Kupang – Nusa Tenggara Timur (NTT) meluncurkan mobile aplikasi ASMARA. Aplikasi ini bisa mengendalikan resistensi antimikroba dan berisikan informasi seputar rabies maupun kesehatan ibu dan anak.
Resistensi antimikroba atau antimicrobial esistance (AMR) sendiri merupakan sebuah fenomena biologis alami yang tidak dapat dihentikan.
Menurut WHO, AMR terjadi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit tidak lagi merespons obat antimikroba. Akibatnya obat menjadi tidak efektif dan infeksi menjadi sulit atau tidak mungkin diobati maka bisa meningkatkan risiko penyebaran penyakit, penyakit parah, kecacatan, dan kematian.
Baca juga : Nelayan Rote Tak Kapok ke Australia, Ada Sponsor Cukong
Aplikasi ini pun dibuat dari proyek inovasi Australian Alumni Grant Scheme yang didanai oleh Pemerintah Australia dan diadministrasikan Australia Award di Indonesia.
Asisten pemerintahan dan Kesra Pemprov NTT, Bernadetha Meriani Usboko, secara resmi meluncurkan ASMARA di Hotel Premier Sylvia, Jumat 24 November 2023 yang juga berlangsung secara daring.
Peluncurannya bertepatan dengan akhir perayaan pekan kesadaran antimikroba sedunia tahun 2023. Dinas Kesehatan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi NTT bersama pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof Dr W Z Johannes Kupang turut hadir saat itu.
Baca juga : NTT Bakal Gelar Sensus Anjing Atasi Rabies
ASMARA yang diluncurkan bersamaan dengan seminar penatagunaan antimikroba itu memiliki fitur-fitur unggulan seperti pedoman terapi antimikroba, pedoman profilaksis, pedoman antimikroba, pedoman infeksi pada kehamilan dan juga kalkulator.
“Selain itu juga memiliki fitur informasi tentang rabies,” ujar Thresia Maria Wonga selaku Project leader ASMARA.
Penambahan informasi tentang rabies dilakukan karena virus itu telah masuk ke Pulau Timor setelah 26 tahun lamanya menyerang Pulau Flores.
“Maka saya merasa penting menambahkan informasi ini agar semakin banyak nakes bisa mendapatkan informasi penting tentang tatalaksana rabies” jelas alumni the University of Adelaide-Australia ini.
Baca juga : Anjing Bebas Berkeliaran, Biaya Tangani Rabies di NTT Membengkak
Isu resistensi antimikroba juga mengancam kesehatan ibu dan anak maka informasi infeksi pada kehamilan pun dimasukkan ke dalam aplikasi ini.
“Sehingga memudahkan para bidan dan juga dokter spesialis obstetri dan ginekologi mengakses informasi ini,” tambah apoteker sekaligus Ketua Bidang IT Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) NTT itu.
Rujukan yang diambil untuk informasi dalam ASMARA berasal dari Pedoman Penggunaan Antibiotik RS, WHO Aware, Sandford guideline dan juga CDC (Centre of Disease Control and Prevention) dan juga beberapa pedoman terbaru dari SINAR.
Baca juga : NTT Bakal Tambah Dokter Spesialis Pasca Sahnya UU Kesehatan
Target pengguna Aplikasi ASMARA ini, kata dia, adalah sekitar 18.000 nakes apalagi setelah diluncurkan secara resmi di NTT.
“Monitoring, Evaluasi and Learning (MEL) sangat dibutuhkan agar aplikasi ini makin bermanfaat ke depannya” tandasnya. ***




