• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Sorotan

Rektor Undana Singgung Rabies, Kesadaran Masyarakat Sangat Penting

Tim Redaksi by Tim Redaksi
3 tahun ago
in Sorotan
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ilustrasi rabies yang ditularkan melalui anjing (Liputan6,.com)

Ilustrasi rabies yang ditularkan melalui anjing (Liputan6.com)

0
SHARES
18
VIEWS

Kupang – Ilmuwan yang juga Rektor Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur Prof Maxs. U.E Sanam mengatakan, penanganan hewan pembawa rabies (HPR) tidak bisa dilakukan tanpa peran masyarakat.

“Untuk menangani rabies di NTT perlu kesadaran dari masyarakat sendiri untuk mengontrol dan mengawasi hewan peliharaan dengan diikat dan divaksin,” kata Maxs Sanam di Kupang, Rabu, (13/9/2023) terkait penanganan rabies di NTT.

BacaJuga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

3 Maret 2026
Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

18 Agustus 2025

Virus rabies yang muncul pertama kali di Flores Timur, Pulau Flores pada tahun 1997 itu, kini sudah mulai menyebar ke Pulau Timor, wilayah yang berbatasan darat dengan negara Timor Leste.

Baca : Kerugian Akibat Rabies dan Virus ASF Mendekati Realisasi PAD NTT 2022

Maxs yang juga Ahli Mikrobiologi dan Parasitologi Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Universitas Nusa Cendana Kupang ini mengatakan wabah rabies pertama kali muncul di NTT pada tahun 1997, tepatnya di Kabupaten Flores Timur dan saat itu dikampanyekan untuk mengeliminasi total anjing.

Maxs Sanam mengatakan strategi tersebut tidaklah tepat karena menghilangkan kesejahteraan hewan dan kontraproduktif.

Baca : Rabies Ancaman Pariwisata Bali, Bandung Gelar Vaksinasi Gratis

“Saat kampanye pembunuhan hewan anjing secara massal, banyak pemilik anjing melarikan anjingnya ke hutan, sehingga tidak divaksin dan penyebaran wabah rabies menjalar ke Maumere hingga Manggarai, di ujung barat Pulau Flores,” katanya seperti dilansir Antara.

Dia mengatakan wabah rabies memang fatal, namun dapat diatasi asalkan masyarakat bersedia memvaksinasi dan mengawasi dengan baik anjingnya.

Menurut dia, cakupan vaksinasi di NTT masih rendah karena keterbatasan anggaran. Idealnya 70 persen dari jumlah populasi harus divaksin.

Baca : Mindset “Pemadam Kebakaran” Mengatasi Serangan Rabies di NTT

Maxs Sanam mengatakan dengan cakupan vaksinasi yang terbatas maka masyarakat perlu didorong selalu mengawasi anjing. Selain itu, segera melapor ke petugas terkait ketika anjingnya mengalami gejala rabies.

“Gejala anjing yang terinfeksi virus rabies biasanya sering ditunjukkan dengan menggigit barang-barang di sekitarnya, takut minum air ditempat bercahaya dan sulit menelan air liurnya sendiri,” katanya. [Anto]

Tags: #KLB#Rabies#Rektor#Undana#Vaksinasi
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

by Yanti Mesak
3 Maret 2026
0

Untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 yang dimulai pada 17 Februari 2026 dan berakhir pada 3 Maret 2026, keluarga Frans...

Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

by Difan Fandi
18 Agustus 2025
0

Desa Natarmage - Pagi itu, saya berangkat dari Desa Pruda menuju Natarmage, Kecamatan Waiblama, untuk mengikuti perayaan HUT RI ke-80...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati