Kupang – Gemuruh Gunung Lewotobi Laki-laki yang mengkhawatirkan muncul beruntai sejak dini hari. Gunung api di Kabupaten Flores Timur ini dalam Level Awas, sudah berbahaya bagi siapapun, segera semuanya menjauh.
Lava pijar juga menyala merah di antara bubungan abu kelabu yang tebalnya menutupi langit di puncaknya. Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tinggi kolom letusan berbahaya itu mencapai 500 meter pukul 02.31 WITA, Rabu 10 Januari 2024.
Gejolak Lewotobi Laki-laki terus berganti-ganti hingga petang hari. Semula kolom abu yang kelabu berubah jadi cokelat tebal yang bertiup ke timur laut, lalu tak teramati lagi di pukul 16.10 WITA.
Baca juga: Letusan, Gempa dan Abu Vulkanik Gunung Lewotobi, 3 Desa Dikosongkan
Warga 6 desa dari Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura terus berdatangan ke tempat pengungsian sejak gemuruh dan lontaran lava dini hari itu. Mereka tergopoh-gopoh, anak-anak hingga lansia, mencari tempat berlindung yang aman di pagi buta.
Total pengungsi sudah mencapai 5.464 jiwa. Pengungsi berusia balita di tenda-tenda mencapai 156 jiwa, 152 balita juga ikut mengungsi ke rumah warga, dan 10 balita yang mengungsi ke fasilitas umum. Lansia lebih banyak lagi, 575 jiwa yang mengungsi ke tenda hingga fasilitas umum.
Baca juga : Lansia dan Balita Banyak Tempati Pengungsian Gunung Lewotobi Laki-laki
Tim Trauma Healing Polwan Ditsamapta Polda NTT juga telah turun di Desa Boru, desa di perbatasan Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Sikka, Kamis 11 Januari 2024.
Tim ini membantu Polres Flores Timur dalam memberikan bantuan psikososial untuk pengungsi di sana. Ada 160 orang pengungsi termasuk anak-anak yang menerima bantuan trauma healing ini.
Upaya para polwan ini merupakan rangkaian dari agenda penyelamatan korban bencana alam yang telah memasuki hari ketujuh.
Baca juga : Buruknya Media Para Politisi di Pemilu 2024
Pelayaran ini mencakup berbagai metode untuk meredakan stres dan trauma termasuk sesi konseling kelompok, kegiatan kreatif, dan bermain untuk anak-anak. Tujuannya sebagai bantuan psikologis untuk mengatasi dampak emosional akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.
“Kita lakukan ini untuk mendukung pentingnya kesehatan mental masyarakat yang terdampak. Tim ini memberi kekuatan mental kepada pengungsi,” ujar Aipda Anaharizab Herewila yang memimpin tim itu.
Selain trauma, para pengungsi juga mengalami berbagai penyakit karena kondisi yang mana juga dideteksi Tim kesehatan dari Biddokes Polda NTT dan Dokkes Polres Flores Timur (Flotim).
Baca juga : Dinkes Ungkap Usia Termuda Pengidap HIV di Lembata
Tim Biddokes Polda NTT mendapati berbagai keluhan dari para pengungsi seperti batuk, pilek, demam, dan nyeri badan.
Hal tersebut disampaikan oleh Iptu dr Richard N yang memimpin tim ini bersama anggota kesehatan. Mereka melakukan pelayanan, pengecekan, pemeriksaan, pemberian obat maupun masker.
Berdasarkan pemeriksaan dari tenda ke tenda di tempat pengungsian itu mendapati berbagai keluhan umum tersebut yang dihadapi oleh warga pengungsi. ***




