Kupang – Perbedaan kualitas yang ditawarkan antara sekolah swasta dengan sekolah negeri disebut Praktisi Pendidikan Universitas Nusa Cendana (Undana), Marsel Robot sebagai pemicu rendahnya minat siswa ke sekolah swasta.
Hal ini disampaikannya untuk merespon problema yang dihadapi sekolah swasta di Indonesia terkhususnya di Kupang saat ini.
Selain itu, Marsel mengatakan pemerintah sebagai pemegang kekuasaan pun cenderung memandang sebelah mata sekolah swasta yang ada.
Ini terlihat dari adanya ‘aturan-aturan tersembunyi’ yang tak nampak namun berimbas pada kualitas sekolah swasta.
“Misalnya penempatan guru PPPK itu. Atau PNS. Kebanyakan guru yang lolos itu dari sekolah swasta, tapi kemudian setelah lulus ditempatkan ke sekolah negeri. Ya sekolah swasta bagaimana mau berkualitas?,” ujarnya pada KatongNTT.
Lalu seperti ada pembatasan rombel, namun beberapa sekolah bahkan melebihi batasan itu tapi dari pemerintah tak punya tindakan apa-apa. Ini jadi satu hal yang perlu ditindak tegas.
“Jika dibiarkan itu jadi cara pemerintah untuk menelantarkan sekolah swasta,” ujarnya
Baca Juga: Kepsek SMAN 9 Tolak Protes Sekolah Swasta
Pihak sekolah negeri mengklaim jika mereka tak bisa disalahkan karena ini tergantung animo masyarakat mau disekolahkan ke mana anak mereka.
Ketua umum Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BPMS NTT), Winston Rondo justru melihat ini sebagai panggung bisnis oleh beberapa pihak.
Adanya dana Bantuan Operasional Siswa (BOS) yang didapat disesuaikan dengan jumlah siswa di satu sekolah, disebut Winston sebagai penyebab banyak sekolah negeri menerima murid secara masif.
“Pada waktu lalu di satu SMA, dia terima 3000 siswa. Itu kalau kali Rp1,5 juta dana bos itu Rp4,5 miliar. Uang komite Rp50 ribu saja Rp1,5 miliar,” jelas Winston saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Menanggapi ini, Marsel mengatakan jika memang benar demikian, itu jadi satu kekeliruan yang luar biasa.
Jika itu yang diprioritaskan sekolah negeri dengan tanpa diimbangi dengan rasio guru yang cukup, maka kualitas sekolah negeri pun patut dipertanyakan.
“Kalau tujuan pragmatis untuk mendapat dana bos, harus dipertimbangkan dengan baik. Itu kekeliruan besar. Karena lembaga pendidikan itu untuk membangun SDM yang cerdas dan berkarakter,” tukasnya.
Baca Juga: SMP Swasta di Kupang Bagai Hidup Segan Mati Tak Mau
Sehingga ia menyebut, pemerintah harus memandang sama antara sekolah negeri maupun swasta. Karena kedua-duanya punya tujuan yang sama, yaitu mencerdaskan anak bangsa.
Meski demikian, Marsel mengatakan lembaga swasta pun harus sadar diri. Jangan menutup mata akan kualitas yang mereka punya. Mereka harus benahi SDMnya, maupun sarana prasarana yang dipunya.
Ia menyebut ada beberapa sekolah swasta yang peminatnya banyak hingga kini oleh karena menghasilkan lulusan yang baik. Hal ini tentunya disokong oleh kualitas guru dan ketersediaan sarana prasarana yang memadai.
“Itu memang betul-betul kemandirian mereka untuk memajukan sekolah itu dan menolong masyarakat NTT,” imbuhnya.
Namun tentunya ada harga yang lebih tinggi yang harus dibayar. Inilah yang membuat para orang tua lebih memilih ke sekolah negeri dengan sarana prasarana yang lumayan memadai namun dengan kualitas yang cukup.
Untuk itu, Marsel menyarankan adanya sekolah satelit. Artinya dibangun satu sekolah yang nantinya dikelola oleh swasta. Tetapi pemerintah memberi dukungan seperti memberi fasilitas-fasilitas.
Baca Juga: Dua Sekolah di Kupang Tak Punya Murid Baru, Dampak Kompetisi Tak Sehat?
Hal ini sebutnya sebagai satu strategi untuk menangani kebanjiran siswa ke sekolah-sekolah tertentu, khususnya ke sekolah negeri.
“jadi sekolah dengan kapasitas yang oke, fasilitas yang oke, itu didirikan di wilayah pinggiran kota, di desa-desa. Mesti ada sekolah-sekolah favorit seperti itu. Supaya orang jangan ke sekolah negeri saja,” Pungkas Marsel. ***




