• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, April 22, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Kolaborasi Dekranasda Provinsi NTT

Friets Mone Merawat Budaya Sabu Melalui Kamus

Tim Redaksi by Tim Redaksi
4 tahun ago
in Dekranasda Provinsi NTT
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Friets Mone membaca kembali kamus Bahasa Sabu buatannya pada 2018 lalu (KatongNTT)

Friets Mone membaca kembali kamus Bahasa Sabu buatannya pada 2018 lalu (KatongNTT)

0
SHARES
340
VIEWS

Kupang – Lahir dan tumbuh besar dalam budaya yang masih kental di Desa Mebba, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuat Friets Mone tumbuh dengan kecintaan yang lebih pada budayanya.

Berbicara dengan Bahasa daerah, menggunakan kain tenun, mengonsumsi kelapa sebagai pengganti beras, menjadi hal biasa yang ia temui semasa kecil.

BacaJuga

Produk 'Dosa', yang adalah cuka tradisional dari Rote, NTT (Ruth-KatongNTT)

Mengenal ‘Dosa’, Cuka Tradisional dari Rote, NTT

27 Mei 2023
Proses produksi garam di CV. Raja Baru milik Ferdinand Latuharu (Dok. CV. Raja Baru)

Pabrik Garam Ferdinand Latuheru Kesulitan Bahan Baku

21 Mei 2023

Baginya, hal-hal ini membuat dirinya makin menjiwai budaya di daerah kelahirannya tersebut.

Hingga pada perubahan zaman yang cepat, menghantarnya pada satu situasi di mana dia menemukan adanya pergeseran budaya yang dulu akrab dengan kehidupannya di Sabu, kini mulai memudar.

Penggunaan Bahasa daerah misalnya, yang dia temui kini perlahan terkalahkan oleh bahasa asing.

Kenyataan yang nampak ialah orang-orang yang merantau, bahkan yang masih tinggal di Sabu pun, kini mulai meninggalkan sedikit demi sedikit bahasa ibu mereka.

“Ada keprihatinan di dalam batin bahwasannya sekarang generasi muda kita saat ini lambat laun mulai meninggalkan budaya ibu. Padahal budaya itu kan karakter kita,” ucap pria 49 tahun itu.

Berangkat dari keprihatinannya tersebut, pria bernama lengkap Friets Dominggus Bua Mone itu memilih untuk mengabadikan Bahasa Sabu dalam bentuk kamus.

Baca Juga: Tinggalkan Konsultan Teknik, Icha Djawas Fokus Berbisnis Aneka Sambal

Baginya, bahasa daerah sebagai salah satu budaya perlu dilestarikan agar tak hilang tergerus zaman.

Minimal dengan kata-kata yang digunakan sehari-hari, Friets mulai merangkum sedikit demi sedikit untuk dijadikan satu dalam kamus Bahasa Sabu. Kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, bahkan ke Bahasa Inggris.

“Sehingga suatu saat dalam pandangan saya Bahasa Sabu ini bisa dikenal bukan saja oleh orang Sabu, bukan juga hanya orang NTT, tetapi bisa dikenal masyarakat dunia,” katanya.

Di akhir 2018, buku bertajuk ‘Kamus Sederhana, Bahasa Sabu – Indonesia – Inggris’ selesai dibuat, dan pada 2019, Friets kemudian mencetaknya.

Oleh karena keterbatasan dana, ia hanya mencetak 50 eksemplar lalu membagi-bagikannya secara gratis ke para rekannya.

Hingga di tahun yang sama di 2019, kamusnya dilirik Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat sebagai satu hal baik yang diciptakan dan ditujukan untuk masyarakat NTT, terkhususnya masyarakat Sabu.

Kamus Bahasa Sabu – Indonesia – Inggris yang dibuat Friets dengan tujuan mengabadikan budaya bahasa daerahnya agar tak hilang tergerus zaman. (KatongNTT)

Untuk itu, kamusnya dicetak sebanyak 1000 eksemplar dan kemudian Gubernur membagikannya ke masyarakat Sabu secara gratis pada pembukaan Festival Kelabba Madja.

Selanjutnya, kamus buatannya itu hingga kini disimpan di Galeri Dekranasda NTT. Terpajang di etalase berkaca paling sudut bersama buku tentang Komodo. Sulit dijangkau mata dibanding produk kuliner lainnya. Di halaman paling depan, tertempel tulisan Rp25.000. Harga kamus tersebut.

Namun Friets mengaku tak berniat untuk mendagangkan hasil kerjanya tersebut.

Inginnya hanya satu, untuk menjaga budayanya tersebut dalam bentuk tulisan agar tak hilang seiring berkurangnya penutur, agar tetap ada sepanjang hayat kehidupan manusia.

“Saya bikin kamus tidak ada niat untuk memperjual belikannya. Saya tidak ambil fee-nya. Saya hanya betul-betul ingin memperkenalkan saja. Bahwa ada budaya, ada Bahasa di dalam dunia ini yang minimal mempengaruhi sedikit umat manusia yang ada di Sabu sana,” jelasnya.

Baca Juga: Dortia Mbura Di Usia Senja Kelola UMKM Setia Kawan

Walau tak berlatar pendidikan sejarah maupun budaya, namun pria lulusan dari jurusan kimia di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogjakarta pada 1998 itu tak berkurang minatnya pada budaya di Indonesia, terkhususnya di NTT.

Walau sibuk menjadi Aparatur Sipil Negara di UPT Pendapatan daerah Kabupaten Kupang, Friets sudah menulis sebuah buku tentang kehidupan dan budaya orang Sabu.

Tujuannya agar para generasi bangsa tak lupa akan budayanya. Dengan adanya perbedaan zaman tentu menciptakan generasi yang berbeda pula.

Akan tetapi, semuanya terlahir dan hidup dari adanya budaya. Walau didapati beberapa budaya yang ‘sakit’ dengan semakin memiskinkan atau menyusahkan beberapa pihak.

Namun sejatinya ada budaya lain seperti Bahasa daerah ini yang seharusnya menjadi penciri dari diri seorang manusia.

Sehingga Friets mengharapkan, adanya kesadaran dalam diri para generasi muda untuk mau terus mengakui dan hidup dalam budaya leluhurnya. *****

 

Silakan hubungi nomor +628113821173 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tags: #Dekranas#FrietsMone#Kamus#KamusBahasaSabu#KamusBahasaSabu-Indonesia-Inggris
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Produk 'Dosa', yang adalah cuka tradisional dari Rote, NTT (Ruth-KatongNTT)

Mengenal ‘Dosa’, Cuka Tradisional dari Rote, NTT

by Tim Redaksi
27 Mei 2023
0

Produknya ia beri nama Dosa, yang berasal dari bahasa Rote, yang artinya Cuka. “Tujuannya hanya untuk memperkenalkan saja kalau kami...

Proses produksi garam di CV. Raja Baru milik Ferdinand Latuharu (Dok. CV. Raja Baru)

Pabrik Garam Ferdinand Latuheru Kesulitan Bahan Baku

by Tim Redaksi
21 Mei 2023
0

“Sebelumnya itu bahan baku dari tahun lalu bisa bertahan sampai sekarang,” ujar laki-laki yang pernah mengikuti pendidikan di PT. Garam...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati