Kupang – Dinas Kesehatan Lembata mengungkap usia termuda orang dengan HIV (ODHIV) di wilayah tersebut. Pengidap HIV termuda ini di luar dari anak yang mewarisi virus tersebut dari orangtuanya yang juga ODHIV.
Data itu disampaikan Antonius Ola dari Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Bidang Penanganan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Lembata, Senin 11 Desember 2023.
Baca juga : Muncul Ratusan Pekerja Seks Anak di Lembata, Keluarga Jadi Faktor Penyebab
Penularan HIV di Lembata, kata dia, memang tidak menunjukkan tren peningkatan akan tetapi rata-rata pengidapnya di usia yang makin produktif. Usia paling muda saat ini adalah 21 tahun.
“Usia sekolah itu ada juga. Itu yang dapatnya dari lahir, itu ada, dari orangtuanya yang ODHIV. Untuk kasus di luar bawaan dari orangtuanya, kita dapat yang paling muda itu umur 21 tahun,” tukas Anton.
Sedangkan pada tahun sebelumnya usia termuda pengidap HIV adalah 23 tahun. Bisa dilihat penularan HIV di Lembata tiap tahunnya muncul dari orang yang lebih muda lagi.
Baca juga : 218 Pekerja Seks Anak di Lembata, Punya Grup Online Sampai Dijual Pacar Sendiri
Pihaknya kini, kata dia, bekerja untuk mendeteksi lebih dini dan menyebarluaskan informasi ke seluruh masyarakat dengan menganjurkan pengobatan yang positif.
“Kalau virusnya tertekan atau tersuspresi maka potensi penularan akan menjadi lebih kecil,” tambahnya.
Saat ini yang diperlukan, kata Anton, ialah respon dan komitmen baik dari sisi pencegahan, penanganan kasus secara terpadu, komprehensif dan berkesinambungan dari pemerintah, berbagai sektor hingga masyarakat.
Baca juga : Ratusan Anak NTT Alami Kekerasan Seksual, UU TPKS Dinilai Tak Efektif
Data HIV Kabupaten Lembata ini, kata dia, mencakup kasus dari tahun 2008 hingga dengan Juni 2023 atau kurang lebih dalam kurun waktu 15 tahun terakhir.
Total 546 ODHIV ini sebarannya di 9 kecamatan dengan yang tertinggi di Kecamatan Nubatukan, menyusul Ile Ape Timur, Omesuri dan Ile Ape.
Rincian kasusnya saat ini yakni 140 orang yang sedang berobat, 39 kasus lost to follow up, 4 orang belum mau minum obat, 12 kasus rujuk keluar daerah, 34 kasus lost contact dan 174 orang meninggal dunia. Ada pula 143 kasus yang tidak diketahui atau tidak jelas statusnya. ***




