Para peserta Diskusi Komunitas Breaking Barries, Building Feature #KickOutGBV# berfoto bersama dilatari bola untuk olahraga sepak bola di Jakarta, 6 Maret 2026. (Foto: Magdalene)

Sepak Bola Jadi Wadah Promosi Ruang Aman untuk Perempuan

10 Maret 2026

Sewindu Komunitas Lakoat Kujawas, Jatuh Bangun Melestarikan Budaya Mollo

19 Februari 2026

Ia menampik pernyataan gurunya yang menyebut ia masih belum bisa membaca. Ketika dicoba untuk membaca beberapa kalimat, Julia dengan cepat mampu membaca kalimat yang diberi.

Namun ketika diberi pertanyaan numerik, Julia berpikir lama dan masih beberapa kali salah menjawab.

“Kalau pengurangan dan pertambahan sudah bisa. Kalau perkalian dengan pembagian yang masih susah,” kata Julia mengakui kekurangannya.

Warmansyah, kepala sekolah SMPN 11 menyebut inilah realita yang terjadi di sekolahnya. Ada 21 dari 316 murid yang diterima ternyata belum lancar calistung.

“Bahkan ada yang lebih parah lagi (dari Julia). Belum bisa bedakan huruf B dan D,” jelas Warmansyah saat ditemui di ruang kerjanya pada Senin, 21/08/2023.

Untuk itu, pihak sekolah harus menambah jam tambahan bagi ke 21 murid ini sehabis sekolah untuk belajar calistung.

Baca Juga: Dua Sekolah di Kupang Tak Punya Murid Baru, Dampak Kompetisi Tak Sehat?

Hal yang sama pun ditemui di SMPN 20 Kupang. Lamsahar, guru PKN di sekolah itu menyebut, perkara anak lambat membaca masih ia dapati pada peserta didik di tahun ajaran baru ini.

“Satu dua pasti ada, dan memang mereka belum lancar membaca. Kenal huruf sudah, hanya untuk baca atau menulis itu kita harus benar-benar bimbing mereka,” katanya.

Lamsahar tak bisa memastikan berapa banyak murid kelas 7 yang belum mahir calistung. Semuanya tersebar di beberapa kelas. Namun ketika didapati anak yang masih lemah dalam hal itu, para guru akan lebih intens membimbing anal-anak tersebut.

Warmansyah tegas menyatakan jika ini sebenarnya sudah bukan tanggung jawab mereka di jenjang menengah untuk mengajarkan anak baca hitung.

“SD jangan alasan COVID. Karena COVID itu di 2020. Anak-anak kelas 4, 3. Sedangkan untuk pelajaran membaca itu kelas 1-2. Dan saya yakin bukan hanya SMP 11 saja yang ditemui anak-anak belum bisa baca,” katanya.

Ia pun menambahkan, proses penerimaan peserta didik baru dengan sistem daring membuat siswa yang mendaftar tak ada tes tertulis sehingga pihak sekolah tak tahu kemampuan murid yang diterima.

“Kedapatannya pas kami lakukan asesmen diagnostik kognitif, sederhana saja, membaca satu paragraf dan numerasi dasar, baru kami dapati itu,” katanya.

Warmansyah, kepala sekolah SMPN 11 Kupang saat mengonfirmasi anak didiknya belum mahir calistung (Ruth Botha - KatongNTT)
Warmansyah, kepala sekolah SMPN 11 Kupang saat mengonfirmasi anak didiknya belum mahir calistung (Ruth Botha – KatongNTT)

Warmansyah menerapkan asesmen diagnostik atau tes kemampuan kognitif ini karena kenyataan seperti ini pun mereka dapati di tahun ajaran 2021/2022.

Anak-anak yang belum mahir membaca dan menghitung ini dikumpulkan dalam satu kelas yang sama dengan 11 anak lainnya yang sudah mahir calistung. Pembelajaran berjalan seperti biasa, “namun memang guru yang mengajar di kelas mereka ini kita bilang untuk kasih perhatian lebih ke mereka,” ucap Warmansyah.

Baca Juga: Carut Marut PPDB di Kupang, 22 Sekolah Swasta Minim Murid Baru

Lebih lanjut ia menjelaskan, selain pihak sekolah dasar yang harus banyak berbenah dalam mendidik para murid, orang tua di rumah jadi pihak pertama yang bertanggung jawab untuk memberi pengetahuan dasar ke setiap anak. Setidaknya untuk mengenal huruf dan angka.

Sayangnya didapati jika anak-anak yang lemah dalam calistung beberapa berasal dari keluarga broken home, atau yang ditinggal orang tua merantau, maupun yang tinggal bersama kerabat.

Data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional Modul Sosial Budaya dan Pendidikan (Susenas MSBP) 2018 menunjukkan sekitar 7,04 persen anak hanya tinggal bersama ibu kandung saja. Sedangkan anak yang tinggal bersama ayah kandung mencapai 1,27 persen.

