Dortia Mbura Di Usia Senja Kelola UMKM Setia Kawan

Dortia Mbura, Pelaku UMKM Setia Kawan di Kota Kupang

Dortia Mbura, Pelaku UMKM Setia Kawan di Kota Kupang

Kupang – Dortia Sonja Mbura, perempuan berusia 64 tahun yang masih memproduksi tujuh produk dari UMKMnya ‘Setia Kawan’.Di antaranya Abon ikan tuna, keripik pisang, keciput rumput laut, manisan, dendeng ikan, sambal lu’at, dan kue Bagea.

Ketika ditinggal suaminya pada 2001 lalu, Dortia masih punya tanggung jawab untuk membiayai tiga dari lima anaknya yang masih bersekolah.

Uang pensiunan jandanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sehingga ia harus berusaha mencari uang. Dengan modal awal Rp25 ribu di 2001, ia mulai dengan membuat abon ikan.

“Saya dari rumah ke rumah, saya tawarkan hasil-hasil pembuatan kue, abon, ke saudara-saudara,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di Pasir Panjang, Kupang, NTT.

Baca Juga: Gokma Tampubolon Kembangkan Bisnis Madu “Big Bolon” dari Hutan Timor

Hingga pada 2011, ia membentuk UMKM Setia Kawan.

“Saya bikin (UMKM) awalnya karena saya dari jaringan perempuan. Terus kami bentuk kelompok di Kelurahan Pasir Panjang ini. Makanya karena kelompok, kita namakan setia kawan,” jelas perempuan asal Rote itu.

Awalnya dalam bentuk kelompok, namun setelah berjalannya waktu, beberapa anggotanya sudah tua, dan masing-masing mulai membuka usaha sendiri. Kini tersisa dirinya.

Dortia mengisahkan, dalam perjalanan usahanya ini tak selalu beruntung. Ditipu temannya sendiri, tak ada orderan semasa pandemi beberapa waktu lalu, sempat ia rasakan.

Walau demikian, ia tetap melanjutkan usahanya. Produk olahannya yang tanpa bahan pengawet dengan cita rasa yang tinggi, masih diminati banyak orang apalagi saat memasuki hari raya.

Selain itu, abon ikannya yang tahan lama dan benar-benar kering, membuatnya mendapat kepercayaan dari Dekranasda NTT untuk memproduksi abon dalam jumlah banyak.

Untuk selanjutnya didistribusikan ke desa-desa di NTT sebagai Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dalam upaya mencegah kekerdilan atau stunting.

Produk-produknya bisa ditemui di Gerai Dekranasda NTT atau menghubunginya langsung di nomor yang tertera pada kemasan. Dari hasil penjualnnya ini, ia bisa meraup keuntungan hingga tiga juta rupiah perbulan.

Meskipun sudah menua, perempuan yang kini memiliki lima cucu itu menyebut, masih semangat dan akan terus semangat bekerja sebagai respon akan berkat yang diberi Tuhan padanya.

“Saya bersyukur karena Tuhan masih kasih saya kaki yang baik, tangan, mata, dan otak yang baik, supaya saya bisa kerja, tidak menyusahkan siapa-siapa,” katanya.

Baca Juga: Bisnis Camilan NTT Mama Ana Melejit Setelah “Ganti Baju”

Ia menyebut, walau lima anaknya sudah mampu menghasilkan uang sendiri, ia tak terbiasa untuk meminta kepada mereka.

Kan sudah dibilang di Alkitab, keringat keluar dulu, baru bisa dapat makan. Betul, saya punya anak lima dan mereka sudah berhasil semua. Tapi saya malu untuk menadah tangan ke anak-anak,” ucapnya.

Pada masa pandemi lalu, ia sempat dirawat di RS karena jantungnya yang melemah. Penyakitnya ini berpengaruhi ke anggota tubuh lainnya.

Ia kerap disuruh berhenti bekerja oleh anak-anaknya. Namun, ia tidak mau berhenti mempekerjakan otaknya, agar tidak pikun.

Yang ia lakukan adalah mempekerjakan tetangganya jika mendapat orderan yang banyak.

Ia pun beberapa kali masih menjadi pembicara dan mentor di beberapa pelatihan UMKM di Kupang.

Baginya, selagi masih bisa bekerja, ia akan terus bekerja dan menjadi berkat bagi orang lain. *****

 

Silakan hubungi nomor +6285253765003 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *