Kupang – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) menyebut ada berbagai perhitungan yang dilakukan pihak maskapai sebelum beroperasi di NTT.
Begitu pula dengan maskapai yang sudah beroperasi di NTT. Maskapai tersebut akan membuat berbagai pertimbangan untung dan rugi bila menambah rute penerbangan di wilayah intra NTT.
Ketua ASITA NTT, Abed Frans, menyampaikan hal ini saat dihubungi, Kamis 2 Februari 2023 untuk dimintai tanggapan tentang peluang menambah maskapai beroperasi di NTT.
Tentunya lebih baik ada beberapa maskapai agar jalur penerbangan di NTT tidak didominasi maskapai tertentu. Namun begitu, menurut Abed, secara bisnis hal ini memerlukan perhitungan besar.
Baca juga: Monopoli Maskapai Diduga Penyebab Tiket Pesawat ke NTT Mahal
“Tergantung rute tentunya. Maskapai juga tentunya terus memantau pergerakan orang pada tiap-tiap daerah. Mereka akan dengan sendirinya membuka atau menambah rute apabila dianggap sudah cukup mendapat keuntungan tentunya,” kata Abed.
Begitu juga sebaliknya, lanjut Abed, maskapai akan menutup atau mengurangi rute apabila dianggap tidak cukup memberi pemasukan apalagi jika malah menimbulkan kerugian.
Sebelumnya, Abed mengharapkan harga tiket pesawat dapat kembali terjangkau seiring dengan turunnya harga avtur dan kasus Covid-19.
Ia meminta agar hal ini diperhatikan kendati maskapai yang beroperasi di wilayah Provinsi NTT tidak banyak. Ditambah lagi intensitas operasinya juga sudah berkurang akibat pandemi.
“Maskapai yang beroperasi di NTT memang saat ini tidak sebanyak dulu. Entahlah, mungkin imbas Covid-19 kemarin yang memaksa mereka juga untuk merampingkan rute yang ada. Belum lagi ditambah alasan kenaikan harga avtur,” sebutnya,
Tentunya kondisi ini pun berimbas pada harga tiket, kata dia, hingga ujung-ujungnya tidak dapat dijangkau oleh banyak masyarakat.
“Apalagi kita semua juga saat ini baru kembali menata usaha masing-masing yang tentunya mengharapkan harga tiket bisa dijangkau,” tambahnya lagi.
Baca juga: KADIN NTT ke Dili Bahas Bebas Visa dan Buka Jalur Pelayaran Baru
Dampaknya adalah bagi perjalanan wisata, terlebih lagi bagi masyarakat yang ekonominya belum begitu pulih. Sementara untuk perjalanan bisnis dinilainya tidak begitu terpengaruh.
“Karena yang namanya bisnis ya tetap harus terbang berapapun harga tiket itu,” kata dia.
Berbagai maskapai belakangan ini memang diakuinya menurunkan harga tiket pesawat dari NTT ke daerah di luar NTT.
Untuk penerbangan intra NTT sendiri terpantau masih tinggi terpaut di atas Rp 1 juta. Misalnya pada penerbangan kelas ekonomi Kupang – Maumere pada 4 Februari 2023.
“Mungkin ini strategi bisnis maskapai atau apa lah, intinya kita saat ini juga perlu pintar memantau harga tiket,” ujar Abed.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTT Isyak Nuka menyebut tidak banyak maskapai penerbangan yang beroperasi di wilayah Provinsi NTT selain milik Lion Air Group.
Hal ini yang kemudian mempengaruhi harga tiket pesawat apalagi setelah harga avtur melambung tinggi. Saat harga tiket rute penerbangan lain turun pun untuk penerbangan dalam NTT diduga akan sukar mengikuti harga avtur.
“Saya menduga mahalnya harga tiket pesawat intra NTT dibandingkan di luar NTT dikarenakan tidak adanya pesaing dari operator penerbangan yang lain,” sebut Isyak saat dihubungi Kamis 26 Januari 2023.
Baca juga: Kisah Elisabet Ninef Lepas dari Jeratan Jejaring Perdagangan Orang NTT ke Malaysia
Untuk intra NTT memang hanya dikuasai Wings Air yang menerbangi 13 bandara dari total 15 bandara yang ada di NTT.
“Sedangkan Citilink tidak menerbangi ke semua bandara,” lanjutnya.
Kondisi ini memang berbeda dengan lalu lintas udara di luar Provinsi NTT yang mana terdapat banyak sekali operator penerbangan.
“Sehingga ada banyak pilihan bagi konsumen,” ujar Isyak.
Di samping itu persaingan ini membuat operator penerbangan harus kompetitif merebut penumpang. Dengan demikian harga tiket bisa menjadi murah.
“Kalau di suatu wilayah hanya dikuasai satu maskapai, maka ada kecenderungan tiket pesawat menjadi mahal karena dimonopoli satu maskapai saja,” ungkapnya.
Sementara Humas Bandara El Tari Kupang, Devi Budihandayani, menginformasikan adanya 8 Maskapai penerbangan yang saat ini beroperasi di Bandara El Tari Kupang.