“Jadinya pendampingan di rumah itu sangat kurang. Tahun lalu itu sampai ada yang kami keluarkan karena tiga bulan tidak masuk sekolah. Dia tinggal sendiri, nah ini dia mau perhatikan dia punya diri sendiri bagaimana?,” jelas Warmansyah.

Beberapa yang tinggal dengan orang tua lengkap pun terkadang acuh dan kurang tegas akan kemampuan anak-anak. Padahal anak-anak banyak menghabiskan waktu di rumah.

Hasil dari Susenas MSBP menunjukkan kebanyakan waktu yang dihabiskan anak-anak di NTT untuk membaca lebih sedikit (18,57%) dibanding menonton televisi yang mencapai 38,68%.

Julia, gadis 12 tahun itu mengaku jika di rumah orang tuanya biasa menyuruhnya untuk belajar, namun tak ia gubris.

“Di rumah mama suruh belajar tapi beta bilang sebentar sebentar terus. Kalau di SD ada belajar (calistung), tapi libur terlalu banyak jadi kami juga libur (belajar),” kata Julia.

Baca Juga: Awal Mula Bocah SD di Kupang Bawa Pistol Rakitan ke Sekolah

Yohanes J. Tukan, Kepala Sekolah SDN Inpres Liliba yang menyumbang beberapa anak yang terlambat membaca ini menyebut pembelajaran berbasis daring dari rumah yang terpaksa dilakukan ketik COVID menjadi salah satu pemicu banyaknya lulusan SD yang belum mahir calistung.

Saat disambangi di kantornya pada Selasa, 22 Agustus 2023, ia tegas mengatakan jika anak-anak bukan tidak bisa membaca namun lambat membaca.

“Itu diksi yang berbeda ya. Nah anak-anak ini terlambat bisa membaca. Namanya anak SD. Tiga tahun lalu itu mereka kosong betul-betul (karena belajar dari rumah),” ujarnya.

Ia kemudian menyebut kini sudah ada pendampingan ke murid kelas 1-6 SD yang ditemui masih belum bisa membaca. Jika masih belum mampu juga, pihak sekolah akan menahan kelas. Yang mana hal ini diakui Yohanes tak bisa ia lakukan semasa pandemi.

“Jadi ada sekitar 15 menit itu nanti kami akan dampingi mereka untuk belajar baca. Namanya juga anak-anak pasti ada yang cepat tanggap, ada juga yang tidak,” ujarnya.

Baca Juga: Linus Lusi Sebut Firman Tuhan Soal Keamanan Siswa Masuk Sekolah Subuh

Linus Lusi, Kadis pendidikan dan Kebudayaan NTT menanggapi realita murid SMP di Kupang yang belum bisa calistung (Putra Bali Mula - KatongNTT)
Linus Lusi, Kadis pendidikan dan Kebudayaan NTT menanggapi realita murid SMP di Kupang yang belum bisa calistung (Putra Bali Mula – KatongNTT)

Menanggapi ini, Linus Lusi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (disdikbud) NTT menyebut anak-anak yang disebut tak bisa membaca ini sebenarnya pintar. Hanya lambat baca tulis.

“Karena itu fungsi pokok dari orang tua mendidik anaknya di rumah. Sehingga anak-anak yang mengalami kelambatan baca tulis itu jadi tindakan klinis kepala sekolah, wali kelas,” ujarnya.

Linus kemudian mengatakan yang harus dilakukan adalah dalam tiga bulan pertama anak-anak di kelas 1 SD ialah belajar baca, tulis, hitung.

“Setelah itu dia sudah lancar. Itu strateginya, dan sudah berhasil dilakukan pada 2008 di Kota Kupang. Saya kira teman-teman kepala sekolah bisa adaptasi itu,” pungkasnya.

Tags: #belummahirmembaca#calistung#Sekolah#SMPdiKupang#SMPN#SMPN11Kupang#SMPN20Kupang
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Para peserta Diskusi Komunitas Breaking Barries, Building Feature #KickOutGBV# berfoto bersama dilatari bola untuk olahraga sepak bola di Jakarta, 6 Maret 2026. (Foto: Magdalene)

Sepak Bola Jadi Wadah Promosi Ruang Aman untuk Perempuan

by KatongNTT
10 Maret 2026
0

Siapa yang tidak kenal sepak bola, jenis olahraga paling populer seantero Indonesia bahkan dunia. Untuk merayakan Hari Perempuan Internasional pada...

Sewindu Komunitas Lakoat Kujawas, Jatuh Bangun Melestarikan Budaya Mollo

by Yanti Mesak
19 Februari 2026
0

Komunitas Lakoat Kujawas adalah salah satu komunitas yang berada di Desa Taiftop, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT....

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati