Kupang – Pergantian malam tahun baru kali ini menjadi malam yang buruk sekaligus paling menakutkan bagi warga sekitar Gunung Api Lewotobi Laki-laki.
Erupsi hebat tiba-tiba terjadi dengan ledakan yang sangat besar. Ribuan warga dari beberapa desa di Kecamatan Wulanggitang langsung memboyong anak-anak, dokumen berharga dan barang seadanya yang mudah dibawa. Mereka meninggalkan rumah dalam kegelapan menyongsong jam-jam pertama 2024.
Tak pernah mereka alami hal seperti ini sebelumnya. Semestinya itu malam yang penuh sukacita tapi berubah mengerikan setelah letupan keras yang membuncah dari dalam Gunung Api Lewotobi Laki-laki.
Baca juga : Abu Vulkanik Lewotobi Laki-laki Batalkan Penerbangan ke Maumere
Dua hari sebelum Natal, 23 Desember 2023 lalu, amukan Gunung Lewotobi Laki-laki memang sudah nampak. Ada erupsi terjadi dan berdampak pada 2 desa yang memang jaraknya kurang lebih 3 sampai 4 kilometer saja dengan gunung api ini.
Kegelisahan datang setelahnya. Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki yang makin mengkhawatirkan membuat warga kian cemas. Beberapa kali gempa bumi terasa lalu pada tengah malam 31 Desember itu gemuruh besar terjadi.

“Warga yang mendengar letusan besar itu jadi takut, panik dan langsung mengungsi,” cerita Camat Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Fredy Moat Aeng, Kamis 4 Januari 2024.
Baca juga : Siaga Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, Bahaya Awan Panas Mengintai
Semua warga yang dekat dengan gunung itu tergopoh-gopoh ke desa lainnya yang lebih jauh. Ada yang pergi ke keluarga masing-masing di kecamatan lain. Namun lebih banyak berlindung malam itu ke Kantor Kecamatan Wulanggitang. Kini sudah dibuatkan dapur umum bagi para pengungsi di sana oleh pihak pemerintah kabupaten.
“Pas pergantian tahun itu ada bunyi besar dari Gunung Lewotobi sehingga masyarakat panik dan secara spontan mereka mengungsi. Ada yang ke kantor camat. Ada yang ke desa-desa tetangga, yang mereka rasa aman dan jauh itu mereka mengungsi ke sana,” jelasnya.
Tak lama abu vulkanik ikut mengguyur desa-desa yang warga tinggalkan. Semua gedung dan pepohonan sampai posko tempat mereka mengungsi pun menjadi putih karena abu mengandung belerang.
Baca juga : NTT Ekspor Komoditas Unggulan Sedikitnya ke 11 Negara
Abu vulkanik yang dibawa angin ke arah Maumere ini juga membuat sejumlah maskapai membatalkan penerbangan hingga hari ini.
Aktivitas warga maupun petugas semakin sulit karena jarak pandang yang sangat pendek terutama di malam hari.
Fredy mengatakan baik warga maupun pemerintah masih berpatokan dengan pengamatan dari petugas pemantau gunung api. Saat ini status aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki masih Siaga sejak 1 Januari 2024.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sejak 1 Januari lalu sudah menegaskan radius aman yang harus dihindari yaitu 3 kilometer (km). Desa yang paling terdampak adalah Desa Klatanlo, Desa Hokeng dan Desa Boru.
Baca juga : Kades di Kupang Ingin Prioritas Penggunaan Dana Desa Dihapus
“Ada sekitar 3 desa yang harus dikosongkan. Warga yang mendengar bunyi besar malam itu pun karena takut langsung mengungsi,” kata dia.
Setelah kejadian semua stakeholder dari pemerintah daerah dan kecamatan langsung bertindak bersama dengan TNI dan Polri.
“Sudah ada posko, tenda dan bantuan yang diberikan pihak ketiga,” tukasnya.
Jumlah jiwa yang mengungsi, kata dia, lebih dari 2.400 orang yang berasal dari Kecamatan Wulanggitang saja. Erupsi ini berdampak ke dua Kecamatan yaitu Wulanggitang dan Ile Bura.
Baca juga : 38 Gunung Api Timbulkan 150 Erupsi dalam Dua Dekade
“Ada lansia, ibu hamil, balita, anak-anak. Ini update sementara untuk laporan ke Pak Gubernur nantinya,” sebutnya.
Pemerintah Flores Timur juga sudah menetapkan status Siaga Darurat Bencana sampai 14 Januari 2024. Ia meminta masyarakat yang terdampak untuk sementara bertahan.
Ribuan pengungsi ini menyebar di sejumlah posko yaitu Kantor Camat Wulanggitang, Sekolah Dasar (SD) Katolik Kemiri, Credit Union Remaja Hokeng, Koramil Boru, SMP Negeri 1 Wulanggitang.
Prioritas kebutuhan saat ini adalah sembako, termasuk logistik untuk kebutuhan balita seperti popok maupun pembalut bagi wanita, termasuk juga alat tidur dan lotion anti nyamuk.
Baca juga : Tekan Angka Bunuh Diri di NTT, Psikolog di Tiap Puskesmas Jadi Kebutuhan
“Di sini ada puskesmas untuk penanganan kesehatan. Ada koordinator bidang kesehatan, koordinator penanganan pangan, koordinator air bersih. Ada satgas darurat erupsinya,” kata dia.
Pada 4 Januari ini abu vulkanik tak lagi terjadi dan hujan turun dengan sangat deras sehingga gedung-gedung dan pepohonan kelihatan wujud semulanya.
“Hari ini mulai dari pagi hujan sehingga mengurangi abu dari hari sebelumnya di rumah. Tidak ada abu hari ini karena hujan tapi sebentar kita lihat lagi arah anginnya ke mana, bisa bertiup ke arah Larantuka, Wulanggitang, Ende, Maumere,” lanjutnya. ***




